
Sepasang insan manusia sedang duduk di bangku selasar sekolah sambil menikmati minuman dingin. Panas terik dari si raja fajar hari ini cukup menguras keringat. Membuat Stephania dan Dennis memilih untuk minum-minuman dingin demi menyegarkan tenggorokan.
Dennis dan Stephania adalah pasangan yang selalu bersama semasa ada di sekolah. Tak jarang ada yang mengira mereka pacaran. Tetapi dengan tegas, Stephania membantah itu. Mereka hanya sahabat. Best friend forever. Sementara Dennis membiarkan orang lain berasumsi sesuai fantasi mereka.
Nyata atau tidak, hanya mereka berdua yang tau kebenarannya. Sering sekali Dennis tersenyum menangapi pendapat mereka tentang hubungannya dengan Stephania. Tidak seperti Stephania yang terlalu berlebihan menanggapinya.
"Aku memutuskan untuk membatalkan beasiswa kuliahku ke laut negeri, Nis," ucap Stephania, mengawali pembicaraan. Sedari tadi mereka hanya sibuk dengan pikiran masing-masing sembari menikmati minuman dingin mereka.
Tak peduli mereka dengan tatapan orang-orang kepada keduanya. Mereka memilih menjalani hari sesuai keinginan mereka dan sesuai dengan kenyamanan mereka.
"Lho, kenapa Nia? Bukankah itu impian kamu?" tanya Dennis heran. Tiba-tiba saja gadis itu merubah rute perjalanan hidupnya setelah tamat nanti dari bangku sekolah menengah atas.
"Papa kamu nggak kasih ijin ya?" tanya Dennis lagi. Belum dijawab pertanyaan yang pertama oleh Stephania, sudah meluncur pertanyaan yang kedua.
"Papa aku sih nggak tau kasih ijin atau nggak. Tapi aku sendiri yang memutuskan untuk tidak pergi ke luar negeri," sahut Stephania.
"Terus cita-cita kamu gimana? Kamu mau berhenti begitu saja? Kamu nggak kuliah? Kamu langsung kerja gitu?"
"Sayang lho, padahal kamu sudah lulus tes. Mereka di sana sudah menunggu kedatangan mu."
Begitu antusiasnya Dennis bertanya. Ingin tau ia apa rencana sahabatnya itu ke depannya setelah mereka menyelesaikan pendidikan mereka di tingkat menengah atas.
"Banyak sekali pertanyaan kamu. Yang mana dulu nih yang aku jawab?"
Dennis gugup. Ia menggaruk kepalanya yang tdajm gatal itu. Tetapi ia tidak mau menunjukkan pada Stephania jika dirinya gugup.
"Yang mana aja deh. Bebas," jawabnya kemudian.
"Aku sih nggak ingin berhenti, Nis. Aku tetap kuliah, tapi di sini saja. Karena bagi aku, dimana pun aku kuliah kalau memang itu bisa aku nikmati dengan baik, aku jalani dengan benar, tak perlu aku harus jauh-jauh meninggalkan keluargaku. Meninggalkan orang-orang yang aku sayangi," ucap Stephania lagi.
"Memangnya kenapa kalau jauh dari keluarga? Kamu suka sedih ya? Dasar cengeng."
"Siapa yang sedih? Aku kan hanya tidak mau membuang momen seru aja sama mereka. Nggak bisa lho kita mengulangi kenangan itu lagi saat kita dewasa nanti. Apalagi kalau sudah menikah. Tentunya aku sudah membagi kenangan dengan suamiku kelak."
Dennis tersenyum melihat tingkah Stephania. Benar, gadis itu telah tumbuh dewasa. Ia bahkan sudah memikirkan jauh ke masa depan.
"Masa depan, menikah, kamu aja masih sekolah. Udah pikir ke menikah," gerutu Dennis.
"Kan pastinya akan ke sana nanti, Nis. Aku ingin menikah dengan orang yang mencintai aku dan aku pun mencintai dia. Masa lalu kak Salin cukup membuat aku trauma. Aku berharap kelak aku mendapatkan laki-laki yang baik, setia dan mengharapkan perempuan. Tidak menganggap perempuan itu lemah, kaum yang layak untuk dikasari dan dikasihani."
Meleleh hari Dennis mendengar kalimat panjang lebar Stephania. Ia berkaca pada dirinya sendiri. Sudah sejauh mana ia memperlakukan Stephania selama ini.
"Apa aku layak untuk kamu, Nia?" batin Denia bertanya.
Ya, sejak saat itu, masa kali pertama mereka bertemu ia sudah menyayangi gadis itu, menyukai gadis itu layaknya sebagai kaum hawa. Bukan sahabat atau karena kedekatan mereka atau karena kebaikan Stephania.
Dennis percaya cinta pada pandangan pertama. Dan ternyata benar, ia mengalami hal itu. Begitu nyata baginya. Sejak saat ia bertemu Stephania, ia memutuskan bahwa hanya Stephania lah gadis satu-satunya yang dekat dengannya.
Dennis memang sudah memutuskan sedari awal bahwa hanya Stephania lah satu-satunya wanita yang akan mengisi hari-harinya. Mengukir kenangan bersama tanpa Stephania sadari.
"Nis, kamu kok diam saja? Kamu kenapa, Nia?"
Stephania heran dengan kebungkaman Dennis. Dari tadi ia sudah menjawab pertanyaan Dennis. Bercerita panjang lebar. Dan Dennis hanya menanggapinya dengan diam. Sibuk melamun, bergelut dengan pikirannya.
"Kamu mikirin apa sih, Nis?" tanya Stephania lagi.
Akan tetapi Dennis masih saja bungkam. Ia tak mendengar pertanyaan Stephania barusan walau sudah diulang.
"Dennis," panggil Stephania lagi dengan suara yang agak kuat.
"I-iya, Nia. Ke-kenapa?"
"Kenapa kenapa, kamu tuh yang kenapa. Dari tadi aku tanyain, aku panggilin tapi kamu diam saja. Malas ah ngobrol sama kamu. Aneh kamu hari ini," ucap Stephania kesal.
Stephania pun beranjak dari sana meninggalkan Dennis yang belum paham akan apa yang terjadi. Baru saja ia sadar dari lamunannya. Tiba-tiba Stephania sudah pergi meninggalkan dirinya. Minumannya pun masih tersisa banyak.
Dennis pun mengekori Stephania, takut ia tak bisa bicara lagi dengan gadis itu sekarang. Belum juga ia mengungkapkan isi hatinya. Masa ditinggal begitu saja.
"Nia, tunggu aku Nia!" serunya sambil berlari. Tak peduli ia Stephania mendengarnya atau tidak. Tapi di dalam lubuk hatinya yang terdalam ia berharap Stephania mendengarnya sehingga mengunggu atau menggapai dirinya.
*****
Di tempat lain, tepatnya di kediaman keluarga papa Sande. Pasangan suami istri itu sedang diam di kamar mereka, menikmati istirahat siangnya. Teriknya matahari membuat mereka malas untuk keluar. Lebih memilih berdiam diri di kamar menikmati dingin AC kamar tersebut.
"Mama kenapa?" tanya papa Sande saat memijat sang istri sedang duduk termenung di bibir kasur. Sementara papa Sande baru saja menutup laptopnya. Ada sesuatu yang ia periksa tadi di dalam laptopnya itu. Apalagi kalau bukan masalah perusahaan.
Sekalipun ia hanya di rumah saja, tetapi perusahaan selalu ia pantau secara virtual. Saat ini, orang lain yang masih ia percayakan memegang kendali perusahaan selagi ia fokus dengan pemilihannya. Mengingat Salin masih bekerja di perusahaan tuan Aaron.
Tetapi papa Sande berharap, kelak putri-putrinya akan meneruskan namanya untuk memperluas perusahaan itu. Perusahaan yang sudah dirubah namanya, melibatkan nama kedua putrinya.
Sudah berubah sekarang papa Sande. Tak lagi menganggap anak perempuan itu tidak bisa seperti laki-laki. Tetapi ia sudah menyerahkan sepenuhnya kepercayaan kepada putri-putrinya kelak mau jadi apa dan mau menikah dengan siapa.
Baginya sekarang, yang penting putri-putrinya bahagia dan istrinya pun bahagia. Tiada yang lebih penting dari itu.
"Mama mikirin Nia, pa. Gimana nanti kalau Nia beneran pergi jauh dari kita? Sepi dong pa rumah ini," ucap mama Sefarina lemah. Terlihat jelas wajah sendunya tercetak dengan sedikit kerutan di wajahnya.
"Mama rasanya berat mengijinkan dia untuk pergi, pa," ucapnya lagi. Air matanya sudah berlomba jatuh. Beriringan melewati pipinya yang sudah ada sedikit kerutan.
"Lalu kita harus gimana, ma? Kan demi cita-cita anak. Kita nggak boleh egois, ma. Cukuplah papa yang egois selama ini."
"Papa yakin?"
"Ya, kalau boleh jujur papa sih berat mengijinkan, tapi kalau itu membuat Nia kita bahagia, papa nggak bisa melarangnya, ma. Papa nggak mau, putri-putri papa membenci papa saat usia papa sekarang ini sudah semakin senja."