REVENGE AND LOVE

REVENGE AND LOVE
- EPISODE 70 -



AMERIKA


"Mereka sudah menikah?!" Alicia melonjak dari tempatnya duduk.


"Ya, baru saja Stark memberitahu. Tapi sepertinya Isabella masih belum bisa memaafkan Zack."


"Aku tidak percaya Zack bisa senekat itu. Cinta memang buta." Kata Alicia.


"Julian bukan orang biasa, dia sama kuatnya dengan Zack, hanya saja aku merasa Julian jauh lebih berani namun pembawaannya yang tenang mampu menyembunyikan kekejamannya. Berbeda dengan Zack, meski dia bisa lebih berbahaya dan lebih kejam dari pada ayahnya, tapi hanya saat terpojok. Aku kira sudah melatihnya dengan baik."


"Itu tandanya Zack masih memiliki hati nurani, ia akan menunjukkan sisi kejamnya pada saat yang tepat." Sahut Alicia.


"Tapi, seandainya dulu aku lebih keras melatihnya pasti dia tidak memiliki rasa bimbang, dia hanya merasa di liputi rasa bersalah karena gagal menjaga Isabella tapi sebenarnya kejadian dimana Emir menyentuh Isabella adalah di luar dugaan."


"Lalu ada dimana mereka sekarang?" Tanya Alicia dan duduk di tepi ranjang.


"Ada di suatu pulau yang tidak pernah ada di maps."


"Apakah ada sesuatu yang seperti itu?" Tanya Alicia.


"Ada." Dax menangkupkan kedua telapak tangan besar nya di rahang Alicia.


"Kau semakin cantik setelah menikah, apa kau baru selesai perawatan kulit?"


Alicia tertawa geli.


"Aku tidak pernah melakukan semacam itu." Kata Alicia.


"Sebenarnya saat pesta ada yang mengirim karangan bunga." Kata Dax.


"Karangan bunga?"


"Ya, karangan bunga yang cukup besar, tapi para pengawal segera menyingkirkannya."


"Kenapa?"


"Diantaranya terselip bunga yang membuat orang, jika menghirupnya akan berhalusinasi dan keracunan." Kata Dax.


"Siapa yang berani mengirimkan itu, siapa pengirimnya." Alicia berdiri, wajahnya panik dan cemas.


"Belum tahu."


"Kenapa kau tidak memberitahuku?"


"Aku takut kau cemas dan berpikir keras, apalagi saat itu kita semua sedang fokus memikirkan Isabella, lagi pula masalah bunga sudah di selesaikan dengan baik."


"Apa Harry tahu?"


"Mungkin tahu. Saat itu Demian juga ikut membereskannya. Tapi aku belum sempat menanyakan hal ini pada Harry."


Alicia hanya diam.


"Jangan cemas, semua baik-baik saja." Dax memeluk tubuh mungil Alicia.


"Dari pada cemas, bagaimana jika kita mencoba lebih keras agar kita cepat memiliki seorang bayi?" Bisik Dax pada telinga Alicia.


"Mencoba... Lebih keras?" Tanya Alicia, wajahnya seketika memerah.


"Ya, aku tidak akan menahan diri ku kali ini."


"Apa kau selalu menahan diri?" Alicia membayangkan sesuatu yang mengerikan.


"Sangat." Bisik Dax.


"Semua yang pernah kita lakukan kau sebut menahan diri, sampai punggungku terasa akan patah, sampai aku tidak bisa berjalan, kau mengatakan menahan diri?" Wajah Alicia suram.


Dax tersenyum dan mencium bibir mungil Alicia.


"Aku sudah sangat menahannya, kali ini jika kau meminta ampun sekalipun aku tidak akan melepaskanmu, ini hukuman mu karena meminum obat-obatan itu."


Dax mengangkat tubuh Alicia ke atas ranjang dan mulai menekan tubuh kecil itu.


*****


Zack sudah berada di kantornya, beberapa dokumen yang harus ia tanda tangani terbengkalai.


"Bisa kirim semua dokumen ini ke mansion Stark, aku akan menanda tangani nya di sana." Kata Zack sembari mengecek beberapa dokumen.


"Baik tuan."


Namun Zack kemudian berfikir.


"Apa tugasmu terlalu banyak?"


"Tidak tuan, tapi sebenarnya saya sudah menemukan informasi tentang Billy."


"Lalu?"


"Billy baik-baik saja, tidak di bunuh siapapun, bahkan dia berangkat ke kampus seperti biasanya."


Zack mengernyitkan dahi.


"Apa Isabella berhalusinasi? Apa itu khayalan Isabella sendiri?"


"Apa kau sudah periksa dengan benar? Apa Billy pernah tertusuk, atau mendatangi rumah sakit?" Tanya Zack lagi.


"Tidak tuan, saya pastikan tidak ada informasi Billy terkena tusukan, bahkan Billy terlihat sehat."


"Apa sebaiknya kita memanggil psikiater untuk Nona Isabella tuan?"


"Belum saatnya Stark, dia pasti akan mengamuk, dia akan menuduh kita bahwa kita mengira ia gila."


"Sedang apa dia sekarang?" Tanya Zack.


"Info terakhir Nona Isabella berenang di pantai tuan."


"Dia bilang tidak ingin pergi." Zack membatin sembari tersenyum.


"Kita pulang lebih cepat dan bawa dokumen-dokumen ini Stark, bawa segala pekerjaan yang bisa di bawa dan di kerjakan di mansion."


"Di mengerti tuan Zack." Stark menundukkan kepala.


Kemudian Stark keluar dari ruangan kerja Zack, ketika Stark sampai di lantai bawah untuk mengecek dokumen yang harus di bawa ke mansion, seorang cleaning service yang sedang membawa beberapa kopi menggunakan nampan tidak tahu Stark tiba-tiba muncul, membuatnya menabrak Stark dan kopi-kopi itu tumpah di baju Stark.


"Astaga, maafkan saya tuan, maafkan saya."


Gadis itu sangat panik dan ketakutan.


Stark basah kuyup, tentu saja kopi itu panas membuatnya cukup meringis.


Stark melihat name tag seragam cleaning service itu dan namanya adalah Wyne.


"Wyne! Lamban sekali mana kopi nya!" Suara seorang pria memekakkan gendang telinga.


"Kau ini!! Jika semua hal tidak bisa kau lakukan jangan bekerja di sini!!!"


Pria itu keluar dari ruangan rapat yang cukup jauh, namun justru sangat terkejut melihat kopi yang berserakan di lantai, parahnya kopi panas itu sepertinya juga menyiram dan menyebabkan pakaian Stark kotor.


"Astaga!!! Kau ini bagaimana bisa sangat ceroboh!"


Stark melihat id pria itu yang menggantung di lehernya, Stark juga masih diam memperhatikan bagaimana pria di hadapannya mengomel dan mencaci maki Wyne.


Stark memijit pelipisnya.


"Bisa anda diam dulu, telinga dan kepala saya sakit mendengar suara anda yang seperti piring pecah." Kata Stark dingin.


"Ma... Maafkan saya tuan, saya hanya memberikan pelajaran pada gadis ini."


"Namamu Wyne?"


Wyne mengangguk.


"Bereskan dulu lantai dan semua yang berantakan karena kopi ini, lalu temui saya di ruangan." Kata Stark.


"Ba... Baik tuan."


Kemudian Stark pergi hendak kembali naik ke atas.


"Tu... Tuan ma maaf tapi, saya tidak tahu ruangan anda dimana."


Stark berhenti.


"Di samping ruangan presdir." Kata Stark dan pergi.


Setelah Wyne membereskan semua kekacauan itu, seperti perintah Stark ia pun mendatangi ruangan yang di minta.


Namun pemandangan langka langsung tertuju pada matanya.


"Astaga!!!" Wyne menutup matanya dengan cepat.


"Apa kau tidak bisa mengetuk pintu lebih dulu." Kata Stark.


Saat itu Stark melepaskan pakaiannya dan hanya memakai celana panjangnya.


Tubuh berotot six pack terpampang begitu kuat dan seperti patung yunani yang sempurna.


"Sa... Saya pikir ini masih ruangan umum dan bukan ruangan anda." Kata Wyne tergagap.


"Ini ruangan pribadi milikku, di lantai ini memang hanya ada ruangan ku dan milik presdir."


Stark kemudian mengganti pakaiannya dengan kemeja yang baru, namun celana nya juga basah.


"Berputar." Kata Stark.


"A... Apa?"


"Putar badanmu menghadap pintu." Perintah Stark.


"Ba... Baik."


Stark hendak melepaskan celananya, suara ikat pinggang yang hendak ia lepaskan berbunyi cukup keras. Stark menghentikannya.


"Kau keluar dulu, masuk setelah ku panggil." Perintah Stark.


Wyne keluar dengan terburu-buru hingga pintu yang ia buka membentur dahinya.


Setelah Stark berganti pakaian, ia memanggil Wyne untuk masuk.


Wajah malu Wyne tidak bisa ia sembunyikan, wajahnya jelas merona merah. Berulang kali ia ingin menepis pikirannya, namun tubuh pria di hadapannya telah memenuhi segala otak nya.


Ingatan bagaimana otot-otot perut itu membentuk sempurna terus saja mengelilinginya dan membuat jantungnya berdebar-debar sangat kuat.


~bersambung~