Please, Love Me Husband

Please, Love Me Husband
Chapter 65. Kerjasama



"Kamu mantan suaminya Salin kan? Temui aku sekarang di kafe Nada. Nggak pake lama."


Tuuut


Panggilan itu langsung diakhiri sepihak oleh wanita dengan wajah jutek dan kesal. Kesal karena lagi lagi, mantan kekasihnya mengabaikan dirinya. Lebih memilih Salin di banding dirinya. Yang jauh lebih segalanya darinya dibanding Salin. Menurutnya begitu.


Tapi tidak bagi Alister. Dulu sih ia, sebelum Rebecca menghancurkan harapan Alister. Tetapi sekarang, sudah tidak lagi. Bahkan Rebecca tak ada arti apa-apa lagi bagi Alister.


"Siapa sih ini? Sok penting banget. Belum juga aku jawab udah dimatiin telponnya," gerutu Setu. Ia menatap nomor yang baru saja menelponnya. Nomor itu tidak tersimpan di kontak ponselnya. Jelas dia tak tau siapa wanita tadi.


"Tapi ya udalah, karena ini tentang Salin, lebih baik aku kesana saja. Penasaran juga aku dengan wanita itu. Hubungan dia dengan Salin apa coba," gumam Setu.


***


"Dengan tuan Setu Sandoro?"


"Iya?" Pria yang disapa itu mengernyit heran.


"Saya bodyguard dari nona Rebecca. Nona Rebecca menitahkan saya untuk menjemput anda. Beliau sudah menunggu anda tuan," ucap bodyguard tersebut. Menunduk hormat kepada rekan majikannya itu.


Bodyguard itu pun menekan tombol lift, lalu saat pintu lift terbuka, ia mempersilakan Setu masuk juga ikut dirinya. Setu melihat bodyguard itu menekan angka lima pada tombol lift itu. Artinya ia akan bertemu dengan wanita tadi di lantai lima.


Setu yang notabenenya belum pernah berkunjung atau nongkrong di kafe ini merasa bingung. Kafenya besar dan mewah. Bukan kafe tepatnya baginya.


"Itu majikan saya, tuan. Siapkan anda lurus. Beliau sudah menunggu dari tadi." Bodyguard itu menunduk mempersilahkan Setu berjalan menuju dimana Rebecca menunggunya.


"Duduk!" titah Rebecca tanpa basa-basi.


Setelah Setu duduk, wanita itu menyodorkan kartu pada Setu.


"Apa ini?" tanya Setu bingung.


"Mata kamu buta? Itu kartu lah," ketua wanita itu.


"Saya tau itu kartu. Tapi maksudnya anda apa memberikan saya kartu ini?" tanya Setu kesal.


Setu penasaran dengan wanita itu. Apalagi berlagak seperti boss, mendominasi. Tak mau dianggap remeh oleh laki-laki. Seolah ucapannya adalah titah yang tak terbantahkan. Tak ada basa-basi nya lagi. Kenapa kek atau apa gitu. Secara mereka kan tidak saling mengenal.


"Aku mau kita kerjasama. Kamu rebut kembali hati Salin maka aku juga akan merebut kembali hati Alister," ucap wanita itu lagi.


"Aku Rebecca. Calon istri dari Alister, orang yang sedang dekat dengan Salina sekarang. Mantan istri kamu," tekan Rebecca pada kata mantan istri.


Segala sesuatu yang ada kaitannya dengan Salina sudah dikantongi oleh Rebecca. Termasuk mantan suami dari Salin. Ia juga sudah mencari tau kalau Setu menyesal atas perceraiannya dengan Salin.


Bahkan ibu Sirlina, ia tau. Ia tau bahwa orang tua itu menyesal. Sudah melepas Salin demi perempuan yang bernama Weni itu. Rebecca juga sudah tau kalau hubungan Setu dengan Weni telah kandas.


Karena Weni mengandung, bukan buah cintanya dengan Setu. Melainkan dengan pria lain, yang ia kencani saat Setu tak bisa diajaknya untuk melampiaskan hasratnya.


Jadi sekarang Setu sendiri. Kesendiriannya ia gunakan untuk mengintai kehidupan Salin. Kemana ia pergi, bersama siapa ia sering berjalan. Tempat kerja Salin, termasuk juga rumah Salin. Satu pun tak ia lewatkan. Tetapi Setu tak punya nyali untuk berhadapan langsung dengan Salin.


"Kita kerja sama. Kalau kamu berhasil merebut Salin kembali, kamu akan aku beri uang dengan jumlah yang tak sedikit. Kamu bisa cek di kartu itu.."


"Saya tidak mau!" tolak Setu tegas.


"Yakin kamu tidak mau? Kamu sanggup bila ia dipersunting oleh orang lain? Kamu rela? Kamu ikhlas, orang yang kamu cinta bersanding dengan pria lain?"


Setu terdiam. Ia tertunduk. Dalam hati ia membenarkan ucapan wanita itu. Ya, jujur ia tak rela membiarkan Salin dimiliki oleh pria lain. Tapi dia bisa apa? Kalau ia kembali pada Salin, maka sama saja ia membuang ludahnya sendiri dan menelannya kembali.


"Aku dan Salin, tak ada hubungannya denganmu. Kalau aku masih mencintai Salin, itu tidak ada hubungannya dengan anda. Jadi stop, jangan pengaruhi saham!"


"Tunggu tunggu. Kalau kamu tidak mau, maka siap-siap saya akan buat perhitungan dengan Salin. Saya akan menyuruh anak buah saya untuk menghabisinya. Bahan sebelum dihabisi oleh mereka, saya akan meminta mereka untuk menyentuh Salin secara bergiliran. Kamu siap?"


Deg


Terkejut sudah Setu mendengar ancaman yang keluar dari bibir wanita itu. Begitu kejamnya ja merencanakan sesuatu untuk Salin. Bagai wanita yang tak punya hati. Tak punya perasaan. Seenaknya mempermainkan nyawa seseorang.


"Jangan! Aku mohon!" pinta Setu. Tak sanggup ia kalau kehilangan Salin. Tak kuat ia kalau Salin menghilang dari hidupnya. Baginya, tidak apa-apa jika hanya dari jauh bisa melihat Salin. Dari pada tidak sama sekali.


"Kalau begitu deal?" Wanita itu menyodorkan jabatan tangannya. Baginya, sangat mudah menaklukkan Setu agar mau bekerja sama dengannya. Buktinya hanya dengan gertakan seperti ini saja, Setu sudah sangat ketakutan. Terlihat jelas dari raut mukanya tak mau kehilangan Salin. Orang yang ia cintai saat ini.


"Pikirkan baik-baik. Jika kamu berhasil, bukan hanya salin yang akan kamu dapatkan. Tapi juga jauh di dalam kartu ini. Yang bahkan saya sendiri pun tak dapat menghitung berapa nominal yang ada dalam kartu ini."


"Kamu bisa pergi membawa Salin, kemana pun yang kalian suka dengan uang ini bisa. Bila perlu Samapi sejauh mungkin. Keluar negeri atau kemana lah. Yang penting, aku tak akan pernah bisa melihatnya lagi. Gimana?"


Setu masih diam. Dilema atas ancaman dan tawaran yang disuguhkan oleh Rebecca.


"Waktu untuk kamu berpikir hanya setengah jam.Dari SEKARANG." Rebecca menekan kata-katanya.


"Silahkan kamu putuskan. Yang jelas, nyawa mantan istri kamu dan keluarganya ada di tangan kamu. Kalau kamu mengambil keputusan yang salah, maka mereka akan lenyap. Termasuk dia, orang yang kamu cintai.


"Sebaliknya, kalau kamu ambil keputusan yang tepat maka Salina dan keluarganya akan aman.