
Pagi ini, Alister memutuskan untuk mengikuti Salin lagi. Ia hentikan mobilnya tepat dimana Salin biasa menunggu taksi atau bus. Ia keluar dari dalam mobil lalu duduk di halte itu, layaknya seseorang yang sedang menunggu bus juga. Dengan memakai kaca mata dan topi agar Salin tak mengenalinya.
Dari jauh ia melihat Salin melangkah menuju halte itu. Alister merasa sangat senang. Orang yang ia tunggu akhirnya tiba juga di sini. Perlahan, Salin semakin mendekat. Hingga ia berdiri tepat di depan Alister. Alister memang sengaja mundur menyediakan tempat untuk Salin. Dengan kepala tertunduk ia mundur beberapa langkah.
Ia sangat senang Salin memilih posisi yang ia sediakan. Sehingga memudahkan ia memandang Salin, wanita yang mengalihkan dunianya itu.
Alister menatap Salin dari atas hingga ke bawah. Ada lebam dan luka lagi di bagian pergelangan tangan, dahi dan juga betis kakinya. Kebetulan Salin memakai rok yang mengekspos betisnya.
"Oh, Tuhan. Hatiku sakit melihat ibu," ucapnya di hati.
"Benar-benar bin*tang suaminya itu. Tega dia memperlakukan istrinya layaknya hewan," makinya di hati.
Alister mengepal tangannya kuat. Rasanya ingin ia tonjok lelaki yang menjadi suami wanita itu jika dia ada disini sekarang. Tapi itu tidak mungkin. Sehingga Alister hanya bisa memendam amarahnya dalam hati.
Ia tatap lagi Salin lamat-lamat, hingga ia membaca name tag salin yang ada di dadanya.
"Salina. Nama yang bagus dan cantik. Secantik orangnya," tutur Alister memuji. Tapi lagi-lagi pujian itu hanya di hati. Tak berani ia untuk mengungkapkan. Ia takut Salin salah paham padanya. Alister takut Salin berprasangka bahwa ia memanfaatkan dirinya.
Bahkan sampai Salin menaiki bus pun, tak luput dari pengamatan Alister. Ia tetap mengikuti bus itu. Bahkan sesekali beriringan jika tak ada mobil di samping bus yang ditumpangi Salin. Lagi-lagi Alister senang karena Salin tak menyadari keberadaan lelaki tampan itu.
Sepeti pengagum rahasia yang tak ingin diketahui oleh orang yang dikagumi, begitulah Alister.
"Salin," panggil Fradina. Ia melihat Salin yang baru saja turun dari bus.
"Eh, aku .. aku udah baikan kok. Lagian aku bosan di rumah," jawab Salin sambil tersenyum ramah.
"Kalau gitu, kamu nggak usah banyak kerja. Kamu cukup duduk saja melayani pelanggan. Saya sudah minta yang lain kok gantiin kamu. Jadi kamu santai saja," ucap Fradina lagi.
"Maaf, Bu tapi saya merasa tak enak," sahut Salin. Sungkan banget rasanya kalau orang lain yang mengerjakan pekerjaannya, sementara ia mampu.
"Oh, tidak apa. Justru saya merasa sebagai manajer yang jahat yang memaksa bawahannya untuk bekerja padahal masih sakit. Saya nggak mau dituduh sadis," ucap Fradina sambil tersenyum.
"Tapi, Bu..."
"Sudah. Jangan membantah. Dengar kata atasan," ucap Fradina tegas.
Dari Fradina melihat Alister yang mengamati Salin dalam-dalam. Dan Fradina sebagai orang yang mengenal Alister, tentu tau arti senyuman itu.
Fradina pun tersenyum kepada Alister dan melambaikan tangannya. Mengacungkan jempol kepada pria itu.
Sementara Alister merasa malu ketahuan mengamati gerak-gerik Salin. Dan ia hanya bisa tersenyum malu lalu naik ke dalam mobilnya entah mau kemana.
"Sepertinya ada yang kepincut ini," batin Fradina.
"Semoga saja hatimu sudah terbuka menerima perempuan lain. Aku doakan," harap Fradina dalam hati.