Please, Love Me Husband

Please, Love Me Husband
Chapter 92. Kebutaan Senja



"Untuk apa kamu membawa aku ke sana, Ter? Nggak, aku nggak mau."


"Siapa tau masih bisa diobati. Kita usaha dulu. Untuk hasil, biar yang Kuasa yang berkehendak," jawab Alister dengan nada serius.


Alister juga masih tetap fokus pada setirnya, meski ia sudah menurunkan lajunya. Tidak secepat tadi.


"Sudah nggak ada guna, Ter. Percuma. Aku udah coba berobat kemana-mana tapi hasilnya sama. Tidak ada dokter yang menjamin bahwa aku bisa normal seperti sebelumnya," terang Salin dengan nada putus asa.


"Kamu tenang saja, Lin. Aku ada kenalan dokter mata. Dia sangat profesional. Kita coba dengan beliau. Siapa tau kamu masih ada kesempatan untuk melihat dengan normal," ucap Alister tetap kukuh.


"Kamu kenapa begini, Ter?"


"Maksudnya?" tanya Alister tak mengerti. Sedikit terkejut ia dengan pertanyaan Salin. Ada sesuatu yang ia tangkap nampak janggal dari nada suara Salin.


"Kamu nggak terima aku dengan kondisi seperti ini? Kamu mau menjauhi aku? Nggak apa-apa, Ter. Aku nggak pernah maksa untuk kamu, supaya kamu dekat dengan aku. Silakan jauhi aku, Ter dan juga keluarga ku."


"Bukan begitu maksud aku, Lin. Tapi...."


Berurai sudah air mata Salin usai mengucapkan kalimat itu. Ia sudah tau hal ini akan terjadi jika ia jujur dari awal sekali pun. Tetapi entah kenapa masih saja hatinya sakit. Tak mudah ia untuk mengeluarkan kata-kata itu dari bibirnya yang kini bergetar.


Berikut tubuhnya juga bergetar. Sakit rasanya. Saat ia mulai belajar membuka hati pada pria yang selalu ada di dekatnya akhir-akhir ini, saat itu pula ia mulai ragu.


Yakinlah ia akan pria itu? Pria yang mengaku cinta kepada dirinya. Pria yang mengaku ingin mempersunting dirinya? Apakah ada lelaki seperti dia, menerima seorang wanita yang bersatus janda dengan kekurangan yang begitu banyak.


Alister mengehentikan mobilnya. Ia sungguh terkejut dengan respon Salin. Yang menurutnya itu adalah respon yang berlebihan. Kesimpulan yang terlalu terburu-buru.


Alister menyodorkan tisu pada Salin. Ia tau, saat ini pikiran Salin sangat lah terpukul. Ia sudah salah paham. Maksud Alister di sini bukan karena tidak menerima ia apa adanya. Hanya saja ia masih berharap meski kemungkinan satu persen kesembuhan Salin, ia tak akan menyia-nyiakan kesempatan itu.


Ia mau, wanita yang ia cintai mendapatkan cinta yang utuh. Juga penglihatan yang utuh. Kalau memang usahanya tidak akan membuahkan hasil maka ia akan tetap setia. Karena ia mencintai wanita itu. Menerima kelebihan maupun kekurangannya.


"Senggaknya kita coba usaha terakhir. Apapun hasilnya, aku nggak kan berubah. Masih tetap aku dengan keputusan mu, mempersunting kamu," tegas Alister. Sudah cukup ia dari tadi membiarkan Salin mengeluarkan asumsi yang tidak-tidak. Saatnya untuk menghentikan sebelum Salin berkata terlalu jauh.


Kini, mobil Alister telah berdiri kokoh didepan sebuah rumah sakit terkemuka di kota itu. Hanya orang-orang berada yang sanggup untuk berobat di sana.


"Ayo, turun. Kita sudah sampai "


Alister melepas seatbeltnya. Lalu ia keluar dari mobil itu, mengitari bagian depan mobil. Ia pun membuka pintu mobil di sebelah Salin. Lalu, membantu Salin untuk melepaskan sabuk pengamannya juga.


Tetapi Salin bukannya langsung ikut turun, keluar dari mobil. Ia malah sibuk mematung, tetap duduk manis di dalam mobil. Termenung, entah apa yang ia pikirkan sekarang.


"Kenapa?" tanya Alister lembut. Ia mencondongkan tubuhnya, mencari tau ada apa dengan wanita itu. Kenapa tatapannya kosong?


"Lin," ucapnya, menepuk bahu Salin lembut.


"Apa yang kamu pikirkan?"


"Ki-kita di sini .."


"Percuma, Ter," sela Salin. Ia tetap kukuh dengan perkataannya. Pengalaman selama bertahun-tahun berobat kemana-mana, menjadi patokan baginya untuk tidak melakukannya lagi.


Apa mungkin ilmu kedokteran sudah berubah? Atau ada penelitian yang membuktikan bahwa ia bisa sembuh?


"Tolong, kamu buang kata percuma itu. Percaya sama aku. Ya "


Alister juga tetap dengan niatnya. Sebisa mungkin, ia memberi kekuatan kepada Salin. Memberikan kepercayaan kepada Salin, meyakinkan ia bahwa walau satu persen pun masih ada kesempatan.


"Kamu hanya mengikuti serangkaian tes. Selanjutnya percayakan semuanya padaku," imbuhnya lagi. Ia mengusap pipi wanita itu dengan lembut.


"Percaya lah, semuanya pasti akan lancar. Kamu bisa melewatinya. Semuanya akan baik-baik saja. Aku akan selalu ada bersamamu meski kamu belum menjawab lamaran ku."


Ucapan Alister barusan membuat Salin tersindir. Benar. Sampai saat ini ia belum memberi jawaban atas ungkapan perasaan Alister waktu itu. Jangankan untuk menikah dengannya, menjawab apa ia bersedia menjadi kekasihnya saja Salin belum menjawab.


"Ya udah, yuk kita masuk. Dokter sudah menunggu. Tadi aku sudah mengabari lewat pesan. Ia pasti sedang menunggu di ruangannya sekarang."


Alister mengakhiri obrolan yang serius itu. Tak mau ia membuang waktu begitu saja. Karena waktu pun terus berjalan, semakin larut sudah. Ia harus pulang dengan membawa hasil yang memuaskan.


****


"Halo, Lister. Apa kabar?"


Seorang pria yang umurnya sekita empat puluh tahunan menyapa Alister begitu akrabnya. Seragam putih yang ia kenakan membuktikan bahwa ia adalah seorang dokter.


"Dia yang kamu sebut itu?" tanyanya dengan isyarat menatap ke arah Salin yang sedang sibuk menyesuaikan diri dengan lingkungan baru, belum pernah ia jamah sama sekali.


Dengan keterbatasan penglihatan yang ia punya, bersama dengan pendengarannya yang masih tajam, ia mencoba menelusuri setiap ruangan. Aroma obat tentunya sangat kental memenuhi ruangan itu. Terlihat terang, hingga Salin tidak begitu sulit menguasai medan ruangan tersebut.


Alister pun memberikan jawaban dengan mengangguk pula.


Suasana di ruangan itu tidak sepi juga tidak ramai. Hanya ada satu orang perawat yang bertugas di sana bersama dengan dokter Arta.


Serangkaian tes pun mulai dijalani oleh Salin. Sementara Alister menunggu dengan tenang. Ia yakin semuanya akan baik-baik saja. Hatinya telah ia siapkan apapun yang terjadi nantinya. Apapun hasilnya nanti, ia sudah terima dengan besar hati.


Hingga beberapa menit kemudian, Salin sudah kembali duduk di samping Alister. Kursi yang ia duduki cukup memberi kenyamanan untuknya.


"Bagaimana, om?" tanya Alister kepada dokter Arta.


"Untuk hasilnya, belum bisa kita ketahui sekarang. Tapi yang jelas, menurut keterangan dari nona Salin, saya hanya menduga bahwa gejala yang ditunjukkan merujuk bahwa nona Salin mengalami kebutaan senja. Disebut juga retinitis pigmentosa."


Dokter Arta menerangkan dengan sederhana, agar pasiennya itu mengerti apa yang ia sampaikan.


"Apa itu, dok? Aku baru pertama kali dengar?" Salin memutuskan untuk bertanya. Ia penasaran. Dari berbagai macam tes yang ia lalui dulu, tidak ada yang mendiagnosis kalau ia mengalami kebutaan senja atau retinitis pigmentosa.