
Amerika...
Alicia telah selesai melakukan rapat dengan para petinggi perusahaan, dan kini saat nya ia harus pergi ke kampus untuk bertemu dengan profesor yang akan mementorinya secara pribadi.
Tapi, di tengah perjalanan koridor dan Demian sudah menekan lift, lalu Alicia siap masuk lift, seorang assisten memanggilnya.
"Nona... Nona Alicia, tunggu sebentar!!!" Teriak sang asissten.
"Ada apa?" Tanya Alicia mengurungkan niatnya dan keluar dari lift.
"Ini sangat mendesak Nona, maafkan saya tapi tiba-tiba seseorang yang menangani salah satu proyek hotel milik kita meminta untuk bertemu dengan pemimpin perusahaan Dream Sky yang baru." kata Asissten itu.
Alicia berfikir bagaimana ia bisa melakukan dua pekerjaan sekaligus, profesor pasti sudah menunggu.
"Demian, tolong temui profesor dan katakan dengan segala hormatku jika aku tidak bisa kesana, dan berikan beberapa bingkisan." Kata Alicia.
"Tapi, saya tidak bisa meninggalkan anda dan membiarkan anda pergi sendiri." Kata Demian.
"Berikan hadiah apapun yang dia sukai, kau ahlinya tentang mencari tahu latar belakang orang lain bukan." Bantah Alicia.
Demian menarik nafasnya dan sedikit merasa bersalah tentang dulu ia mencari tahu asal usul Alicia.
"Baik Nona. Saya permisi." Kata Demian menyerah.
"Kemana aku harus menemuinya?" Tanya Alicia.
"Ini alamat perusahaannya Nona." Sang assisten memberikan catatan kecil yang sudah ia tulis alamatnya.
Kemudian Alicia turun dan mengendarai mobilnya untuk menuju perusahaan yang di maksud.
Setelah sampai, Alicia begitu kagum dan takjub, bagaimana perusahaan itu sangat megah dan begitu sempurna bangunannya, sangat memiliki nilai jual tinggi dengan segala arsitektur yang rumit namun indah.
Alicia kemudian menemui sang resepsionis.
"Anda pimpinan dari perusahaan Dream Sky?" Tanya sang resepsionis.
"Ya, saya pemilik perusahaan itu, dan atasan anda meminta bertemu." Kata Alicia.
"Baik, anda bisa menunggu di ruangannya karena beliau masih rapat. Mari saya antar." Kata sang resepsionis.
Kemudian Alicia menaiki lift kaca yang begitu mewah dan naik terus naik hingga menuju ke lantai paling tinggi, semua pemandangan tersuguh dan terlihat dari lift tersebut, begitu indah.
Alicia berdecak kagum, dengan bangunan perusahaan yang begitu tidak bisa lagi di jabarkan dengan kalimat.
Lift kemudian terbuka, sebuah ruangan yang begitu luas terpampang di depan mata Alicia, ruangan itu berisi tentang cukup banyak kotak-kotak kaca besar yang berisi bangunan atau proyek-proyek seperti miniatur hotel atau apartmen dan bangunan-bangunan lain.
Kemudian ada satu pintu besar yang kokoh berada di ujung, sang resepsionis terus berjalan dan Alicia mengekor di belakangnya.
Pintu di buka dan sang resepsionis pun mempersilahkan Alicia.
"Silahkan anda menunggu di sini Nona." Kata sang resepsionis dengan tersenyum.
"Terimakasih banyak.... Anna?" Kata Alicia melihat name tag di bahu kiri resepsionis tersebut.
"Sama-sama.... Apa anda perlu minum atau sesuatu?" Tanya Anna tersenyum.
"Tidak terimakasih, saya akan menunggu di sini." Kata Alicia.
"Baiklah saya permisi."
Anna kemudian pergi dan menutup pintu.
Alicia duduk di atas sofa berwarna hitam , melihat ruangan itu juga begitu luas.
"Pimpinan perusahaan ini cukup aneh, hampir seluruh lantai paling atas adalah miliknya, apa dia tidak takut berada di sini sendirian." Kata Alicia.
Kemudian Alicia berdiri melihat-lihat foto-foto beberapa bangunan.
Namun ketika ia melihat-lihat, ada sebuah foto bangunan apartmen mewah yang tidak asing dari ingatan dan matanya.
Alicia mendekati foto tersebut, dan memicingkan mata lalu menyentuhnya, ia melihat sebuah tulisan latin di pojok bawah foto tersebut.
"Pierre Tower...." Kata Alicia lirih.
Alicia berfikir ada berapa apartmen di Inggris yang memiliki nama Pierre Tower.
"Pasti ini hanya kebetulan." Kata Alicia yang saat itu tubuhnya mulai dingin.
Alicia meraih ponselnya dati tas dan membuka website siapa nama pemimpin perusahaan D'Knedy.
Tubuhnya lemas seketika saat mengetahui itu adalah Dax Kennedy.
Alicia memutari ruangan luas itu dan melihat ke arah meja kerja, ia menaruh kembali ponselnya ke dalam tas.
Perlahan ia berjalan dan mengambil sebuah bingkai foto, dan kemudian membaliknya lalu melihatnya.
Alicia terperangah, dan menaruh kembali foto itu dengan gemetar, namun foto itu terjatuh, bahkan kakinya tidak kuat untuk berdiri lagi.
Itu adalah foto yang sama yang ada di dalam apartmen Pierre Tower, seorang pria dengan menggengdong anak laki-laki dan juga perempuan.
Alicia kenal dan hafal betul dengan foto tersebut, foto yang sama. Anak kecil yang ada di dalam foto itu adalah Zack dan juga Evashya.
"Dax..." Kata Alicia lirih.
Jantungnya bagai misil yang siap di tembakkan lalu terlepas dari tubuhnya.
Alicia berpegangan pada tepian meja, kepalanya terasa pusing dan berputar, ia tergopoh mengambil tas nya yang ada di atas sofa.
Air matanya hampir menetes dan tubuhnya benar-benar gemetar, ia bersiap pergi namun kakinya terkilir karena heels yang ia pakai cukup tinggi dan tubuhnya goyah hampir terjatuh.
"Aku harus segera pergi..." Kata Alicia lemah.
Alicia berjuang untuk bisa berdiri, setelah tubuhnya kuat dan pada posisi benar, ia pun berjalan, membuka pintu ruangan tersebut, Alicia ingin segera pergi dari perusahaan itu.
Saat itulah seorang pria sudah berdiri di sana, di balik pintu yang siap memegang gagang pintu dan siap untuk masuk.
Kali ini jantung Alicia pasti benar-benar akan jatuh, dan entah siapa yang paling terkejut di antara mereka.
"Isyana..." Kata Dax tak bersuara dan tenggelam dalam bibirnya.
"Maaf tuan saya melewatkan sesuatu dan tidak memberitahukan pada anda, beliau adalah Nona Alicia pemimpin perusahaan Dream Sky, dan sudah menunggu anda." Kata sang assisten.
Dax melirik bingkai foto yang terjatuh di atas lantai, dan melihat Isyana hendak pergi dari ruangannya.
"Kau bisa tinggalkan kami." Kata Dax tanpa melihat pada Assistennya.
"Baik tuan." Kata sang asissten lalu pergi.
"Mu... Mungkin pertemuan ini bisa di atur lain kali, mendadak saya melupakan sesuatu." Kata Alicia dengan suara bergetar.
Alicia siap melangkah namun, Dax tidak kunjung pergi dan masih menghalangi jalan.
Perlahan Dax masuk dan Alicia mundur. Kemudian Dax menutup pintu dan menguncinya.
Tubuh Alicia meremang.
"Kita akan membahas bisnis bukan." Kata Dax berjalan mendekati Alicia.
"Jadi... Kini nama mu adalah Alicia." Kata Dax lagi dengan suara datar.
Alicia tidak sanggup melihat pada ketampanan Dax yang bahkan tidak memiliki kepudaran sedikitpun, justru yang terlihat Dax semakin berkharisma dengan setelan jas yang berwarna donker.
Tubuh Dax yang begitu kuat dan kokoh, otot-otot dan tenaga yang sekan tak ada habisnya, yang terus membuatnya berteriak dan mendesahh di bawah tubuh kuat Dax.
Namun Alicia kemudian sadar, Dax meninggalkannya dengan segala kebencian yang membara di hatinya, meninggalkannya dengan menancapkan luka pada malam penuh gairah itu.
Dax bahkan tidak pernah menghadiri pemakaman ibu sambungnya dan ayah kandungnya.
Dan Alicia kemudian mendapatkan keberanian serta kekuatan untuk menekan balik.
"Ya... Itu adalah namaku, Alicia Benyamin." Sahut Alicia tak ingin terlihat lemah.
"Pemimpin perusahaan D'Knedy.... Meminta pemimpin perusahaan Dream Sky untuk datang, apa ada masalah?" Tanya Alicia dengan sedikit angkuh.
Dax mendekat hingga cukup dekat dengan Alicia, pria itu menunduk dan menatap wajah Alicia, menatap kedua mata Alicia yang seakan menantangnya.
"Ada masalah tentang pendanaan proyeknya, seharusnya anda mengawasi karyawan anda dengan benar."
"Perlu anda tahu tuan Dax yang terhormat, saya baru beberapa jam yang lalu resmi menjabat, dan pastinya mereka melakukan korupsi bukan di bawah kepemimpinan saya, dan untuk itulah saya di sini sekarang." Tatap Alicia dengan nafas naik dan turun mengontrol segala gejolak hatinya.
Marah, dendam, benci, kerinduan, cinta, hasrat dan gairah semua menjadi satu menjadi perasaan yang rumit dan membingungkan.
~bersambung~