
Zack kemudian menurunkan risleting gaun Isabella sepelan mungkin dan gaun itu pun jatuh di lantai. Kemudian Zack menggendong Isabella masuk ke dalam kamar.
Zack melepaskan semua pakaiannya, dan mulai melakukan permainannya lagi.
Isabella mendesis dan tidak tahu lagi apa yang ada dalam pikirannya, ia menjadi gila, ingin lebih dan lebih ketika ia melepaskan segala rasa ketakutan yang membelenggunya dengan semua kenikmatan sentuhan Zack.
Isabella menyerah dan memilih untuk mempercayakan semua pasa Zack.
"Aku mencintai mu Isabella." Ucap Zack sembari mengecup kening Isabella.
Nafas mereka sudah mulai beradu, panas dan membara.
Zack menuruni setiap inci lekuk tubuh Isabella memberikan kesenangan dan meleburkan ketakutan Isabella bahwa semua akan baik-baik saja.
Zack menyesap setiap jengkal tubuh mulus tanpa cacat milik Isabella, putih dan semulus sutra.
Zack memperlakukan Isabella dengan selembut mungkin, tanpa tekanan dan paksaan.
Kemudian Isabella mendesahhkan suaranya dan menggema di seluruh ruangan apartmen Isabella, ketika Zack mulai menyesap di bawah sana.
Tubuh Isabella menegang dan seoalh tersetrum beberapa menit.
Zack naik dan ingin melakukannya.
"Aku bisa berhenti jika kau ingin berhenti." Bisik Zack di telinga Isabella.
Namun Isabella menggelengkan kepalanya.
"Aku percaya padamu Zack..." Bisik Isabella.
Sebuah tekanan hebat menerobos masuk dan merobek kesucian Isabella yang di jaga selama ini dan jatuh pada kekasihnya, ia memberikannya tanpa paksaan dan atas nama cinta.
Zack sedikit meracau dan menenggelamkan wajahnya pada leher Isabella, merasakan tekanan yang begitu sempit menghimpitnya, dan gairah serta tenaganya seolah siap untuk membombardir Isabella.
Sedangkan Isabella menggeram kesakitan dan mencengkram kedua bahu Zack dengan jemari-jemarinya.
Zack tahu, Isabella akan kesakitan, kemudian ia mencium Isabella dan mencium dua gunung Isabella menyesap dan terus memberikan sentuhan agar Isabella bergairah.
Meski Zack masih diam tidak menggerakkan tubuhnya karena memberikan jeda pada Isabella agar merasa nyaman namun bibirnya masih terus memberikan sentuhan pada Isabella.
"Kenapa mereka semua menyukai sesuatu yang menyakitkan seperti ini." Kata Isabella pelan dan lirih.
Zack yang mendengarnya justru tersenyum dan menahan tawanya.
"Kau belum mencapai titik kesenangan." Bisik Zack di telinga Isabella dan menciumnya.
"Apa kau siap Isabella?" Bisik Zack.
"Siap untuk apa?" Tanya Isabella masih meringis kesakitan.
Perlahan Zack bergerak sembari menciumi Isabella, perlahan pula Isabella mulai merasa nyaman dan dapat merasakan sesuatu getaran yang lain.
Isabella menelan ludahnya antara takut dan benar-benar berkonsentrasi, memang semakin lama Isabella semakin merasalan sesuatu, nafasnya kian cepat seirama dengan Zack yang bergerak lebih cepat.
"Apa kau bisa merasakannya?" Bisik Zack.
"Yaah..." Kata Isabella menggigit bibirnya dengan suara yang lirih.
Mata Isabella sayu, dan ia mulai mencengkram punggung Zack kala Zack semakin mempercepat tubuhnya.
Nafas Isabella sudah memburu, keringat sudah semakin mengucur, desissan mulai keluar dari bibir mungil Isabella tanpa sadar.
Beberapa kalimat rancau pun Isabella ucapkan, seperti sebuah permintaan untuk terus melakukannya dan ia menyukainya.
Isabella hilang kendali seolah ia terbang kelangit ke tujuh. Apartmen di penuhi dengan suara-suara desahaann laki-laki dan perempuan yangvsaling sahut menyahut.
Isabella sudah tidak bisa lagi menahan suaranya, ia melepaskan semuanya, melepaskan seluruh suaranya yang memberikannya kenikmatan hingga ubun-ubunnya terasa sangat panas.
Zack menarik laci meja yang ada di dekat ranjang dan mengambil pengaman lalu menggigit dan memasangnya dengan sebelah tangan dengan cepat. Kemudian ia melanjutkannya kembali.
Zack semakin liar, gerakannya semakin cepat dan cepat hingga akhirnya Isabella memekik dan mereka sampai pada titik bersamaan, Isabella mendesahhkan suaranya dengan sekuat mungkin sembari memeluk dan mengapitkan kaki pada tubuh Zack sedangkan Zack menggeram dan memeluk erat tubuh Isabella, hingga menekan tubuh Isabella.
*****
Pagi yang cerah di bandara pribadi milik keluarga Benyamin.
Sedangkan Isabella tersenyum dengan menahan air mata.
"Hubungi aku setiap waktu, aku pasti akan merindukanmu Alicia."
Akhirnya tangisan Isabella pecah dan mereka berpelukan sangat lama. Persahabatan yang sudah terjalin lama, suka duka di lewati bersama hingga saling merasakan jika mereka sudah seperti saudara kandung membuat Alicia dan juga Isabella memangis sesenggukan.
Setelah itu Alicia berpamitan pada Zack.
"Jangan pernah sakiti Isabella, dan jaga dia, aku akan membunuhmu jika Isabella menangis karenamu." Kata Alicia sesenggukan.
"Aku akan selalu menjaganya." Kata Zack.
Kemudian Alicia berpamitan pada Billy dan juga Milly.
"Terimakasih meski hanya sebentar tapi aku bahagia dengan semua kenangan bersamamu, aku akan segera menghubungi mu saat sudah sampai." Kata Alicia pada Billy.
Alicia menangis dan kemudian Billy memeluk Alicia dan mengelus punggung Alicia pelan, lalu Alicia berpelukan pula dengan Milly.
Yang terakhir Alicia berpamitan dengan Harry, dan tangisannya semakin bertambah. Harry dengan cepat memeluk adiknya.
"Jangan nakal, dan turuti kata Demian, aku akan mengunjungi mu kalau aku tidak sibuk." Kata Harry mencium Alicia di keningnya.
"Aku akan belajar dengan baik dan mengurus perusahaan ayah dengan baik juga, USA akan membuat ku lebih dewasa." Kata Alicia menangis tersedu dalam pelukan kakaknya.
Kemudian Alicia hendak pergi dan sudah sampai di tangga pesawat jet, namun Billy menyusul dan menahan tangan Alicia. Billy mencium bibir Alicia dan mereka saling mencium.
"Tunggu aku Alicia, segera mungkin aku akan menyusulmu." Kata Billy mencium mata sembab Alicia.
"Aku menunggumu." Kata Alicia.
Melihat itu Isabella bertanya pada Milly.
"Apa mereka sudah pacaran?" Tanya Isabella.
"Mungkin begitu, aku juga tidak tahu, tapi beberapa hari ini mereka sangat dekat dan sering pergi bersama." Kata Milly.
"Aku bahagia jika Alicia bahagia." Sahut Isabella.
Kemudian Alicia masuk ke dalam pesawat bersama Demian, dan pintu pun di tutup oleh pramugari.
Pesawat yang Alicia tumpangi menderu dan berjalan hingga kemudian pesawat perlahan terbang tinggi meninggalkan landasan serta meninggalkan Inggris yang penuh dengan kenangan.
Semua pun pulang meninggalkan landasan, Zack memeluk Isabella dengan sebelah tangan dan mereka berjalan bersama.
"Aku akan sibuk beberapa hari ke depan bagaimana jika satu hari ini kita meluangkan waktu untuk bersama." Bisik Zack.
Isabella tersenyum malu.
"Meluangkan waktu? Contohnya?" Pancing Isabella.
"Mungkin melakukan sesuatu seperti semalam?" Bisik Zack dan menggigit pelan cuping Isabella.
"Kau membuatku geli Zack." Bisik Isabella.
Harry yang berjalan di belakang Zack dan juga Isabella, cukup merasa jengah dan memilih untuk menyalip dengan langkah lebar dan cepat, ia ingin secepatnya pergi dan pulang lebih dulu.
Namun, Harry kemudian mengendarai mobilnya ke sebuah cafe tempat biasanya. La Barca Cafe kini sudah menjadi tempat favoritnya.
Harry masuk ke dalam cafe dan melihat Evashya sedang duduk sendirian menikmati latte nya.
"Kenapa dia bolos sekolah." Kata Harry lirih.
Kemudian Harry duduk di depan Evashya dan menatap mata Evashya dengan penuh penekanan.
"Adik Zack Wickley, raja prom, dan murid terbaik Hill School membolos... Kau seharusnya belajar lebih banyak dari sosok kakakmu Evashya." Kata Harry menasehati.
"Aku malas ke sekolah." Kata Evashya.
"Hari ini semua orang sedang memberikan tugas terbaik mereka tentang puisi untuk ayah dan ibu mereka masing-masing." Kata Evashya menitikkan air matanya.
Harry melihat rapuh nya Evashya, dan merasa prihatin seolah ia sedang berhadapan dengan adiknya Alicia, tapi Alicia bukan lah gadis yang lemah. Lalu, apa kah Harry sedang di fase kasihan pada Evashya atau yang lainnya?
~bersambung~