
"Ingat! Jangan pernah kamu ceritakan apapun yang terjadi di rumah ini kepada keluarga mu. Saya tidak mau kalau sampai mereka tau bagaimana saya memperlakukan kamu selama ini. Paham?"
Salin menundukkan kepala mendengar titah yang tak terbantahkan dari suaminya itu.
"Di luar ada adik dan kakak yang kamu sayangi sedang menunggumu sekarang. Ayo cepat, sebelum mereka curiga!"
"Tapi, mas..."
"Apalagi?" tanya Setu. "Saya tak butuh bantahan!"
"Kenapa saya tidak boleh cerita dengan adik saya atau kakak saya? Mereka kan keluarga saya."
Salin mencoba mencari tau alasan apa dari suaminya itu yang melarang ia bercerita kepada keluarganya itu.
"Masih bertanya kamu? Bukankah menceritakan masalah rumah tangga kepada orang lain adalah termasuk membuka aib? Kamu mau aib keluarga mu diketahui semua orang?" ucap Setu menahan kekesalan. Ia tak ingin kalau adik dan kakak dari istrinya mencium sesuatu yang mencurigakan diantara mereka.
"Sudahlah! Buruan nggak usah banyak tanya. Dan nggak usah banyak protes!"
Salin menunduk saja. Memikirkan alasan sang suami Apakah itu hanya alasannya saja atau karena ia takut keluarga Salin tau kedok ia yang sebenarnya? Entahlah, hanya Setu yang tau jawabannya.
"Dan satu lagi," ujar Setu. Menghentikan langkah Salin yang sudah tiba di ambang pintu.
"Iya, mas," katanya sambil menoleh, menatap Setu dengan pertanyaan.
"Sekali lagi jangan bocor itu mulut!" tekan Setu untuk kesekian kalinya.
Hah. Salin menarik napasnya kasar. Ia kira Setu mau bilang apa. Nyatanya hanya untuk mengancamnya lagi dengan kata-kata yang sama. Dengan langkah pasti ia meninggalkan kamar itu.
Walau tanpa diancam Setu pun, ia tak akan menceritakan masalah rumah tangganya kepada keluarganya. Tak terkecuali adik dan kakaknya. Biarlah hanya dia yang tau bagaimana ia diperlakukan oleh ibu mertua dan suaminya.
Salin yakin, yang namanya manusia pasti akan berubah. Setu juga begitu. Suatu saat, ia akan mendapatkan hadiah dari kesabarannya.
"Kakak!" seru Stephania. Ia berlari mengejar sang kakak lalu langsung menghambur ke pelukan Salin.
"Kakak sehat?" tanyanya masih dalam dekapan Salin.
Salin mengelus punggung sang adik. "Sehat. Kamu kenapa se-khawatir ini?" Salin bertanya. Ada yang berbeda dengan Stephania. Seolah ia menyimpan suatu rasa cemas yang menurut Salin berlebihan.
"Kakak nggak apa-apa kan?" Stephania mengurai pelukannya. Memperhatikan sang kakak dari atas sampai ke bawah. Memegang lengannya, memeriksa. Sampai ia benar-benar merasa lega.
"Syukurlah kakak nggak apa-apa," ucapnya lega. Ia sudah lebih tenang sekarang.
"Maksud kamu apa sih Nia? Memangnya kakak bisa kenapa-kenapa?" tanya Salin heran. Ia sampai mengernyitkan dahinya.
"Aku teringat waktu itu di telpon kak. Kak Setu marah-marah sama kakak. Aku parnoan kak. Curigaan gitu," ucap Stephania cemberut.
Sebagai anak yang sering mendapatkan kekerasan dari sang papa, Stephania wajar merasa takut dan cemas. Maka sekarang, yang ia rasakan, dibentak saja ia suka merasa takut dan kaget. Apalagi sampai disentuh dan dikasari secara fisik.
Salin terenyuh dengan perasaan adiknya itu. Biar bagaimanapun mereka berdua adalah korban kekerasan dari papa mereka. Begitu pun dengan mama mereka. Tak segan-segan papanya memukul mereka jika tak melakukan sesuai dengan kemauan sang papa.
"Kamu tenang saja, Nia. Kakak nggak apa-apa kok. Mas Setu baik. Dia nggak seperti yang kamu bayangkan," sahut Salin. Ia tersenyum sebaik-baiknya agar tak ada kesedihan terpancar di wajahnya.
"Beneran?" tanya Stephania meragu. Entah kenapa ia tak yakin dengan jawaban sang kakak. Ia merasa kakaknya menyembunyikan sesuatu.
Sekali lagi ia mengamati Salin dengan seksama. Tak sedikitpun ia lewatkan Anggita tubuh Salin yang bisa dijangkau dengan sorot matanya. Ia meneliti dengan seksama sedetail-detailnya.
"Kakak semakin kurus. Dan.... kenapa ada warna biru di pergelangan tangannya? Dan .. warna biru itu banyak. Kulitnya pun pucat," batin Stephania. Ia semakin yakin kalau Salin menyimpan beban yang begitu berat.
Matanya yang cekung dan hitam seperti mata kanda, seolah kurang tidur.
"Kakak," sapa Salin pada Ardan.
Ardan pun berdiri menyambut Salin dan memeluk adiknya itu.
"Aku baik, kak," jawabnya berusaha sekuat mungkin. Sebenarnya air matanya sudah menganak sungai di pelupuk matanya. Tapi tidak boleh ia lemah. Tidak boleh ia tunjukkan pada siapapun kalau dia tersiksa disini. Ia mendongak ke atas agar air mata itu tidak tumpah.
"Kakak apa kabar?"
"Kakak baik. Mama dan papa juga baik," jawab Ardan. Ardan pun mengurai pelukannya.
"Kemana Setu?"
"Mas Setu ada kerjaan, kak. Katanya ada laporan yang harus ia perbaiki," jawabnya bohong.
"Oh."
Ardan dan Stephania hanya ber oh ria dan mengangguk tanda mengerti.
Mereka tidak tau, bahwa di balik pintu sana Setu menguping obrolan mereka. Ia takut kalau kalau Salin dan mengadukan perbuatannya kepada kakak ipar dan adik iparnya itu.
"Huh, sok keluarga yang paling bahagia," gumamnya pelan, mencibir. Sambil mulutnya ia monyong-monyongkan bibirnya menirukan ucapan Salin.
"Kalau saja nanti kamu melapor, habis kamu," ucapnya geram. Tak suka ia dengan kedekatan Salin dengan saudaranya itu. Entah kenapa.
Dari balik pintu itu ia bisa melihat dengan leluasa interaksi antara Salin, Ardan dan Stephania. Sambil tak lupa ia menajamkan indera pendengarannya agar ia mampu menangkap suara mereka. Mendengar dengan baik apa yang sedang mereka bicarakan.
"Kamu mau minum apa, Nia?"
"Aku nggak usah kak. Air putih aja," jawab Stephania.
Lalu Salin mendongak ke arah Ardan tanda bertanya.
Ardan yang mengerti langsung menjawab. "Aku kangen masakan mu," ucapnya menanggapi tatapan salin. "Apalagi soto Medan buatan mu. Nggak bisa kakak lupakan. Semenjak kamu menikah, kakak nggak pernah lagi ngerasain masakan kamu," imbuh Ardan lagi.
"Iya, kak benar. Nia juga kangeeeeen banget masakan kakak. Boleh ya kak kita makan di sini?" pinta Stephania memelas.
"Kamu ini, udah gede juga manja banget," celetuk Salin. Ia gemas dengan tingkah lucu sang adik. Tingkah yang sudah lama ia tak lihat.
"Ya udah, Salin ke belakang bentar ya mau ambil air minum. Kakak sama Nia disini saja. Biar aku yang ke dapur," ucap Salin mohon ijin.
"Ikuut, kak," rengek Stephania.
"Udah disini aja. Kakak juga mau bicara bentar dengan mas Setu," ucapnya lagi.
Padahal ada sesuatu yang menggelitik Salin. Ia melihat sepatu di balik pintu tengah menuju dapur. Ia sangat yakin Setu menguping mereka.
Makanya sengaja sedari tadi ia kuatkan suaranya agar Setu bisa mendengar kalau ia tak mengadu kepada Ardan dan Stephania.
"Mas mas, kamu kira aku anak kecil? Aku tau mana yang harus aku bagi dengan keluarga ku dan mana yang tidak," batin Salin. Ia menatap sepatu yang ada dibalik pintu itu dengan tersenyum getir.
"Nggak kamu ancam pun aku nggak akan ngadu, mas. Aku wanita yang berprinsip. Yang akan menceritakan hal baik-baiknya saja kepada keluargaku. Kamu tenang saja, rahasiamu aman," ucap Salin tapi di hati.
Ia melewati sepasang sepatu itu begitu saja.
"Tunggu ya," pekiknya. Berharap dengan suaranya yang kuat membuat Setu kesal hingga meninggalkan mereka di sana. Agar Salin bebas bercengkrama, melepas rindu dengan adik dan kakaknya.
"Anggap aja rumah sendiri," pekik Salin lagi.
Setu sampai menutup kedua telinganya dengan telapak tangan karena merasa terganggu dengan suara berisik Salin.
"Ihh, berisik banget sih. Jadi sakit kan telingaku," gerutu Setu di hati. Ia tak tau bahwa Salin sengaja begitu. Ia tak tau kalau Salin sudah tau ia menguping.
"Dasar mulut mercon," rutuknya lagi lagi di hati.