
"Zack, ayah hanya bisa membantumu dari belakang. Kau tahu, ayah tidak bisa lagi membantumu terang-terangan. Semua tahu jika ayah dan ibumu sudah meninggal, akan aneh dan akan menjadi pembicaraan jika mereka mengetahui kami masih hidup."
"Aku mengerti ayah."
"Tentang Mafia Hitam, ayah akan mencari tahu apakah mereka ada hubungannya dengan hilangnya Isabella."
Dax dan juga Zack mengangguk.
"Sekarang, aku mungkin lebih yakin jika Isabella di culik, awalnya memang Isabella pergi dengan sendirinya dari apartmen, namun pada akhirnya dia hilang." Sahut Dax.
"Aku juga merasa begitu, hilangnya Isabella sangat aneh, terlalu bersih, jika hanya Isabella yang bersembunyi sampai sekecil lubang pun kita pasti akan menemukannya, tapi jika di belakangnya ada seseorang yang ikut campur, sudah di pastikan ada yang menyembunyikan Isabella." Kata Zafran.
"Aku akan secepat mungkin mengirimkan kabar." Sambung Zafran.
"Ada lagi yang ingin ku sampaikan..." Kata Dax.
Semua mendengarkan.
"Aku sudah melamar Alicia."
Zafran cukup tersentak.
Zack diam seribu bahasa.
"Aku benar-benar minta maaf, tapi aku berharap kalian semua bisa menerima Alicia sebagai istriku nantinya."
"Apa Harry menyetujuinya?" Tanya Zack.
"Belum, tapi ku rasa akan ada kesepakatan antara kami berdua."
"Kesepakatan politik?" Tanya Zafran.
"Entahlah, dia akan menghubungiku jika ada sesuatu yang baik." Kata Dax.
"Aku harap kau bisa bahagia Dax, aku pasti akan merestui apapun keputusanmu, tapi kau tahu Dax aku dan Laura pasti tidak bisa datang."
"Hanya dengan restu kalian aku sudah lebih tenang."
"Aku akan meyakinkan Laura, dia juga tudak bisa melarangmu, jika itu menyangkut kebahagiaanmu Dax."
Zafran tersenyum begitu juga Dax dan Zack.
*****
Pagi yang cukup cerah, Dax sudah kembali di apartmen nya yang sudah sangat lama ia tinggalkan. Meski begitu para pelayan tetap datang membersihkannya.
Drrt Drrt Drrt
Ponsel Dax bergetar.
"Hm?"
"Apa Harry sudah menghubungi mu Dax?" Suara renyah yang terdengar ringan memenuhi telinga Dax.
"Ada apa Alicia."
"Cepatlah kemari."
Dax kemudian bergegas turun dari ranjang, ia masuk ke dalam kamar mandi. Dengan secepat kilat Dax bersiap, dan menyambar kunci mobil.
Tak berapa lama mobil mewah milik Dax berdecit dan terparkir di halaman mansion benyamin.
Alicia berlari dan menghamburkan dirinya ke dalam pelukan Dax.
"Ada apa! Kenapa kau menangis Alicia." Kata Dax cemas.
Alicia masih sesenggukan dan memeluk tubuh kekar dan tubuh besar Dax.
"Temuilah Harry Dax."
Kemudian Dax menggandeng tangan Alicia dan menemui Harry.
Saat itu Harry sedang menyelesaikan sarapan paginya, di sampingnya ada Demian yang menunduk melihat kedatangan Dax.
"Mau sarapan bersama?" Tanya Harry.
"Kenapa Alicia menangis."
"Dia tidak memberitahumu?" Tanya Harry.
Dax menahan amarahnya, ia tidak akan lagi memperlakukan Harry seperti waktu sebelumnya, kali ini jika ada penolakan bahkan Harry membuat Alicia menangis kepalan tangan dan tinju Dax sudah siap meremukkan segala tulang rusuk milik Harry.
Bahkan selamanya Harry akan menyesal telah membuat Dax marah.
"Aku merestui pernikahan kalian." Kata Harry.
"Apa?"
"Kapan kalian akan menikah." Kata Harry melihat pada Dax yang masih berdiri.
Dax tidak bisa menyembunyikan kebahagiannya dan melihat pada Alicia yang memandanginya dari kejauhan.
"Kepala mu baik-baik saja?" Tanya Dax.
"Aku terjatuh saat tidur, kurasa benturannya cukup keras, anggap saja aku sedang hilang ingatan." Kata Harry mengelap mulutnya memakai serbet bersih.
Dax berlari menuju Alicia dan mengendongnya hingga memutar. Seolah Alicia terbang saat Dax menaikkan tubuh Alicia.
"Mereka sangat kasmaran." Kata Harry.
Seketika Harry melenguhkan nafanya yang seolah sengol, ia mengingat bagaimana jika dirinya bisa menikahi Isabella juga, pastilah ia adalah pria yang jauh lebih bahagia dari pria-pria manapun.
"Apa sudah ada kabar tentang Mafia Hitam?" Tanya Harry.
"Belum tuan, maafkan saya." Kata Demian.
Kemudian Harry berdiri dan mendatangi pasangan yang sedang berbahagia.
"Kita akan mengadakan pestanya semeriah mungkin, sebar berita dengan sangat banyak, pasti Isabella akan tahu." Kata Harry.
"Semoga Isabella datang." Kata Alicia menggenggam kedua tangannya di dada.
"Terimakasih Harry." Alicia memeluk Harry.
Hari persiapan pernikahan Dax serta Alicia cukup sibuk, berita telah tersebar di mana-mana, lokasi dan tempatnya pun akan diamankan dengan sangat ketat.
Hingga tibalah hari bahagia itu.
Alicia duduk di depan cermin dengan wajah berseri, pakaian pernikahan yang berwarna putih dan memperlihatkan leher jenjang nya yang mulus dan putih.
"Nona, ada bunga untuk anda, katanya harus di serahkan langsung." Kata sang pengawal.
"Dari siapa?"
"Maafkan saya Nona, saya tidak tahu pengirimnya."
Kemudian Alicia memandangi bunga tersebut, ada secarik kertas terselip di dalamnya.
"Selamat atas pernikahanmu Alicia, aku bahagia jika kau juga bahagia, semoga aku bisa melangkah maju meski tanpa dirimu, kenangan dan wajahmu akan selalu ada di hatiku. Maafkan aku tidak bisa hadir." Billy~
Alicia kemudian melipat kembali kertas ucapan itu.
Hari pernikahan pun tiba, Harry menuntun Alicia berjalan dengan lamban, di atas altar Dax sudah menunggu.
Wajah kagum terlukis jelas pada Dax.
Harry menitikkan air matanya kala ia menyerahkan tangan kecil adiknya pada pria yang akan menjaga Alicia di kemudian hari.
Zack duduk paling depan.
Harry kemudian mundur dan berdiri di samping Zack.
Pernikahan cukup cepat dan khidmat.
Resepsi pun berlangsung dengan nuansa outdoor, rerumputan hijau yang segar menjadikan resepsi menjadi lebih indah.
Semua menikmatinya, dan saling menyapa satu sama lain.
Dax kedatangan tamu yang kemudian menyapanya, tamu cukup banyak membuat Alicia tidak terlalu fokus karena sedang memperhatikan beberapa teman-teman Dax berbicara padanya.
Kemudian seseorang melewatinya dan menyelipkan sebuah kertas di tangan Alicia, ia yang secara tiba-tiba tersentak lalu membuka kertas lipatan itu.
"Selamat atas pernikahanmu Alicia, bahagia selalu. Aku menyayangimu."
"Isabella..." Kata Alicia lirih.
Alicia menengok kemana dan siapa yang sudah memberinya.
Alicia hanya mengingat sekilas jika wanita itu melewatinya memakai gaun putih yang ramping dan memakai topi yang cukup besar.
"Dax, Isabella datang." Bisik Alicia.
Dax kemudian terdiam, dan berbicara pada teman-temannya jika ia harus pergi.
Dax memanggil beberapa pengawal dengan jentikan jarinya, lalu menggandeng tangan Alicia ke ruangan yang cukup tenang.
Harry dan juga Zack sudah menyusul. Mereka berdiskusi.
Sedangkan Demian serta Stark berdiri di dekat pintu mengawasi.
"Aku yakin itu Isabella, ini jelas tulisan tangan Isabella." Kata Alicia.
"Pengawal sudah bergerak mencari, sebaiknya kalian kembali ke sana, tidak baik pasangan pengantin meninggalkan pesta, aku akan mencarinya." Kata Zack.
"Aku dan Demian akan membantu."
Zack mengangguk.
Kemudian semua berpencar, sedangkan Dax dan Alicia kembali menyapa tamu dengan perasaan yang cemas.
Zack berlari masuk dan memeriksa semua ruangan gedung. Stark juga mengawal Zack sembari memeriksa.
"Kita berpencar Stark." Kata Zack kemudian.
"Tapi tuan..."
"Lakukan sekarang!" Perintah Zack dan pergi.
~bersambung~