REVENGE AND LOVE

REVENGE AND LOVE
- EPISODE 43 -



Pagi sudah datang mansion benyamin masih terlihat sepi. Alicia juga masih terlihat tidur, ia belum bangun karena semalaman menangis.


Isabella turun dan memakai outer piyama tidurnya, ia ingin melihat-lihat.


Pandangan mata Isabella tertuju pada rangkaian bunga dan ucapan bela sungkawa yang begitu banyak di ruangan tengah dimana malam itu peti Arnold Benyamin berada.


Isabella kemudian keluar dari mansion, sepanjang jalan bahkan mungkin hingga jeluar gerbang mansion terlihat begitu banyak karangan bunga berjajar.


"Kenapa dulu nyonya Laura dan tuan Zafran ketika meninggal tidak ada satu pun karangan bunga." Kata Isabella lirih.


"Setauku Zack melarang ada orang yang mengirimkan bunga bela sungkawa." Kata Harry.


Suara Harry membuat Isabella terkejut dan menoleh.


"Ku pikir kau belum bangun." Kata Isabella.


"Aku baru saja berjalan-jalan." Kata Harry.


Isabella masih melihat-lihat tulisan karangan bunga yang membuatnya penasaran.


"Volkofrich?" Kata Isabella.


"Ya, keluarga Volkofrich mengirim bunga duka cukup banyak ." Sahut Harry.


"Hill School?" Kata Isabella lagi.


"Ya, Perusahaan Benyamin ikut andil dalam pembangunan Hill School." Kata Harry.


"Tidak maksudku, apa Hill School juga pernah mencoba mengirim bunga pada keluarga Volkofrich?" Tanya Isabella.


"Ku kira semua orang yang berhubungan dengan Volkofrich akan memberikan bunga bela sungkawa mereka yang terbaik. Namun, Zack melalui para pengawalnya menolaknya, lagipula saat itu mansion langsung di ambil alih, ku rasa begitu, dan pemilik yang baru langsung mentertibkannya."


Isabella mengangguk pelan.


"Ku rasa aku harus pulang." Kata Isabella masuk lagi ke dalam Mansion.


Harry mengikuti Isabella dan ketika di dalam koridor Harry menahan Isabella lalu memaksa serta mendorong gadis itu hingga punggungnya menempel pada dinding koridor.


"Harry...?!" Kata Isabella terkejut setengahnya bertanya.


Saat itu juga Harry mencium Isabella, ia ingin merasakan bibir Isabella.


Harry mencengkram kedua bahu Isabella hingga gadis itu tidak dapat bergerak meski berulang kali Isabella memberontak dengan kedua sikunya menahan dan mendorong tubuh Harry.


Namun Isabella tidak bisa lepas dari kungkungan Harry.


Saat itu Harry memaksa mencium Isabella, melahap bibir Isabella. Entah apa yang telah merasuki Harry, ia hanya ingin melepaskan sesuatu yang menyiksanya selama ini.


Apalagi dengan kematian sang ayah, Harry hanya selalu memendamnya sendiri, ia tidak memiliki seseorang untuk berbagi, ia tidak bisa menceritakan apa yang sedang ia rasakan pada adiknya, karena ia tidak mau menambah pikiran sang adik.


"Hmmp...!!!" Kata Isabella tidak bisa berteriak karena Harry masih memaksa mencium Isabella. Melahap dan menyesapnya dengan kuat.


Tubuh Harry semakin menekan Isabella, namun Isabella masih mencoba melepaskan dirinya.


Tak berapa lama pintu kamar pun terbuka, Alicia melihat itu dan mengurungkan untuk keluar dari kamar, Alicia kembali menutup pintu dan diam di dalam kamarnya.


Harry sadar bahwa adiknya pasti baru saja melihat, dan ia menghentikannya. Harry berdiri di depan Isabella.


PLAKKK!!!


Isabella menampar pipi Harry dengan air mata yang mengalir. Penuh amarah dan kekesalan. Melampiaskan dengan menampar sekuat tenaga.


Harry menunduk dan mundur. Pipinya sudah merah.


Isabella pergi berlari masuk ke dalam kamar milik Alicia, saat itu Alicia hanya berdiri dan melihat Isabella mengganti pakaian dan mengemasi barangnya.


"Isabella..." Kata Alicia bimbang.


Isabella masih diam sembari memasukkan barang-barangnya dengan kasar ke dalam tas nya.


Dengan nafas terengah karena menahan amarah dan tangis Isabella sesekali menghapus air mata yang tak sengaja jatuh di pipi.


Tanpa sepatah kata Isabella keluar dari kamar Alicia.


Saat itu Harry hanya berdiri dan menunduk di koridor, melihat bagaimana Isabella kecewa padanya dan marah padanya.


Isabella terus berlari dan berlari, kemudian berjalan dengan cepat di jalan aspal menuju gerbang mansion benyamin.


Isabella memeluk kedua lengannya sendiri sembari menangis, ia berjalan dengan cepat hingga angin mengibaskan rambutnya yang tergerai.


Sebuah mobil pun melaju pelan di samping Isabella yang masih berjalan kaki.


"Isabella... Naiklah aku akan mengantarmu." Kata Alicia.


Isabella masih diam dan menangis sembari memeluk kedua lengannya.


"Isabella aku mohon..." Kata Alicia yang juga ingin menangis.


"Aku mohon naiklah, aku akan mengantar mu pulang..." Akhirnya Alicia menangis.


Isabella menghentikan langkah kakinya dan kemudian menarik nafasnya dalam-dalam, dan ia memutuskan untul masuk mobil yang sudah menunggu Isabella.


Alicia kemudian membuka pintu mobil dan Isabella pun masuk.


Dalam perjalanan menuju apartmen, Isabella dan Alicia masih saling diam, ketika Isabella turun pun ia tidak mengatakan apapun pada Alicia.


Kemudian mobil melaju kembali ke mansion, Alicia menangis. Hal seperti ini baru pertama kali dalam persahabatan mereka.


Selama ini mereka tidak pernah bertikai apalagi saling marah, yang ada dalam persahabatan itu hanya lah tawa, saling goda dan menjahili, lalu sama-sama saling menguatkan.


Sesampainya di mansion Alicia berlari mencari Harry untuk meminta penjelasan.


Namun, Alicia tidak menemukan dimana kakaknya berada.


"Dimana Harry?!" Tanya Alicia pada salah satu pengawal.


"Tuan Harry pergi ke perusahaan." Kata sang pengawal.


"Baiklah, dia penyebab persahabatanku dan Isabella hancur dan sekarang dia melarikan diri tanpa memberikan penjelasan apapun!" Teriak Alicia marah.


Sedangkan Isabella yang sampai di apartmennya, ia menaruh tas dan langsung menuju kamar mandi.


Isabella mencuci wajahnya dan meraih beberapa facial foam, lalu menggosokkan wajahnya, setelah membilasnya Isabella meraih sikat gigi dan menyikati giginya cukup lama dengan gerakan kasar.


Isabella mengelap wajahnya dengan handuk dan merebahkan dirinya di atas ranjang.


Isabella hanya diam, tak tahu harus bagaimana. Cinta dan kesetiaannya pada Zack sangat besar, jelas ia tidak mau mengkhianati Zack.


Tak berapa lama pintu apartmen terbuka, terdengar suara nya dan itu pasti Zack.


Isabella pura-pura tidur dan menutup matanya.


Kemudian wangi parfum khas milik Zack menyeruak di hidung Isabella. Perlahan Zack berbaring dan memeluk Isabella yang tidur miring membelakangi pintu.


Zack memeluk Isabella dari belakang, dan mencium tengkuk leher Isabella.


"Aku menelfon kediaman benyamin, katanya kau sudah pulang. Aku sangat khawatir karena kau tidak mengangkat telfonku, dan aku meninggalkan semua pekerjaanku untuk langsung memastikan keadaanmu, syukurlah kau baik-baik saja." Kata Zack memeluk Isabella dari belakang dan mencium kepala Isabella.


Saat itu keadaan masih hening, Isabella tidak menjawab, dan masih menutup mata.


"Apa kau sakit, atau kau sedang tidur?" Tanya Zack.


Isabella masih diam.


"Baiklah, tidur dan istirahat aku akan kembali ke perusahaan, aku sudah tenang jika kau baik-baik saja."


Zach hendak bangkit namun dengan cepat Isabella menahan tangan Zack dan memutar tubuhnya, ia memandangi Zack.


Kemudian Isabella duduk di hadapan Zack.


Tidak pernah di duga oleh Zack sebelumnya, Isabella mencium Zack lebih dulu, gadis itu memejamkan matanya dan mencium Zack dengan lembut. Isabella juga mengarahkan tangan Zack pada dadanya.


~bersambung~