
Beberapa bulan berlalu...
Sudah beberapa bulan berlangsung dengan penyiksaan bagi Zack, tanpa hasil yang memuaskan dan tanpa hasil yang Zack harapkan. Kali ini Zack benar-benar tidak dapat menemukan dimana Isabella.
Zack berusaha dengan keras namun yang ia dapatkan selalu kekosongan.
Saat beberapa hari setelah Isabella pergi, ia menghubungi pihak kampus dan ternyata Isabella telah mengundurkan diri dari kampus.
Zack merasa sangat terpukul, ia merasa dirinya lah penyebab masa depan Isabella benar-benar hancur. Isabella dengan suka rela mundur untuk tidak melanjutkan pendidikannya, itu semua karena kesakitan yang Zack berikan begitu dalam di mata Isabella.
Zack meninggalkannya ketika ia benar-benar butuh sandaran dan butih seseorang untuk mensuport mentalnya.
Bahkan kini, Zack tidak berani memikirkan kemungkinan paling buruk, setiap hari ia memastikan beberapa berita tentang kematian, ia takut, murung, sedih dan tak berdaya.
Sampai pada suatu hari, kabar bahwa Isabella pergi pun akhirnya meluas.
Tidak ada yang tahu kemana Isabella pergi.
Alicia bahkan beberapa kali menghubungi Zack untuk meminta penjelasan dari Zack. Namun Zack selalu mengatakan jika ia akan menemukan Isabella dengan segera. Semua itu membuat Alicia kesal, karena tidak ada perkembangan apapun.
Sedangkan Alicia menghubungi Harry meminta bahwa kakaknya harus ikut mencari Isabella.
Harry mengiyakannya. Namun juga tidak ada yang memberikan kabar baik pada Alicia.
Di mansion Volkofrich, Zack benar-benar merasa kepalanya hendak pecak dan menekan pelipisnya.
"Aku sudah memeriksa semua cctv, semua pengawal juga ikut mencari tapi tidak menemukan di mana Isabella." Kata Zack dalam hati sembari meremas kepalanya di mejanya.
"Aku tahu kau benar-benar marah Isabella, tapi tidak seharusnya kau keluar dari batas seperti ini, tapi aku juga bertindak terlalu gegabah. Semua adalah kesalahanku."
Tak berapa lama ponsel Zack bergetar.
"Katakan."
"Nona Isabella tidak bisa di lacak tuan."
"Bagaimana bisa?!"
"Tapi, masih belum di pastikan sampai hari ini, apakah Nona Isabella masih hidup atau mati, di inggris atau di negara lain."
"Seberapa kuat orang yang sedang menyembunyikan Isabella! Seperti nya ada yang sengaja menyembunyikannya. Cari tahu siapa dalangnya!"
Zack menutup panggilan dan duduk kembali dengan lemas.
Kali ini Zack benar-benar hancur dan menyesali semuanya.
"Sepertinya tidak akan menyangkut Emir Khan, dia sudah dipastikan mati dan tubuh nya di buang ke laut." Kata Zack dalam hati.
Tak terasa Zack tertidur di kursinya, hingga seorang pelayan yang sedang membersihkan ruangannya membuat Zack terbangun.
"Tuan, maaf saya membangunkan anda."
"Tidak apa-apa." Kata Zack acuh tak acuh dan berjalan keluar.
Saat Zack keluar dari ruangan kerjanya, Stark sudah berdiri di depan pintu.
"Untuk apa kau ke sini."
"Untuk membantu anda tuan."
"Apa kepala mu baru saja terbentur." Kata Zack acuh tanpa memperdulikan Stark
Sedangkan Stark mengikuti Zack menaiki tangga untuk kembali ke dalam kamarnya.
"Awalnya memang Tuan Zafran berniat agar saya berhenti melayani anda, tapi saya tidak bisa hanya berdiam diri di mansion baru dan membantu membawakan keranjang bunga Nona Laura serta Nona Evashya sembari memakai topi besar yang sama dengan mereka."
Zack menyeringaikan sudut bibirnya dan melepaskan t-shirt hendak mandi.
"Itu lebih cocok dengan sikap dingin dam acuhmu, kau bisa membuat dirimu lebih lembut dengan memegang dan memetik bunga."
Tubuh kekar Zack terekspose sempurna.
"Lagipula, bukankah itu lebih menyenangkan berkumpul dengan para wanita lalu kalian akan minum teh sembari merangkai bunga, lebih banyak bersantai tanpa memikirkan masalah?" Ejek Zack.
Stark menelan ludahnya, tidak mungkin ia memberikan alasan lebih lanjut jika tuan Zafran lah yang menyuruhnya untuk tetap tinggal dan membiarkan anaknya bekerja sendirian.
"Tuan Zafran akan memenggal kepala saya jika saya berkata yang sebenarnya." Kata Stark
"Yang sebenarnya?" Zack menyipitkan matanya.
"Jika saya harus melatih anda dengan keras." kata Stark ragu-ragu.
Zack melemparkan t-shirtnya dan membuangnya sembarang lalu menuju kamar mandi.
"Aku harus kembali ke inggris Dax." Kata Alicia mengepak barangnya.
"Apa?" Tanya Dax.
"Isabella menghilang, aku menghubungi Zack berulang kali untuk meminta penjelasan tapi dia tidak mau menjelaskannya secara rinci, sedangkan kakakku Harry sedang benar-benar sibuk."
Dax berfikir sesaat.
"Aku akan menikahimu Alicia."
"Aku tahu Dax tapi berikan aku waktu Harry tidak akan begitu saja mengijinkanku, tolong mengertilah, apalagi Isabella menghilang, dia sahabat terbaikku, dan aku tidak bisa berkonsentrasi apapun di sini." Alicia mengepak barang dengan cukup kesal.
Bahkan setelah Alicia mendengar Isabella menghilang, ia tidak selera membahas percintaannya yang rumit, kali ini Alicia hanya ingin sahabatnya kembali.
"Tidak... Alicia... Ini bisa memancing sahabatmu keluar." Kata Dax.
"Kita bisa mencapai keinginan kita, namun juga bisa menjadikannya tameng untuk memancing Isabella keluar."
"Kita tidak pernah tahu Dax, sekarang Isabella bersembunyi atau di culik." Kata Alicia melotot.
"Justru itu, kalian sangat dekat, tidak ada yang bisa melacaknya, jika dia tidak datang dalam pernikahan kita dengan kata lain dia pasti di culik dan di kurung, dan kita harus dengan cepat menyelamatkannya. Namun jika datang, itu akan bagus bukan, setidaknya dia baik-baik saja."
"Apa ikatan kalian kuat?"
"Sangat kuat, kita seperti saudara." Kata Alicia mendesah dan duduk di tepi ranjang kemudian menutup matanya.
Dax menggosok bahu Alicia dan memeluk Alicia.
"Tapi bagaimana jika ini tidak berhasil."
"Setidak nya kita bisa menikah Alicia."
"Dengan mengambil keuntungan dari kesusahan sahabatku sendiri? Aku seperti pencuri." Kata Alicia.
"Zack dan Stark bahkan tidak bisa melacaknya, apa kita hanya berpangku tangan dan menunggu apa yang akan terjadi hingga Isabella hanya menyisakan sebuah nama yang kita tak pernah tahu dia masih hidup atau sudah mati?"
"Oh ya Tuhan Dax, aku tidak mau kau mengatakan itu! Aku bahkan menepis semua pikiran buruk!" Kata Alicia menggeram.
"Baiklah maafkan aku."
"Jika kau setuju kita akan bilang pada Harry, aku akan menghadapinya." Kata Dax.
"Jika kita akan menikah dengan alasan Isabella?"
"Itu salah satunya tapi aku juga tidak memungkiri jika aku akan mengatakan alasanku yang sebenarnya."
"Alasan yang sebenarnya?"
"Bahwa aku sangat mencintaimu, cepat atau lambat aku tetap akan berhadapan dengan kakakmu, Harry." Kata Dax.
"Jadi, kau akan ikut pulang denganku?"
Dax mengangguk pelan.
Alicia merasa aman dan tenang, ia membenamkan dirinya dalam pelukan Dax.
Penerbangan berlangsung sempurna dan mendarat dengan selamat di landasan pribadi benyamin. Pesawat jet pribadi milik Dax yang begitu mewah membuat beberapa petugas dan pengawal berdecak dan memberikan kabar pada Harry jika Alicia sudah kembali.
Dax serta Alicia sudah berada di mansion, mereka duduk berdampingan di depan Harry yang duduk begitu dingin dengan menyedekapkan tangan, ia melihat Alicia pulang dengan Dax.
Apalagi di hadapan matanya Dax dengan terang-terangan menggenggam tangan Alicia dengan kedua tangannya dan menaruhnya di depan perutnya.
Harry melihat dengan tatapan sinis, acuh dan dingin.
Sebelum pembicaraan di mulai para pengawal dan pelayan sedang mengeluarkan dan membereskan semua koper milik Alicia serta Dax.
"Jangan ada yang menyentuh koper." Kata Harry dingin.
Semua pelayan mundur, mengerti dengan suasana yang begitu tenang namun begitu dingin.
"Apa yang membawamu kemari dengan segala sikap dan kepameran itu, apa kalian sedang ingin memamerkan padaku."
"Kakak..."
Sebelum Alicia meneruskan Dax memotongnya.
"Ijinkan aku menikahi adikmu."
~bersambung~