
Alister tersenyum mendengar penjelasan Salin. Bagaimana ia bisa mendapatkan bukti atas kekejaman Setu terhadapnya. Ia merasa bangga dan salut kepada Salin.
Selain karena ketegarannya sebagai wanita, ia juga tidak manja, mandiri dan juga cerdas. Membuat Alister semakin merasa kalau Salin itu adalah seorang wanita yang unik, berkarakter dan pantas diperjuangkan.
Senyumnya semakin merekah melihat Salin yang bercerita tanpa jaga image.
"Makasih ya, Ter. Kamu udah mau bantuin aku hingga sejauh ini," ucap Salin. Ia juga mengembangkan senyumnya.
"Aku merasa lega. Aku merasa bebas. Rasanya sesak di dada aku selama ini sudah hilang, Ter. Itu semua karena mu, Ter. Coba kalau kamu nggak tolongin, mungkin aku bakal lebih sesak lagi, Ter. Bakal lebih menderita lagi. Lebih tepatnya aku akan selalu memikirkan perasaan orang lain dari pada perasaan ku sendiri. Sekali lagi makasih ya, Ter."
Alister diam saja. Tetapi senyumnya tidaklah pudar.
"Ter..." panggil Salin.
Salin mengibaskan tangannya di depan Alister.
"Ter, kamu dengerin aku nggak sih?"
Masih tak ada respon dari Alister. Ia malah menatap Salin semakin intens. Tetapi fokusnya bukan pada obrolan Salin.
"Ter!"
Akhirnya Salin menepuk pundak Alister dan menyeru dengan suara kuat.
"I-iya, kenapa kenapa?"
"Kamu ngelamun ya?"
"Ng-nggak. Kamu ngomong apa tadi?" Alister terlihat gugup.
"Jadi dari tadi aku ngomong panjang lebar, kamu nggak dengerin? Kamu mikirin apa sih? Kamu ada masalah?"
"Nggak. Aku baik-baik saja. Aku cuma kagum sama kamu, Lin. Kamu itu wanita yang paling tegar, paling cerdas dan paling mandiri yang pernah aku kenal," puji Alister.
"Kamu ngomong apa sih? Nggak jelas."
"Jujur, Lin. Aku nyaman ngobrol sama kamu. Ada banyak pelajaran yang bisa aku petik setelah aku mengenal mu. Salah satunya adalah membuat aku semakin bersyukur dengan apa yang aku miliki sekarang. Aku bersyukur bisa mengenal kamu, Lin."
"Ah, kamu bisa aja, Ter. Udah ah. Serius banget."
"Nih, hasil rekamannya."
Salin pun menyodorkan memori hasil rekaman kamera tersembunyi tersebut kepada Alister.
****
"Tha, kamu ada rekomendasi rumah sewa?" tanya Salin tiba-tiba.
Mereka saat ini sedang berada di kios Nantha.
"Ada. Buat siapa, kak?" tanya Nantha penasaran. "Buat adeknya kakak ya?" tanyanya kemudian.
"Bukan. Rumah sewa buat kakak. Kecil pun nggak apa-apa. Yang penting nyaman."
"Lho, kenapa kakak pindah?" tanya Nantha lagi. Berpura-pura ia tak tau kehidupan Salin. Padahal Alister selalu cerita kepadanya. Jadi, semua tentang Salin ia sudah tau. Tetapi sebagai orang yang belum lama mengenal Salin dan juga karena tak ada hubungan keluarga, ia meras tak punya hak mencampuri urusan Salin.
"Nggak apa-apa. Ingin pindah aja. Ingin cari rumah yang nyaman. Kontrakan lama juga udah habis masanya. Jadi pengen nyari yang lain gitu. Pingin ganti suasana," kilah Salin.
Entahlah, semakin mahir saja Salin ini bermain sandiwara.
"Ada sih, kak. Tapi Nantha takut kakak nggak suka. Soalnya kecil. Kalau untuk satu orang sih ya pas. Kakak sama siapa nanti tinggal disana? Berdua atau bertiga? Kalau lebih dari satu kayaknya nggak bisa kak. Kamarnya juga cuma ada satu," ucap Nantha panjang lebar.
"Buat aku aja, Tha. Nggak ada sama siapa-siapa."
"Oh, bisa, kak. Bisa. Kapan kakak ada waktu buat survei? Nanti kabarin ya?"
"Gimana kalau besok?"
"Boleh. Tapi sepulang aku sekolah ya, kak?"
"Siip." Salin mengacungkan ibu jarinya setuju dengan usul Nantha.
***
Sementara di mansion Setu, lebih tepatnya mansion atas nama Salin. Ibu dan anak itu sekarang sedang merasa tidak tenang. Mereka masih mengkhawatirkan Salin yang menurut mereka sudah meninggal.
"Setu, kita harus gimana? Harus kita apakan itu mayat?" ucap ibu Sirlina panik.
Semalaman ia tak bisa tenang bahkan tak bisa tidur karena memikirkan mayat Salin, yang menurutnya sudah meninggal.
"Setu juga nggak tau, Bu. Setu juga takut nih. Gimana kalau kita ketahuan? Bisa berakhir di penjara kita, Bu. Bahkan bisa dipenjara seumur hidup karena menghilangkan nyawa seseorang. Apalagi kalau pembunuhan berencana "
"Ibu masih ingat kan kasus yang baru-baru ini viral?"
"Yang mana?"
"Seorang polisi membunuh bawahannya. Ibu tau kan hukumannya separah apa? Aku nggak mau Bu hidupku berakhir seperti itu."
Setu berpikir sejenak.
Ting
Tiba-tiba muncul ide dalam benaknya.
"Aku tau, Bu."
"Gimana? Gimana? Coba jelaskan ke ibu."
"Kita sembunyikan aja tuh mayat "
"Dimana?"
"Hmmm dimana ya?"
"Ah, kamu. Kasih ide malah nanggung."
"Dari pada ibu nggak ada sama sekali. Malah nyuruh aku buat mikir. Ya ibu juga mikir lah," protes Setu.
"Enak aja. ibu juga mikir. Emang kamu aja."
Ibu dan anak itu pun berdebat. Membuat pikiran mereka semakin buntu.
"Kita kubur aja di belakang mansion ini," celetuk ibu Sirlina tiba-tiba.
"Di belakang? Dimananya? Di belakang bukannya tembok?" sela Setu.
"Masa?" tanya ibu Sirlina.
Sudah selama ini dia tinggal di mansion ini tetapi ia tak tau bagaimana bagian belakang mansion ini. Karena memang ia tak pernah menginjakkan kaki kesana. Dan memang nggak ada kejadian yang mengharuskan ia kesana.
"Coba kita lihat!" usul Bu Sirlina.
Mereka berdua pun menuju belakang mansion. Mengamati dengan seksama bagian belakang dari mansion itu.
"Lho, kenapa ada lubang di sini?"
"Lubang? Mana?" tanya Setu. Ia pun tak tau selama ini ada lubang di sana.
"Coba kamu ke sini. Lihat nih!"
Setu pun melihat ke arah yang ditunjuk ibunya. Lalu berjalan mengarah ke sana.
"Iya, benar. Ada lubang. Eh bukan lubang tapi..."
Setu pun memperhatikan lagi dengan teliti. Bukan lubang, tapi seperti garis memanjang berbentuk persegi panjang.
"Kayak pintu, Bu," ujarnya.
"Iya, benar. Itu pintu. Pintu menuju kemana ya kira-kira?" tanya ibu Sirlina penasaran.
Setu hanya mengangkat bahu menandakan kalau ia pun tak tau.
"Kita cek saja, nak dari pada penasaran," usul sang ibu.
Setu menarik benda yang baja membuka pintu itu.
"Jadi, ini pintu menuju ke luar?"
"Keluar?"
"Iya Bu."
Ibu dan anak itupun ternganga. Tak pernah mereka tahu hal ini.
"Berarti selama Salin bisa keluar dari pintu ini?"
"Maksud ibu?"
Setu belum paham. Sepertinya ia kurang fokus.
"Kamu ingat nggak saat itu, saat kamu kurung Salin di kamar pembantu?"
"Ingat. Lalu apa hubungannya de-..."
"Ya dari sinilah dia kabur. Masa kamu nggak konek sih?"
Setu seketika tersadar.
"Aku ingat, Bu. Iya ya. Pasti dia lewat sini. Kurang ajar memang Salin."
"Sudah. Nggak ada gunanya kamu marah sekarang. Toh orangnya juga udah koid. Mendingan kita pikirkan tentang mayat wanita itu."