Please, Love Me Husband

Please, Love Me Husband
Chapter 34. Kecurigaan Stephania



"Hallo, kak. Gimana kabar?"


"Kabar baik, dek. Kamu gimana? Sekolah mu gimana? Lancar? Mama gimana? Papa?"


"Iih, Kakak. Satu-satu dong nanyanya. Borongan banget kayak hemat waktu. Kakak buru-buru? Mau kemana emang?"


"Kamu mah sama saja. Suruh kakak nanya satu-satu, kamu juga malah nanyanya banyak banget. Nggak ada bedanya sama kakak," sela wanita itu. Ia tersenyum dengan pertanyaan sang adik.


"Kak, aku kesel sama papa." Si adik bungsu mulai bercerita kepada sang kakak.


Hubungan sang kakak tak seperti dulu semenjak Salin sudah menikah. Tak bisa sesuka hati jika ingin cerita. Tak bisa pula sesuka hati bertelepon dan tak bisa sesuka hati berkunjung. Sudah banyak batasan yang harus dijaga.


"Kesal kenapa?"


"Aku lulus kak ujian masuk perguruan tinggi negeri. Tapi papa nggak kasih ijin. Sama kayak kakak dulu. Papa bilang perempuan cukup tamat SMA saja," ungkap Stephania.


"Kak Ardan bilang apa? Nggak mau bantuin kamu tuk jelasin ke papa?" tanya Salin.


"Kak Ardan sedang nggak disini, kak. Lagi mengurus cabang yang ada di kota B. Jadi kak Ardan nggak tau masalah ini," terang Stephania.


"Mama, apa katanya?"


"Yah seperti biasa, kak. Mama Mama bisa berbuat banyak. Mama memang udah berusaha ngejelasin ke papa, tapi ya itu. Papa mana peduli. Apa yang dia bilang kan nggak boleh dibantah. Kayak kakak nggak tau saja," sahut Stephania.


"Bahkan nih kak. Papa sampai mukul mama lagi karena mama berusaha membujuk papa. Dagu mama sampai terluka karena jatuh, kak."


"Apa? Mama terluka?" tanya Salin memastikan.


"Aduh, pakai keceplosan lagi nih mulut. Aduh, harus jawab apa ya. Nanti kakak kepikiran lagi. Aku kan udah janji sama mama untuk nggak cerita sama kakak. Ih, dasar mulut memang nggak bisa direm," batin Stephania mengutuk mulutnya sendiri.


"Nia... Nia... Kamu kok diam saja sih?" tanya sang kakak. Membuat Stephania terkejut dari lamunannya.


"I-iya, kak."


"Kenapa kamu diam saja? Mama kenapa?"


"Ah, e, mama... Mama nggak apa-apa kok, kak. Mama sehat. Mama baik, papa juga," sahut Stephania gugup. Ia berusaha tersenyum agar sang kakak yakin dengan penjelasannya.


"Bukan itu yang kakak tanya," cerca Salin. "Kamu bilang mama terluka, apa benar?"


Lagi-lagi, Stephania merutuki kebodohannya. Yang tak bisa menjaga rahasia. Yang tak bisa menjaga mulutnya agar tidak kebablasan.


"Ng-nggak kok, kak. Mama udah baik-baik saja kok."


"Udah baik-baik saja? Itu artinya mama memang benar terluka," sela Salin. Ia kesal dengan adiknya yang tak mau jujur itu tapi selalu keceplosan bicaranya.


"Salin...."


"Salin..." Suara dari luar kamar yang menggelegar dibarengi dengan suara pintu yang digedor dengan kuat.


"Salin, kamu dengar tidak? Kamu tuli ya?" pekik suara itu lagi dari luar.


"Siapa itu, kak?" tanya Stephania penasaran. "Kak Setu ya kak?"


"Bu-bukan. Dia...."


"Bukan? Maksud kakak orang lain? Cowok lain gitu? Kakak bawa cowok lain ke rumah?" cerca Stephania menerka - nerka.


"Nggak, bu-bukan seperti itu. Itu suaranya....."


Salin semakin gugup. Tak mungkin ia mengatakan kalau itu adalah Setu. Pasti Stephania akan tau nanti kalau Salin diperlakukan tidak adil di rumah ini. Tidak, Salin tak mau kalau sampai itu terjadi.


"Udah dulu ya, Nia. Nanti kakak hubungi lagi. Salam untuk mama dan papa," ucap Salin cepat. Ia tak mau kalau sampai Stephania mencium bau sesuatu dalam keluarga kecilnya.


Tuuuut


tuuuut


tuuuut


Belum selesai Stephania dengan kalimatnya, Salin sudah memutus panggilan itu sepihak.


"Ihh, kak Salin gimana sih? Aku belum selesai juga ngobrolnya," gerutu Stephania. Ia menatap ponselnya dengan kesal. Seolah ponselnya melakukan kesalahan padanya.


"Kamu kenapa, Nia?" tanya Ardan tiba-tiba. "Dari tadi aku perhatikan kamu ngomel saja. Ngomel kok sama handphone. Kamu gimana sih?"


"Eh, kak. Ngagetin," sahut Stephania.


"Ini kak, kak Salin lho. Tadi itu kita lagi ngobrol serius eh tiba-tiba dimatiin telponnya. Jadi kesal aja. Malah aku belum tuntas curhatnya lagi," celetuk Stephania.


"Salin? Tumben. Apa kabar dia?" tanya Ardan antusias.


"Baik, Kak. Kak Salin baik. Dia titip salam buat kakak,' ucap Stephania.


"Oh. Syukurlah kalau dia baik-baik saja. Dari kemarin itu saja yang menjadi pikiran bibi. Kasian bibi, Nia. Sepertinya ia sangat merindukan Salin," ucap Ardan sendu.


Bibi? Ardan memanggil namanya Salin bibi? Tentu. Karena mereka bukanlah saudara seibu. Tetapi Ardan adalah anak dari kakaknya mama Salin. Dulu papa Salin sudah pernah menikah. Dan lahirlah Ardan dari istri pertamanya. Kebetulan, mama Salin adik dari mamanya Ardan. Walau se ayah, tapi sampai saat ini Ardan memanggil namanya Salin dengan panggilan bibi. Dari kecil dia lebih nyaman memanggil bibi. Bukan mom, mam atau ibu seperti yang lainnya.


Stephania diam sejenak. Terngiang di benaknya kilas balik suara menggelegar yang memanggil sang kakak yang sedang berada di dalam kamar tadi. Ia merasakan ada sesuatu yang tidak beres.


"Tapi, kak...." ucap Stephania.


"Tapi apa,? Kenapa kamu gugup?"


"Aku merasa ada yang ditutupi kak Salin kak. Aku tadi mendengar suara kak Setu marah-marah, kak. Udah gitu, buru-buru kak Salin matiin telpon, kak. Padahal kita lagi ngomong serius tadi."


"Kamu yakin itu suara Setu?"


"Aku yakin banget kak."


"Salin ngaku itu suara Setu?"


"Nggak, kak. Pas aku tanya kakak itu kayak gugup gitu. Terus langsung matiin telpon. Aneh nggak sih menurut kakak? Menurutku aneh, kak. Aku yakin kak Salin menutupi sesuatu dari kita," terang Stephania sangat yakin.


Sebagai seorang adik, tentu ia sangat mengenal sang kakak. Begitupun dengan Ardan. Tapi Ardan tak mau langsung percaya begitu saja dengan keterangan Stephania. Ia harus mencari tau yang sebenarnya. Tak mau Ardan mengambil kesimpulan sekarang. Mungkin saja dugaan Stephania salah.


"Kita doakan saja semoga tak seperti prediksi mu ya," lirih Ardan. "Semoga Salin baik-baik saja disana. Nanti kakak ajak kamu ke sana ya."


"Beneran, kak?" tanya Stephania antusias.


Sudah lama ia tak bertemu raga dengan sang kakak. Ia sangat rindu. Banyak hal yang ingin ia ceritakan dengan sang kakak.


"Iya, bener. Tapi tunggu kamu selesai ujian dulu," jawab Ardan.


Seketika Stephania baru tersadar bahwa Ardan yang ia tau masih di luar kota tapi sekarang justru ada di hadapannya. Dari tadi dia tak sadar meski mereka sudah saling ngobrol.


"Tapi kak kok kakak ada disini? Bukannya masih di kota B?"


"Dasar!" sahut Ardan, sembari menyentil hidung sang adik gemas. "Dari tadi kakak udah disini tapi kamu baru sadar sekarang?"


"Hehehe, iya kak. Maklum gagal fokus."


"Alasan," cibir Ardan. Ia tersenyum dengan tingkah sang adik.