Please, Love Me Husband

Please, Love Me Husband
Chapter 59. Saling Menatap



"Kalau kamu dan wanita itu ada hubungan apa-apa, ya bagus dong. Selamat."


Salin menendang tulang kering Alister hingga membuat Alister mengasuh dan spontan menunduk. Kesempatan itu ia gunakan untuk kabur dari pria yang bernama Alister Galeh Pratama itu.


Salin kabur membawa senyumnya. Entah senyum apa, hanya dia yang tau.


"Lin, tolonglah," kejar Alister. Ia bahkan sampai berlari demi mengejar wanita itu. Wanita yang tak ingin ia salah paham atas apa yang terjadi tadi di dalam ruangannya.


****


Sementara di tempat lain.


"Pak, bisa tolong bantuin saya?"


"Apa yang bisa saya bantu, nona?"


"Tolong bantu saya untuk membawa semua ini ke atas."


Security itupun menganggukkan kepala dan membantu gadis itu membawa box makanan.


"Lantai berapa, nona?"


"Ke lantai empat, pak."


"Baik."


Empat box sudah dibawa oleh security itu menuju tempat yang diarahkan sang gadis. Dia adalah Pradina. Kejadian tak terduga yang harus memaksa ia mengantar pesanan makanan ke perusahaan yang tak ia kenal sam sekali. Padahal ia juga sedang terburu-buru mau pergi ke perusahaan kakaknya.


Karena tergesa-gesa, tak sengaja ia menabrak seseorang. Membuat isi di dalam box yang ia tenteng jatuh, berserakan di parkiran perusahaan itu.


"Punya mata nggak sih?" pekiknya jengkel. Ia sudah terburu-buru, bawa tentengan, eh malah ketabrak orang.


Seperti ada gerakan slow motion yang terjadi. Empat pasang mata itu saling menatap. Mengunci bahkan tak berkedip walau sedetik pun.


Dan ternyata orang yang di tabrak oleh Agnesrani Anantha Pradina itu adalah seorang pria. Keduanya melongo dan seketika saling mengagumi mata yang mereka tatap.


"Manisnya."


"Cantiknya."


Begitulah ungkapan batin keduanya. Tanpa mereka sadari, mereka sudah saling mengagumi.


"Hmmm hmmmm"


Tiba-tiba seseorang datang, berdehem keras sembari menepuk pundak pria itu. Pria itu pun tersadar dan segera berdiri, menegakkan tubuhnya.


"Sampai kapan kalian akan tatap-tatapan? Nggak capek apa?" timpal pria itu.


Pria yang disapa Ardan itu pun diam saja. Tetapi wajahnya memerah. Ia merasa terciduk oleh temannya sendiri.


"Kamu kak Zein kan?" tanya Nantha. Ia pun ternyata sudah tersadar dari kekagumannya.


"Kamu......" Pria yang disapa Zein itu mencoba mengingat.


"Kamu Agnes kan?"


Nantha pun mengangguk. "Kakak kerja di sini?"


"Iya. Ini adalah perusahaan ku. Kecil sih, nggak sebesar perusahaan papa kamu," ucap Zein seraya tersenyum tulus.


Melihat interaksi keduanya, membuat Zein berpikir lain. Juga ada terselip rasa aneh dalam hatinya. Seperti tak rela wanita itu dekat dengan Zein.


"By the way, ke sini ada apa?"


"Gara-gara dia tabrak aku, jadinya makanannya jatuh kak. Maaf ya, kak," ucap Nantha. Bibirnya dimonyong-monyongkan. Ia kedip-kedipkan matanya. Berharap mendapat maaf dari Zein.


"Nggak apa-apa. Cuma dua box kan yang jatuh. Sudah biarkan saja. Kalau nggak layak makan, di buang saja. Jangan sampai dlsedrama itulah," timpal Zein sampai tersenyum.


"Makasih ya, kak. Kakak baik banget."


Semakin kesal dan muak Ardan lihat interaksi keduanya. Ardan merasa, Zein sudah merebut wanita pilihannya. Wanita pertama yang pernah ia kagumi, ia sukai di pandangan pertama.


Tetapi malah temannya duluan yang mendekatinya. Sok sok dekat banget lagi mereka. Apa ia Meraka saling kenal? Dan jika memang ia kok sedekat itu?


"Eh, kamu, bukannya minta maaf malah jadi patung di sini. Ayo minta maaf," kejar Nantha pada Ardan.


"Minta maaf kenapa, nona kalau boleh tau?"


"Iiih, pake lagak sok polos lagi. Udah jelas kamu tadi yang tabrak saya duluan. Harusnya kamu itu minta maaf kepada saya. Bukan jadi patung bernapas di sini."


Melihat kepolosan Ardan, membuat Nantha kesal. Walau dalam hati ia mengakui, sungguh lucu dan menggemaskan wajah pria yang berdiri di hadapannya sekarang.


"Ah sudahlah. Habis waktu saya bicara sama kamu."


"Ayo, kak bantuin aku. Bawain ini ke lantai empat. please. Kakak kan yang punya perusahaan ini jadi kakak sudah tau betul seluk beluknya. please ya, kak "


"Maaf, Nes tapi aku ada meeting sebentar dengan tuan Ardan. Jadi kamu sendiri saja ya. Lagian nggak berat kakaknya. Sisa se box lagi kan? Yang lain udah diantar tadi," terang Zein menolak halus.


Mendengar Zein menyebut tuan terhadap pria yang ia ajak berdebat, Nantha semakin terkagum-kagum dengan pria itu. Ia tau, seorang Ardan itu bukanlah orang sembarangan. Zein yang punya perusahaan saja memanggilnya dengan sangat hormat.


Sama halnya dengan Nantha, Ardan pun semakin terpana dan terpesona akan gerak-gerik Nantha. ia merasa Nantha berbeda dari perempuan apda umumnya. Ada sedikit kemiripannya dengan Stephania adiknya.


Sepertinya Nantha dengan Stephania seumuran. Tetapi Ardan tak se yakin itu. Lebih dewasa sedikit wajah Nantha.


"Kenalkan nona, nama saya Ardan, Ardan Xavier. Kalau nona?" Ardan bahkan mengulurkan tangannya. Entah kenapa ia dengan beraninya berkenalan dengan gadis itu.


"Nantha," sahut Nantha malah. Ia pun entah kenapa membalas uluran tangan pria itu. Menjabat tangannya sembari memperkenalkan diri.


"Agnesrani Anantha Pradina," timpal Zein. Bermaksud menambahi, membubuhkan nama lengkap Nantha.


Zein bukan orang bodoh atau tidak peka. Ia dapat melihat jika keduanya saling mengagumi. Hanya saja mereka gengsi ditambah mereka masih perdana bertemu.


"Ish, kak bisa nggak sih nggak usah nimbrung. Gatel," protes Nantha. Tak terima ia Zein menyebutkan nama lengkapnya pada Ardan.


"By the way, kakak kenal dia?" tanya Nantha akhirnya. Sedari tadi ia sudah menyimpan rasa penasarannya. Tetapi ia merasa tak berhak untuk bertanya kepada Zein, takut ia dianggap perempuan ganjen.


"Kenal. Tuan Ardan adalah rekan bisnis kakak. Dulunya sih rekan, sekarang jadi teman. Jadi kalau kamu ingin dekat dengan teman kakak ini, tanya aja kakak. Kakak akan kasi tau apa yang pengen kamu tau."


Bless


Memerah sudah pipi Nantha. Tak menyangka ia Zein akan berkata seperti itu. Merasa dirinya dipermalukan oleh kakak seniornya itu.


Sementara Ardan, ia menatap punggung Nantha dengan teliti. Bahkan tak berkedip walau sekalipun.


"Kamu suka sama dia?" tanya Zein tiba-tiba.


"Apaan sih?" cebok Ardan.


"Eleh, nggak usah bohong. Aku bisa liat sendiri kok," sahut Zein.


"Dan, kamu lupa sama aku? Aku adalah orang yang bisa membaca pikiran kamu "


"Lebay. Kayak cenayang. Udah ah, yok meeting. Lama-lama geger otak aku kalau bicara banyak samamu," balas Ardan.


Nantha pun meninggalkan mereka berdua membawa pipinya yang merona merah itu. Tak sanggup ia berdiri tegap di depan mereka akibat godaan itu.