
Happy Reading!
Hari-hari pun berlalu. Kini, papa Sande sudah kembali ke rumah. Stroke ringan yang sempat ia alami telah kembali pulih. Begitu inginnya ia segera sembuh, sehingga ia semangat untuk melakukan pengobatan. Melakukan semua saran dokter, makan dan tidur yang teratur dan juga minum obat Dengan baik.
Tak lepas dari tiga bidadari yang selau setia merawat, menjaga dan memperhatikan dia. Untuk urusan makan, obat, menemani terapi, bisalah di handle oleh Salin atau pun Stephania. Tetapi urusan mandi memandikan, mama Sefarina lah pawangnya. Tak mungkin pula ia membiarkan kedua putrinya untuk melakukan hal itu. Selagi ia masih ada. Walaupun hanya sekedar mengelap tubuh papa Sande, tetap bagian mama Sefarina.
"Ada hal yang ingin papa akui kepada kalian bertiga hari ini," ucap papa Sande tiba-tiba.
Mereka sedang duduk santai di ruang tam, menikmati sesuatu yang menarik yang disuguhkan di salah satu channel televisi. Seketika, tatapan mereka beralih ke papa Sande. Sehingga suara tv bahkan siaran disana pun terabaikan.
Tanpa berucap sepatah kata pun, papa Sande sudah sangat yakin bila mereka memang sedang bertanya di hati. Kira-kira, apa yang akan papa bicarakan? Apa yang ingin papa akui? Itulah mungkin tanya mereka dalam benaknya.
"Sebenarnya."
Papa Sande mulai terisak, pilu. Sampai-sampai ia merasa sesak di dalam hati. Sudah lama ia ingin mengakui hal ini, akan tetapi karena kondisi kesehatannya, ia pun mengulur waktu. Ia ingin memastikan terlebih dahulu kalau ia kuat, ia mampu untuk jujur, untuk jadi lelaki gentle di depan ketiga bidadarinya.
"Sebenarnya papa yang menyuruh Ardan untuk pergi keluar kota waktu itu. Papa yang meminta dia untuk mengurus perusahaan cabang yang ada di Kalimantan. Papa sudah mengatur segalanya. Menginap di sana selama dua minggu. Papa punya maksud dan tujuan "
"Maksud papa? Jangan muter-muter deh, pa. Pusing tau," sela Stephania. Ia lupa kalau papanya baru saja menangis. Ia menanggapinya lain, seperti ada api kekesalan dalam nada suara Stephania.
Mama Sefarina melotot kepada Stephania. Membuat Stephania segera membisu. Ia baru sadar kalau ia salah dalam berucap.
"Ya. Papa penyebab semua ini," timpal papa Sande.
Papa Sande mulai menceritakan dari awal ia menyuruh orang kepercayaannya untuk mengatur jadwal kepergian Ardan, pertemuannya juga dengan wanita itu. Hingga akhirnya kecelakaan itu terjadi. Dan sebenarnya tidak ada masalah apa-apa dengan cabang perusahaan yang ada di Kalimantan. Semuanya akan terkendali.
Papa Sande mengakhiri ceritanya dengan menangis terisak. Semua yang mendengar cerita papa Sande, terdiam membisu. Tak tau mau bicara apa. Terlebih Stephania. Mana dia yang cerewet? Kenapa ia tak berceloteh mendengar cerita sang papa? Apakah ia sudah berubah?
"Maafkan, papa," ucap papa Sande, dengan air mata yang berlomba membasahi pipinya. Ia sudah menghapusnya memang, tapi turun lagi dan lagi.
Mendengar ketiga bidadarinya itu masih membisu, papa Sande semakin merasa bersalah. Bahkan sekarang ia berlutut di hadapan ketiganya. Membuat mama Sefarina, Salin dan Stephania terkejut.
Seumur hidupnya, Salin baru pertama kali ini melihat papa Sande rapuh. Berlutut, merendah, mengakui kesalahannya kepada istri dan anaknya dengan penyesalan yang begitu dalam. Yang tak hanya terlihat dari air mata yang terurai deras, tapi juga dari kata-kata penyesalan yang ia ungkapkan.
"Papa," ucap Stephania. Dia mencoba bersuara, mewakili kebisuan mama Sefarina dan kakaknya Salin.
"Bangun, pa. Papa jangan begini," ucap Stephania. Ternyata air matanya turut berderai. Kenapa kali ini air matanya malah mudah tergerai. Biasanya juga tidak.
"Pa, semuanya sudah terjadi. Aku, mama atau pun kak Salin bukan lah siapa-siapa untuk menerima sujud papa. Lebih baik kita berdoa kepada yang Kuasa, bersujud pada-Nya agar kak Ardan tenang."
"Trimakasih, Tuhan. Putriku sudah dewasa," ucap mama Sefarina di hati, bersyukur atas perubahan yang terjadi pada putri bungsunya. Putri yang selama ini selalu membangkang akan perintah papa Sande. Yang apabila disuruh mengerjakan pekerjaan rumah selalu menolak, banyak alasan. Akhirnya Salin lah yang mengalah menggantikan sang adik.
Tak kalah bersyukurnya Salin dengan adik kecilnya itu. Ia tidak menyangka, akan sebesar itu lapang dadanya Stephania mendengar kakaknya meninggal karena ulah sang papa. Kakak yang begitu ia cintai. Yang selalu rela pasang badan bila ada yang berniat jahat padanya. Melindunginya, menjaganya dan memanjakannya.
"Papa lah semua dalang dibalik hancurnya keluarga kita. Papa adalah dalang atas kepergian Ardan. Seandainya papa tidak menjodohkan dia, seandainya papa tidak mengirimnya pergi, ini semua tidak akan terjadi," ucap papa Sande sendu.
Sampai-sampai ia memukul dirinya sendiri, merutuki kebodohannya dan menyesali perbuatannya.
Yang lebih mengiris hatinya adalah, ia bahkan tak sempat melihat wajah anak laki-laki satu-satunya untuk terakhir kalinya. Bahkan tak melihat proses pemakamannya ke tempat yang baru.
"Inilah nasibku. Hadiah yang ku terima darin-Nya. Aku tak bisa mengantarkan anakku sendiri ke tempat terakhirnya, tak bisa kulihat wajahnya untuk terakhir kalinya." Papa Sande menangis, sesenggukan.
Pilu rasanya mendengar penyesalan yang keluar dari mulut papa Sande. Mereka baru menyadari akan hal itu. Bahwa, papa Sande lah yang lebih sakit di sini. Lebih menderita di sini. Adakah orang tua yang bahagia bila anaknya pergi untuk selamanya tanpa ia berangkat kan? Di belahan bumi manapun, tak ada orang tua yang senang bila anaknya dengan cepatnya meninggalkan ia tanpa pesan walau sedikit pun.
Keempat orang itu pun akhirnya berpelukan. Tak ada dendam dan marah lagi di hati mereka sekarang. Tak ada lagi selisih paham.
"Sekarang, kita mulai semuanya dari hari yang baru. Ya. Jangan sedih lagi. Aku yakin, bila kita alur maka kak Ardan pun akan tersenyum melihat kita dari langit," ucap Salin.
"Papa mau kan maafin Salin?"
"Tentu sayang."
"Kalau Nia, pa?"
"Papa juga sudah memaafkan putri papa yang sudah dewasa sekarang." Papa Sande mengusap surai panjang milik Stephania.
"Maafin mama juga ya, pa. Udah ninggalin papa sendirian di rumah ini. Mama malah memilih pergi meninggalkan papa. Padahal tidak seharusnya mama meninggalkan papa. Maafin ya, pa."
Papa Sande mengangguk tersenyum, terharu sampai meneteskan air mata. Ia menentang kan kedua tangannya, memberi isyarat untuk berpelukan lagi. Saling menguatkan satu sama lain.
Terkadang, saat orangnya masih ada, kita sering abai. Bahkan kita sering sekali menyepelekan kebersamaan itu. Tetapi saat ia pergi, kita baru merasa kehilangan. Dan penyesalan itu pun datang.
Oleh karena itu, hargailah ia selagi masih ada. Jadikan kebersamaan selalu berwarna. Selisih paham itu pasti selalu ada. Karena rambut memang sama hitam, tapi isi hati manusia berbeda-beda. Meski yang terlahir kembar sekalipun.
To be continue....