Please, Love Me Husband

Please, Love Me Husband
Chapter 87. Tak Mau Menikah Lagi



"Kurang ajar Salin. Lihat saja. Akan aku kasih dia pelajaran. Kalau aku tak bisa memiliki Alister, maka siapa pun tidak. Termasuk Salin. Perempuan yang nggak ada apa-apanya dibandingkan dengan aku."


Wanita itu mengumpat sendirian, sembari menckba membuka sepatu yang ia kenakan. Ia merasa ada yang janggal dengan sepatu tumitnya itu.


"Aduh, pake putus segala lagi," ucapnya kesal. Ternyata sepatunya tumitnya putus tali. Bahkan tumitnya nyaris lepas.


"Apes banget hidup ku hari ini. Tapi tenang saja, orang yang membuat hidup ku sial hari ini, akan mendapat ganjarannya. Aku janji akan hal itu," ucapnya kemudian.


Dengan menenteng sepatunya yang rusak, ia memasuki mobilnya. Meninggalkan tempat pesta perayaan ulang tahun oma. Ia ingin menyusun rencana untuk menjebak Salin. Tekadnya sudah bulat.


****


Sementara di tempat lain, tepatnya di rumah papa Sande. Mereka sedang bersantai sekarang. Menikmati cemilan yang disuguhkan bi Entun kepada mereka.


Keharmonisan dalam rumah tangga mereka telah kembali. Kehangatan yang sempat hilang, kini telah muncul ke permukaan. Bagai sinar mentari yang tertutup awan hitam, lalu awan itu lenyap kembali berganti dengan sinar surya yang gagah.


"Lin."


"Iya, pa," jawab Salin. Ia sampai meletakkan kembali gelasnya yang hampir saja ia sesap teh di dalamnya.


"Minum aja dulu. Kenapa ditunda?"


"Nggak, pa. Masih panas," jawab Salin beralibi.


Sementara mama Sefarina dan Stephania agak bingung dengan keduanya. Mengapa mereka berdua bicara seolah hanya mereka berdua yang ada di sana.


"Kalian ini mau bicara apa sih? Kok mama nggak dianggap?" tanya mama Sefarina menyela keduanya.


"Iya nih. Kita kan disini berempat. Kenapa hanya berdua yang ngobrol. Nggak asik ah," timpal Stephania.


"Belum juga ngobrol. Udah protes aja yang dua ini. Dasar kemal," celetuk papa Sande. Sudah bisa bercanda sekarang mengikuti gaya bicara kaum milenial.


"Idih, bahasa baru," goda Stephania.


"Mengikuti jaman," sahut papa Sande.


Mereka berempat kembali tertawa di kala itu.


"Papa hanya ingin memastikan, sebenarnya antara Lin dengan pria itu ada hubungan apa?" ucap papa Sande memulai pembicaraan. Nadanya sudah serius.


"Pria... pria yang mana, pa?" tanya Salin. Dalam hati ia sudah bisa menebak pasti yang dimaksud papa Sande adalah Alister Galeh Pratama. Karena memang hanya dialah lelaki yang kerap dekat dengan Salin dan disaksikan oleh papa Sande itu sendiri.


"Ya siapa lagi kalau bukan Alis. Siapa namanya Ter, atau...."


Papa Sande mencoba mengingat-ingat nama pria itu. Seingatnya Salin sering memanggilnya Ter. Entah Ter apa papa Sande pun tak tau.


"Oh, kak Alister?" tanya Stephania sambil manggut-manggut. Kini ia paham sudah kemana arah obrolan ini.


"Iya, kak. Jangan digantung dong anak orang. Sakit tau," sambung Stephania. Menambahkan ucapan papa Sande.


"Ih, mama. Nia udah besar tau. Nia udah dewasa. Jadi, Nia udah mengerti. Papa dan mama tenang saja. Nia bisa menjaga diri kok."


Ketiganya manggut-manggut mendengar penuturan putri bungsu keluarga papa Sande itu. Ada kebahagiaan tersendiri di hati mereka masing-masing. Karena Stephania sudah dewasa sekarang. Ada kelegaan tersendiri dalam diri mereka. Artinya, Stephania sudah tau mana yang baik dan mana yang buruk.


Mereka berharap dalam hati, kelak Stephania bisa memilah mana yang harus ia pilih dalam hidupnya dan mana yang harus ia jauhi.


"Lin, papa sama mama bukan mau melarang kamu untuk berhubungan kembali dengan laki-laki. Mulai sekarang, kamulah yang menentukan siapa yang akan kamu pilih jadi partner masa depan kamu."


"Papa minta maaf ya. Karen ternyata pilihan papa tak bisa membuatmu bahagia. Sekalipun nanti Alister akan menjadi pasangan mu, semoga kamu bahagia. Itu doa papa."


"Pa, ma, jangan salah paham. Lin dengan Alister tidak ada hubungan apa-apa. Kita hanya sebatas rekan kerja. Atasan dan bawahan. Jadi tidak ada yang spesial," sahut Salin. Mencoba menjelaskan tentang hubungannya dengan Alister.


"Lin, kamu itu putri mama. Mama tau bagaimana kamu. Kamu berkedip, kamu merem, mama tau apa maknanya. Jangan bohongi hati kamu, sayang. Kita mungkin bisa kamu tipu, tapi tidak dengan hati kamu."


"Gestur tubuh kamu juga mengatakan kalau kamu itu nyaman ada di dekat nak Alister. Jadi, kita semua mendukung yang terbaik untuk kamu," pungkas mama Sefarina.


Papa Sande dan Stephania mengangguk, setuju dengan apa yang dikatakan mama Sefarina.


"Kejarlah kebahagiaan mu, sayang. Jangan kamu tunda. Mama dan papa merestui setiap langkah mu. Ingat, jangan sia-sia kan orang yang mencintai kamu apa adanya. Jangan sampai kelak kamu menyesal karena ia pergi atau bersama dengan yang lain."


"Suatu saat ia akan jenuh karena cintanya tak bersambut. Padahal jelas-jelas kamu ada rasa sama dia."


"Ingat, tidak semua lelaki sama seperti Setu Sandoro. Alister berbeda, nak. Mama bisa melihat itu kok," ucap mama Sefarina panjang lebar.


"Papa setuju, sayang."


"Nia juga setuju, kak."


"Tapi.... Lin tidak ingin menikah lagi."


"Apa?" ucap ketiganya serentak. Tak pernah mereka menduga bila jawaban Salin akan seperti ini.


"Jangan bicara seperti itu, sayang," ucap mama Sefarina. Ia merangkul putrinya itu. Terlihat jelas di wajah Salin ada rasa trauma. Menyimpan luka yang mendalam atas pernikahan nya terdahulu.


Dengan penuh kasih, mama Sefarina membawa tubuh Salin ke dalam dekapannya. Ia tau, hati Salin benar-benar rapuh. Ingin marah ia sekarang kepada Setu. Tapi semua sudah berlalu. Pilihan yang telah memang karena Salin sudah menceraikannya. Salin sudah bebas dari cengkeraman pria seperti Setu.


Pria yang tidak tau bersyukur atas istri yang ia miliki. Yang bisa segalanya, baik karir maupun sebagai ibu rumah tangga. Tapi ia merasa selalu kurang dan kurang. Hingga ia mencari kepuasan lain.


"Ya udah. Nggak apa-apa. Kalau memang itu keputusan kamu, papa dan mama tidak bisa memaksa. Tapi, pikirkan baik-baik. Jangan sampai keputusan mu itu kelak membawa penyesalan untukmu."


"Iya, pa," jawab Salin.


"Udah malam Tidur yuk!" ajak Stephania, bermaksud mengakhiri obrolan serius kali ini. Sudah cukup mereka larut dalam kesenduan. Saatnya menata masa depan. Yang sudah terpampang nyata di depan mata.


Semuanya pun bubar. Dan memasuki kamar masing-masing. Tetapi tidak dengan Stephania. Ia ingin tidur dengan sang kakak setelah mendapatkan penolakan dari mama Sefarina.


Tadinya Stephania ingin tidur bareng mama Sefarina, tapi mama Sefarina mengatakan bahwa ia sudah dewasa. Secara tidak langsung sih menolak. Karena sudah lama rasanya mama Sefarina menghabiskan malam berdua dengan suami tercinta sejak kejadian waktu itu.