
Hai, ma. Apa kabar? Ingin Lin, mama sehat dan bahagia selalu. Mama sehat kan? Papa gimana ma? Sehat juga kan? Nggak marah-marah lagi kan ma papa....
Mama....
Lin cuma mau bilang sama mama kalau Lin kalah ma. Lin nggak bisa seperti mama. Lin nggak bisa seperti yang mama minta, seperti yang mama mau
Maafin Lin ma. Lin nggak kuat lagi, ma. Sekarang ini Lin telah sadar. Lin tidak bisa meniru seperti mama yang sabar, yang tetap setia meski papa selalu kasar sama mama. Yang bisa hanya diam dan menangis meski papa menyakiti mama baik raga maupun batin.
Mama ..
Salin udah nggak sanggup, ma. Sudah nggak bisa lagi Lin mempertahankan rumah tangga Lin. Lin udah nyerah, ma. Lin ngaku kalah.
Mama....
Lin mohon, jangan marah sama Lin ya ma. Lin tau mama berat saat tau apa yang terjadi pada Lin. Lin tau kalau mama juga terluka setahun baca isi surat Lin.
Lin memutuskan untuk berpisah dengan Setu Sandoro. Lin sudah tidak sanggup lagi diperlakukan sebagai boneka. Diperlakukan sebagai figuran. Diperlakukan sebagai pembantu. Lin nggak kuat lagi, ma.
Maaf ya, ma. Kalau Lin harus membuat mama terkejut. Kalau memang mama marah ke Lin, Lin terima kok.
Oh ya, ma. Mama nggak usah cari Lin ya. Lin baik-baik saja kok. Nanti kalau hatiku sudah membaik, kalau kehidupan Lin sudah lebih baik, Lin akan datang jenguk mama.
Lin kangeeeeen banget sama mama
Hiks hiks hiks
Mama Sefarina menangis tersedu membaca surat yang dituliskan Salin untuknya.
Sebagai ibu yang telah mengandung, melahirkan bahkan membesarkan anaknya, ia merasa terluka.
"Bibi .." seru Ardan.
Ardan melihat mama Sefarina memegang dadanya.
"Bibi nggak apa-apa," lirihnya.
Kembali ia membaca surat yang belum sepenuhnya ia baca itu.
Tap
Belum ia sempat menyelesaikan membaca surat itu, papa Sande sudah merebut kertas itu dari tangan mama Sefarina.
"Papa..." serunya bercampur air mata.
"Kembalikan suratnya. Putriku..." lirihnya lemah.
"Kalau surat ini membuat mu semakin terluka, sebaiknya di rusak saja."
Surat itupun disobek oleh papa Sande sekuat tenaga hingga terkoyaklah menjadi beberapa helai kecil-kecil. Seperti melampiaskan amarah nya pada kertas yang tak tau apa-apa itu.
Seandainya kertas itu bisa ngomong, hei pak tua. Aku merasa sakit. Bagaimana kalau kau yang ku mutilasi? Bisa jadi kertas itu akan bicara seperti itu itu.
"Kamu jahat, mas. Kamu sudah merenggut semuanya dariku. Terutama semua kebahagiaan putri-putri ku. Kamu tega, bahkan kamu tidak layak dipanggil ayah. Putriku cerai dari suaminya, malah amarahmu yang kau tebalkan. Papa macam apa kamu? Hah? Kalau saja kamu tidak ngotot, kamu tidak memberi ijin pada Setu untuk menikahi putriku, ini nggak akan ia alami," hardik mama Sefarina.
Ibarat gunung Merapi yang selama ini aktif, tetapi tidak memancarkan larvanya, kini saatnya ia memuntahkan apinya. Mengibarkan api kemarahannya, api kekesalannya.
"Bertahun-tahun aku mencoba sabar menghadapi mu, mencoba setia kepadamu, menuruti semua apa ingin mu. Tapi.... apa yang kudapat? Kau tega menghancurkan hati putriku. Kau renggut kebahagiaan putriku. Bahkan kamu tak pantas dipanggil papa!"
"Oh, jadi kau sudah mulai berani'? Hah? Kau sudah tunjukkan aslimu yang sebenarnya, meninggikan suaranya di hadapan suaminya? Ini yang kau sebut setia? Ini yang kau sebut menurut?"
"Kau tenang saja, tidak akan aku biarkan mereka berpisah. Jangan pernah panggil aku Sande Devaro kalau aku tidak bisa menyatukan mereka kembali."
Papa Sande bicara berapi-api. Bahkan ia memukul-mukul dadanya menandakan bahwa ia mampu melakukan seperti yang ia ucapkan.
"Papa, stop! Ini di rumah sakit. Papa nggak lihat betapa mama merasakan sakit?" ucap Ardan ikut serta meninggikan suaranya.
"Jadi, kau juga ikut menyalahkan papa?" sergah papa Sande pada anak sulungnya itu.
"Ya sudah, kalau kalian mau meninggalkan saya, silakan! Ikuti itu jejak Salin, anak yang paling kalian banggakan itu," tukas papa Sande.
"Punya istri nggak bisa diatur. Punya anak juga nggak bisa diatur," pungkasnya lagi.
****
Di tempat lain. . .
"Itu bukannya kak Salin?" tanya Stephania pada dirinya sendiri.
Karena penasaran, Stephania pun memasuki kafe itu, mendekati orang yang mirip dengan sang kakak.
Dan benar.... itu adalah Salin.
"Kak Salin..." panggilnya.
Orang yang namanya dipanggil menoleh.
"Nia? Kamu...."
"Kak..." lirih Stephania. Ia segera berlari menghampiri sang kakak. Dan menghambur ke dalam pelukan wanita yang sangat ia sayangi itu. Menangis ia dalam pelukan Salin, menumpahkan segala yang bergejolak di hati.
"Nia.... kamu kenapa, dek?"
Salin merasa heran akan sikap Stephania.
Bukannya menjawab pertanyaan sang kakak, Stephania malah semakin menangis sesenggukan. Ia semakin mengeratkan pelukannya. Padahal salin mencoba melepasnya tadi. Ia ingin melihat wajah sang adik. Ingin tau apa yang terjadi kepada adik bungsunya itu.
Dengan mengalah, Salin pun membiarkan saja adiknya itu melampiaskan semua air matanya kepadanya. Salin tau, ini tidak akan lama. Menangis adakah sering menjadi hal yang terbaik yang dilakukan Stephania saat ada orang yang mencoba membuatnya terluka.
Maka kali ini, Salin pun akan membiarkan adiknya itu menangis sampai ia puas. Bahkan ia menambahkan tepukan lembutnya di punggung sang adik.
Tak lama kemudian....
"Papa, kak," katanya sambil mengurai pelukan diantara mereka.
"Kenapa dengan papa, Nia?"
"Papa menampar aku, kak," ucapnya dengan lirih.
"Sejak kak Setu datang ke rumah, mama langsung jatuh pingsan kak. Dan sekarang sedang dirawat di rumah sakit. Waktu kita bertemu kemarin, Nia mau bilang itu ke kakak. Tapi kakak buru-buru pergi."
"Apa? Mama sakit, Nia?"
"Iya, kak," sahutnya mengangguk patah dengan air mata yang sudah jatuh kembali.
"Nia, kami gimana sih? Mama sakit bukannya kamu cerita ke kakak. Ayo, sekarang kita ke rumah sakit. Di rumah sakit mana mama dirawat?"
Stephania menggelengkan kepalanya, tanda ia tak mau mengikut sang kakak.
"Lho, kenapa Nia? Kenapa mama sakit kamu malah keliaran disini? Terus siapa yang jaga mama disana?"
"Ada kak Ardan kok, kak. Dan..... ada papa juga," gumamnya pelan. Nyaris tak terdengar.
"Ya udah, ayok. Tunjukan kakak dimana rumah sakitnya dan di ruangan mana mama dirawat."
"Nia nggak mau, kak."
"Lho, Nia kami kenapa?"
"Nia nggak mau ketemu orang tua itu." Salin mengerutkan keningnya mendengar penuturan Stephania.
"Nia nggak mau ketemu papa lagi. Nia benci papa. Papa jahat!"
Stephania pun berlari meninggalkan kakaknya yang masih terheran-heran dengan sikapnya itu.
"Nia, tunggu kakak dek. Nia...."
Seolah tuli dengan seruan sang kakak, Stephania semakin berlari kencang meninggalkan Salin yang berusaha mengejarnya.