
"Salin.... bikinin teh dong! Saya haus ini."
Salin mendengar suara seseorang yang memekik di pagi itu. Ia yang baru saja membuka mata, tersadar kalau itu adalah suara Setu, suaminya sendiri.
"Salin..." ucap suara itu lagi.
"Ya, itu mas Setu. Jadi mas Setu masih mengharapkan aku? Dia nggak jadi menceraikan aku?" batinnya.
Segera ia duduk, mencerna kembali panggilan suaminya. Panggilan yang biasa ia dengar. Seolah tidak ada yang terjadi sebelumnya diantara mereka.
Bukan ia senang mereka tak jadi cerai. Bukan pula karena ia yang mengemis-ngemis cinta dari suaminya itu. Kalau bisa jujur, cinta sih masih ada. Tapi Salin lebih ke mempertahankan rumah tangganya. Ia yakin dan percaya, semuanya pasti berlalu dan semuanya pasti akan berubah.
Terutama Setu dan ibu mertuanya. Mereka akan berubah. Tinggal Salin hanya bersabar menunggu, menjalani dengan ikhlas, pasti semua badai itu akan berlalu.
"Salin ...." pekik Setu lagi dari luar kamar Salin.
"Iya, mas..." sahut Salin dari dalam. Bergegas ia menghampiri suaminya itu.
"Kamu tuli atau gimana sih? Dari tadi saya panggil bukannya dengar," omel Setu.
Ada rasa lega di hati Salin mendengar Setu mengomel padanya. Dimana suaminya itu sudah kembali seperti biasanya.
"Maaf, mas. Saya baru .. bangun," ucapnya tersenyum nyengir.
"Istri macam apa kamu? Suami udah bangun dari tadi kamu malah enak-enak tidur."
"Buatkan teh untukku. Sarapan juga," titahnya segera.
"Lihat nih udah jam berapa! Saya tidak mau terlambat lagi seperti dulu. Saya tidak mau kehilangan klien lagi hanya karena masalah telat. Paham kamu?"
"Baik, mas," jawab Salin tersenyum.
Segera Salin meninggalkan suaminya berjalan menuju dapur sambil mengikat rambutnya yang panjang itu. Ia cepol ke atas hingga menampakkan leher jenjangnya yang putih mulus itu.
Begitulah kesehariannya, sudah kembali seperti dulu. Salin akan menerimanya dengan ikhlas. Salin akan mencoba berdamai dengan keadaan.
****
Sore itu, saat jam pulang kantor Setu. Salin sudah siap menunggu kepulangan sang suami di depan pintu. Ada hal yang ingin ia tanyakan sore ini. Lebih tepatnya ia ingin meminta ijin.
Dilihatnya jam. Jarum pendek sudah menunjuk ke angka empat, sementara jarum panjang sudah menunjuk ke angka dua belas. Itu artinya sebentar lagi Setu akan pulang.
Salin menunggu kepulangan suaminya itu dengan penuh harap. Semoga saja Setu menyetujui keinginannya.
Brum
Terdengar suara deru mesin mobil mendekat ke mansion itu.
Dengan semangat 2023 Salin langsung membuka pintu. Bermaksud menyambut kepulangan suaminya. Tak lupa ia menebarkan senyumnya setulus mungkin. Berharap dengan senyum itu bisa meluluhkan Setu dan segera mengabulkan permintaannya.
Ia menunggu dengan gembira di depan pintu. Ia perhatikan dengan seksama hingga mobil itu terparkir cantik pada tempatnya. Dilihatnya Setu membuka pintu lalu keluar dari dalam mobil putihnya itu.
Tetapi Setu tak melihat istrinya. Ia malah memutari bagian depan mobil dan membuka pintu di samping kemudi. Keluarlah seorang wanita dari dalam mobil yang dibukakan setu pintunya.
"Ayo, sayang," ajak Setu sambil tersenyum pada wanita itu.
Si wanita pun menyambutnya dengan senang hati, lalu keluar dari dalam mobil itu dengan tangan yang digandeng Setu.
"Hati-hati," ucap Setu lembut.
Salin yang memperhatikan itu tentu terkejut. Tetapi ia tak mampu berkata. Seolah mulutnya terkunci, hingga berucap sepatah katapun ia tak sanggup.
Dua insan beda jenis itu, berjalan santai di depan Salin yang masih ternganga. Yang masih bertanya-tanya dalam hati siapa wanita itu. Mengapa ia begitu manja sikapnya pada suaminya. Dan kenapa si suami diam dan senyum saja dengan tingkah wanita itu.
Mereka melewati Salin. Berjalan lenggak lenggok seolah tak mengenal Salin. Begitupun wanita itu, seolah tak melihat Salin yang ia lewati di sampingnya.
"Dia pembantu kamu ya, sayang?" celetuknya dengan ringan pada Setu.
"Iya, sayang. Udah ah, nggak usah pedulikan dia," ucap Setu.
Bagai disayat pisau, kemudian dioleh oleh asam, sakit dan ngilu, begitu yang Salin rasakan saat ini.
Suami yang sudah ia kenal kurang lebih selama empat tahun, mengatakan kalau ia sebagai pembantu kepada orang lain, kepada teman perempuannya.
Hati siapa yang tak luka? Adakah orang di luar sana atau wanita di luar sana, yang bisa terima begitu saja, yang biasa-biasa saja pabila suaminya menganggap istrinya layaknya pembantu?
Bisakah mereka menerima itu dengan ikhlas dan lapang dada?
"Tunggu, sayang," kata Setu. Sontak keduanya berhenti setelah beberapa langkah di belakang Salin.
"Salin, kamu masak yang enak. Layani saya dan dia. Saya mau masakan yang paling enak. Dan minumannya juga. Dan ingat, saya tak menerima bantahan dan pertanyaan," titah Setu tegas.
Arogan sekali dia memperlakukan istrinya layaknya pembantu.
Setelah memerintahkan pada sang istri, Setu pun membawa lagi langkahnya dan juga Weni masuk ke dalam mansion itu.
"Kok kamu akrab banget dengan istri kamu, mas Setu?" tanya Weni.
"Akrab gimana?" Setu mengernyitkan dahinya. Apa ia Weni bisa mencium kalau antara ia dengan Salin ada apa-apanya?
"Kenapa kamu panggil namanya? Kayak sama siapa gitu lho, mas," jawab Weni.
"Ah nggak. Bukan siapa-siapa. Dia mah cuma pembantu di rumah ini. Kenapa aku harus dekat dengannya?" sangkal Setu.
"Udahlah, sayang. Kamu jangan ngada-ngada deh. Ngapain mas deket-deket sama pembantu. Nggak level," cibir Setu pada Salin.
"Iya, mas. Benar. Nggak level," sahut Weni. "Lihat aja tuh penampilannya. Norak."
Weni pun turut mencibir Salin.
Salin terpukul dengan semua ini. Ia juga heran siapa wanita yang dibawa suaminya ke rumah mereka. Dan kenapa mereka terlihat begitu mesra? Dan apa tadi? Setu mengakui kalau ia adakah seorang pembantu? Oh astaga. Begitu tak punya nalurinya Setu kepada istrinya itu.
"Biar saya saja, non," ucap bibi yang melihat Salin hampir terjatuh saat memanaskan air.
Si bibi sadar, sepertinya nonanya itu banyak pikiran sehingga kurang fokus untuk melakukan tugasnya.
"Nona ngapain ke dapur. Udah, biar bibi saja ya, non," ujar bibi lagi. Ia menuntun Salin duduk di kursi meja makan itu.
"Nona mau minum?" tanyanya lembut, tulus. Di rumah ini, hanya si bibilah yang peduli padanya. Yang selalu perhatian padanya. Memperhatikan kesehatan dan makanan yang Salin makan. Tidak seperti Setu dan ibunya yang hanya memikirkan kebahagiaan diri sendiri.
"Nggak usah, bi. Saya ke kamar saja," tolak Salin halus.
Ia pun meninggalkan bibi dengan tugasnya. Persetan dengan titah suaminya. Ia sudah lelah, capek. Selalu ia dituntut mengerti orang lain sementara dirinya tak ada yang mau mencoba untuk mengertinya.
Selalu dituntut untuk peduli, melakukan ini dan itu. Sementara dia? Siapa yang peduli? Tidak ada. Hanya bibi seorang. Lalu kalau si bibi tidak ada bagaimana?!