
"Tolong...... Tolong .....!"
"Percuma kamu berteriak, nona. Nggak kan ada yang bisa nolong kamu. Kamu tau dimana kita sekarang berada? Huh?"
"Tolong .."
Salin masih saja berteriak. Ia masih menggunakan usaha kecilnya itu berharap dapat pertolongan dari orang lain. Berharap, ada orang yang mendengar jerit minta tolongnya.
"Tolong ....!"
"Diam! Berisik banget sih jadi orang? Nggak bisa apa tenang sedikit?" Lelaki itu menghardik. Hampir saja ia melukai Salin. Sementara Salin, ia sudah menggunakan tangannya untuk melindungi kepalanya yang hendak dipukul oleh pria itu.
"Tolong!"
Di sisa ketakutannya, Salin masih mencoba berteriak. Meski suaranya terdengar lirih, gemetaran menahan rasa takut. Tenang yang perlihatkan tadi saat di dalam taksi, hilang sudah. Lenyap bersama ketakutan yang teramat sangat.
"Diam! Bisa diam nggak sih?"
"Tolong!"
Masih saja Salin berteriak. Tak peduli ia dengan bentakan pria itu. Baginya, lepas dari pria itu adalah hal yang ia inginkan sekarang.
"Aduh! Susah banget nih cewek. Hampir saja aku melukai dia. Bisa habis aku nanti," ucapnya di hati.
"Tapi kalau aku lengah, bisa lolos dia. Hilang dong uangku. Nggak nggak. Aku nggak mau hilang uangku. DP nya aja masih sedikit dikasih. Masa main hilang gitu aja," imbuhnya lagi tapi tetap di dalam hatinya.
Saat Salin melihat pria itu sedang sibuk melamun, buru-buru Salin menyikutnya, lalu ia tendang sesuatu yang berada diantara paha pria itu. Pria itu pun terkejut sambil meringis menahan sakit. Ia memegang benda di bagian tersebut. Mengaduh karena kesakitan.
"Dasar cewek kurang ajar!" umpatnya. Ia hendak mengejar Salin yang sudah berlari kencang, tetapi ia belum kuat untuk berdiri. Masih sakit benda tumpulnya yang bernama si Joni itu akibat tendangan Salin.
Sementara Salin, ia berlari kembali. Mencoba keluar dari daerah sempit itu. Mencari keramaian agar ia bisa meminta pertolongan. Sambil berteriak, ia berlari sekencang-kencangnya. Takut ia kalau sampai tertangkap lagi oleh pria yang berprofesi sebagai sopir taksi itu.
Namun, keinginan untuk menjauh dari sana sepertinya mustahil bagi Salin sekarang. Jalan yang lalui sekarang buntu. Ada tembok besar yang gak bisa panjat atau loncat.
Sementara ia melihat dari kejauhan seseorang berusaha mengejarnya, berlari dengan menahan sakit.
"Sini kamu perempuan Gi*a!" seru pria itu. Tangannya masih tetap memegang benda tumpul yang masih menahan sakit akibat tendangan si maut itu.
Jantung Salin semakin berdetak hebat. Sangat takut ia sekarang. Tak ada yang bisa menolongnya sekarang. Tak ada orang di sana. Karena memang malam hari, orang jarang lalu lalang di sana.
Semakin lama, semakin mendekat pula pria itu ke arahnya. Semakin tebal pula rasa takutnya sekarang. Sepertinya pria itu juga sudah tak merasakan sakit lagi. Ia sudah kembali seperti sediakala.
"Mau kemana kamu? Hah?" ucapnya dengan napas yang ngos-ngosan.
"Berapa kali kubilang, kamu nggak akan bisa lari lagi. Ini jalan buntu. Tak ada orang yang bisa membantu kamu. Sini kamu, sebelum kuserahkan kamu kepada seseorang, lebih baik kita main bersama. Aku menikmati dan kamu pun menikmati. Gimana?"
Pria itu mencoba menawarkan sesuatu kepada Salin. Tentunya yang mendapat keuntungan disana adalah pria itu. Pria itu berharap, dengan apa yang ja katakan barusan, Salin akan mau diajak kerjasama.
"Kamu seorang janda kan? Pasti kamu kehausan ya? Ingin dibelai?"
"Secara kan sudah tidak ada lagi yang bisa menghangatkan. Yok, sama aku aja!"
Dengan brutal, Salin menampar pipi pria itu. Marah kali ia mendengar penghinaan laki-laki itu terhadapnya. Seolah ia adalah perempuan gampangan.
"Jaga sopan santun kamu!" tutur Salin dengan marah.
"Maju kamu selangkah, saya laporkan kamu ke polisi."
"Cuiih, sombong. Lapor ke polisi? Caranya?"
"Lepas dari sini saja kamu nggak bisa, gimana mau lapor polisi? Mimpi kamu? Bangun! Bukan waktunya untuk menghalu!"
Lelaki itu mengoceh saja sesuka hatinya. Sambil komat-kamit, Salin bisa melihat dengan jelas pria itu sedang memegang ikat pinggangnya. Entah apa yang mau ia lakukan Salin tak tau. Yang pasti, ia sangat takut sekarang.
Mata pria itu meneliti tempat itu. Menyusuri setiap tempat, entah apa yang sedang ia cari. Tangannya masih tetap sibuk dengan ikat pinggangnya.
"Ahh, kenapa sih saat genting seperti ini susah sekali diajak kerja sama? Sial," umpat lelaki itu. Mengutuk ikat pinggangnya yang tak kunjung terbuka.
"Tolong!"
Kesempatan itu Salin gunakan untuk menjerit-jerit, mencari pertolongan. Berharap ada yang menemukan dia disana yang sedang terjebak dengan pria mesum itu.
"Sabar dong, sayang. Jangan ribut ah. Tenang, pasti saya kasih kok," ucapnya merayu. Nadanya sudah terdengar genit.
"Cantik juga ini perempuan," batin pria itu. Baru sadar ia kalau wanita yang ada di hadapannya sekarang, cantik.
"Boleh juga nih," ucapnya lagi dalam hati. Ia menelan salivanya dengan kasar. Tangannya yang sedari tadi sibuk dengan celananya, kini malah berpindah ke atas. Mencoba mengusap wajah Salin.
Salin bersikeras untuk menghindari sentuhan pria itu. Rasanya ia sudah tak kuasa untuk melawan. Dimana tangan satu lagi pria itu, mencengkram kuat pergelangan tangannya. Teringat ia kejadian lalu. Bagaimana Setu berbuat kasar padanya.
Bahkan sekarang, bayangan kekerasan itu kembali terngiang di benaknya. Membuat fokusnya terpecah. Bukan lagi lepas dari cengkraman pria itu yang ja pikirkan sekarang.
"Kamu tenang saja. Aku akan bermain lembut. Lagian, kamu kan sudah pengalaman. Jadi, nggak wajar kalau kamu takut," ucap pria itu. Masih berusaha menyentuh wajah, dagu Salin. Tetapi salin terus menghindar.
"Tolong! Lepaskan aku! Apapun akan aku berikan asal, kamu mau melepaskan aku," pintanya penuh permohonan.
Bugh
Bugh
Belum berhasil pria itu menyentuh Salin, pria itu mendapat serangan dari arah belakangnya. Seseorang yang tidak ia kenal datang tiba-tiba, menyerangnya yang sedang sibuk dengan niatnya demi bisa melampiaskan hasratnya.
"Oh, mau jadi pahlawan kamu? Baiklah, terima akibatnya."
Dengan kasar, pria itu pun akhirnya melepaskan cengkeramannya terhadap Salin. Dan sekarang, ia ingin menyingkirkan pria yang sudah datang bak pahlawan kesiangan, seperti kata sopir taksi itu.
"Sebelum kamu berhasil menyentuh dia, langkahi dulu mayatku!" tegas lelaki yang baru saja datang itu , bersamaan dengan ia menatap Salin penuh tanda tanya.
"Apa ada yang terluka?"