
Seperti dugaan Isabella, sebuah gumpalan kertas mengenai kepalanya berulang kali, namun Isabella hanya diam dan tak menengok, Isabella terus menunduk dan acuh pada kertas-kertas gumpalan yang mengenainya, ia fokus mengerjakan ujiannya.
"Mr.Benny saya ijin ke toilet." Kata Sezi.
"Silahkan." Kemudian Mr.Benny menutup matanya kembali.
Sezi berdiri dan berjalan pelan, dengan kekesalan yang memuncak, telapak tangan Sezi menepuk kasar kepala Isabella hingga kepala Isabella terpental maju.
Isabella meremas pensilnya dan menutup mata, ia sangat geram ingin sekali rasanya ia menjambak Sezi dan menariknya hingga keluar kelas lalu memukul wajah setan itu.
Namun niat itu ia urungkan hanya karena seberkas cahaya mimpi yang mungkin bisa menyelamatkan hidupnya. Isabella memimpikan sebuah gelar yang akan membawanya menuju pekerjaan yang lebih baik di sebuah perusahaan.
Setelah kembali dari toilet Sezi memberikan catatan kecil pada Isabella.
" Whore!!! Whore!!! Dasar Jalangg rendahan tidak punya malu!!! Mati saja kau!!! Ambil pisau dan iris nadi mu sendiri atau jika kau bertemu denganku, kau tidak akan tahu bagaimana aku akan menyiksamu!!!"
Surat ancaman itu di baca dengan tangan gemetar oleh Isabella, kemudian Isabella meremasnya dan melihat ke arah Sezi yang sudah duduk kembali di belakang.
Sezi memberikan kode ibu jarinya mengiris pada lehernya dan Fay serta Milly tersenyum sengit.
Isabella hanya diam dan melanjutkan mengerjakan soal-soal ujiannya hingga bel sekolah berbunyi pertanda jam sekolah sudah usai, dan kertas-kertas ujian telah di tarik oleh sang guru.
Sezi beserta teman-temannya mendatangi Isabella.
"Isabella yang manis, pintar dan sangat mengagumkan, teruskan saja Isabella, aku akan lihat kali ini kau menduduki peringkat berapa, dan aku akan sangat senang memberikanmu hadiah."
Sezi membelai rambut Isabella, namun Isabella menghindarinya.
Kemudian Fay serta Milly, menyedekapkan tangan dan menatap nanar.
"Sebelum terlambat bunuh diri saja Isabella...." Desahh Fay pada Isabella tepat di depan wajah Isabella.
"Besiaplah Isabella, dan berhati-hatilah..." Sahut Milly.
Kemudian mereka pergi meninggalkan kelas dengan melenggak lenggokan pinggul.
Isabella menutup wajahnya dengan telapak tangan dimana sikunya bertumpu di atas meja, kemudian telapak tangan itu menyibakkan rambut panjang yang menutupi agar tergerai ke belakang.
"Aku lelah sekali dengan semua ini." Sahut Isabella.
Tak berapa lama Zack hendak masuk namun ponselnya bergetar dan ia mengangkatnya.
"Apa kau tidak akan pulang? Aku akan pulang lebih dulu." Sahut Evashya dengan sedikit ketus.
"Aku sedang berjalan menuju mobil " Sahut Zack.
Langkah kaki yang hampir menyentuh ujung ruangan pun perlahan mundur, Zack pergi meninggalkan Isabella yang masih dalam keheningan serta lelah hatinya.
Isabella kemudian keluar dengan menjinjing tas sekolahnya.
"Apa aku bisa melalui ini..." Keluh Isabella.
Kemudian Isabella bersandar di dinding koridor, melihat kebawah dimana para siswa dan siswi sudah di jemput oleh mobil mewah jemputan mereka.
"Beruntung sekali mereka lahir dari keluarga yang kaya." Sahut Isabella.
"Siapa yang kaya?"
Tiba-tiba suara seorang pria mengejutkan Isabella dan kemudian Isabella berbalik memutar tubuhnya dengan terkejut.
Membuat kaki Isabella yang terkilir cukup menegang karena tertarik.
"Harry..."
Suara Isabella lemah karena ia hampir terjatuh, namun Harry segera menangkap Isabella.
"Hati-hati... Kenapa kau selalu ingin aku peluk?" Kata Harry.
"Apa?"
"Lupakan." Sahut Harry.
"Aku tidak memintamu untuk menagkapku, dan untuk masalah kau menggendongku aku juga tidak pernah mrmintanya." Kata Isabella.
"Aku hanya bercanda Isabella. Kenapa kau sensitif sekali."
Isabella membenarkan tubuhnya agar berdiri dengan tegak.
"Maafkan aku Harry, mood ku sedang hancur hari ini."
"Ada apa? Kau bisa ceritakan padaku. Tenang saja, aku lihat Zack sudah pulang bersama Evashya."
Isabella memandang Harry menunjukkan wajah terkejut.
"Mungkin dia sibuk, atau marah denganku, terakhir kali aku berteriak padanya, baru kali ini aku lepas kontrol."
"Kenapa?"
"Bukan apa-apa Harry. Aku harus pulang."
"Tunggu dulu." Harry menahan tangan Isabella.
"Biar ku antar pulang." Kata Harry
"Tidak perlu Harry, aku baik-baik saja, apartmenku ada di dekat sini.
Isabella pun pergi meninggalkan Harry.
******
Mansion Benyamin....
Harry pulang dari sekolah dan berjalan dengan cepat untuk langsung menemui Isyana yang ada di dalam kamar bersama guru pembimbingnya.
Isyana sedang mengejar ijazah yang tidak pernah ia dapatkan.
"Bisa kau tinggalkan kami?" Kata Harry.
"Baik, saya akan datang kembali besok." Kata sang guru.
"Tanda tangani itu." Sahut Harry memberikan dokumen ke atas meja tepat di depan Isyana.
"Apa ini?" Tanya Isyana.
"Demian akan mengurus itu, kau akan melepaskan nama Isyana dan menggunakan nama Alicia saat kau sudah mendapat Ijazah mu dan melanjutkan pendidikan ke sekolah umum." Kata Harry.
Isyana membacanya dan sedikit meremas dokumen tersebut.
"Pikirkan itu." Kata Harry.
Kemudian Harry hendak pergi.
"Aku minta ponsel baru dan aku akan tanda tangani ini." Kata Isyana.
"Setuju."
Harry kemudian keluar dan pergi untuk melihat ayahnya yang masih terbaring koma, ia menaruh tas nya dan melihat beberapa perawat sedang mencoba merubah posisi Arnold Benyamin yang tertidur menjadi miring.
Beberapa perawat selalu merubah posisi tidur Arnold 2 jam sekali untuk meminimalisir Ulkus dekubitus atau pressure ulcer atau bed sores
Itu adalah luka akibat penekanan yang lama pada kulit karena berbaring terus-menerus. Luka paling sering muncul pada area kulit yang tertekan terus menerus.
Ulkus dekubitus berisiko terjadi pada orang yang menderita suatu penyakit hingga menyebabkan gerak tubuhnya terbatas, apalagi Arnold Benyami hanya bisa berbaring terus menerus karena koma yang di deritanya, ia hanya berada di tempat tidur.
Setelah puas melihatnya, Harry keluar dan memberitahu pada Demian untuk memberikan ponsel baru pada Alicia.
"Apa Nona Alicia menerimanya tuan?" Tanya Demian.
"Dia menerimannya dengan syarat meminta ponsel baru." Sahut Harry.
"Hanya itu saja?" Tanya Demian.
"Ya."
Tak butuh waktu lama kemudian Demian memberikan sebuah ponsel baru pada Isyana.
"Nona Alicia." Sapa Demian.
Isyana saat itu sedang duduk di depan cermin riasnya dan menandatangani surat dokument tersebut.
"Ini ponsel anda, apa dokumennya sudah anda tanda tangani?" Tanya Demian.
"Sudah." Kata Isyana sembari menyerahkan dokument tersebut.
"Ada satu permintaan lagi." Kata Isyana.
"Silahkan Nona saya akan menyampaikan permintaan anda pada tuan Harry."
"Katakan pada Harry, bahwa aku ingin bersekolah di Hill School." Kata Isyana.
"Baik Nona Alicia, akan saya sampaikan dengan segera." Kata Demian.
Saat itu juga Demian pergi dan mengurus segala dokumen yang sudah Isyana tanda tangani. Dokumen itu nantinya akan mempermudah jalan Isyana untuk ke depannya, apalagi jika ia menyematkan nama Benyamin di belakang namanya, setelah Isyana memakai nama Alicia Benyamin di ijazahnya, di pastikan hidupnya akan lebih mudah berbaur di lingkungan.
~bersambung~