
"Trimakasih sudah mengembalikan Salin ku. Trimakasih sudah mengembalikan tawanya. Dan trimakasih telah menghapus luka di hatinya, nak."
"Tante sebagai mamanya, tak bisa berbuat apa-apa selama ini. Tapi kamu yang bukan siapa-siapa, malah perduli dan mau melepaskan Salin dari belenggu neraka itu."
"Saya ikhlas tante. Meski hingga sekarang ini Salin masih menolak ku. Dengan alasan...."
Alister tak melanjutkan kalimatnya. Membuat mama Sefarina mendelik, menatapnya penuh tanya.
"Alasan apa?" tanyanya pada akhirnya.
"Salin masih takut, tante. Sepertinya ia trauma akan masa lalunya. Meski saya sudah memberikan keyakinan, sudah berjanji bahwa saya tidak seperti mantan suaminya, tapi ia tetap tidak mau. Bahkan sedikit saja ia tak mau membuka hati untuk saya, tante."
Alister menunduk. Ada gurat kekecewaan di mimik wajahnya. Mama Sefarina tau itu. Ada nada sendu juga pada kalimat panjang lebar Alister tadi. Dan sebagai ibu, tentu mama Sefarina pun tau perasaan Salin.
"Kamu yang sabar ya, nak. Tante tau, nggak mudah untuk menyembuhkan luka hati. Tapi memang jika kamu sabar, kamu ikhlas, dan kamu tetap berjuang, maka kalau memang kalian berjodoh, kalian akan disatukan," ucap mama Sefarina menguatkan Alister.
Mereka tak menyadari bahwa Salin mendengar obrolan serius mereka. Dan Salin hanya diam saja. Ia mengakui apa yang dikatakan Alister itu benar adanya. Tak semudah itu ia melupakan masa kelamnya. Dan tak semudah itu pula Alister menggantikan posisi Setu di hatinya.
Kalau boleh jujur, Salin memang pernah sayang dengan Setu. Pernah menempatkan Setu di dalam lubuk hati terdalamnya. Oleh karena itu, tak semudah membalikkan telapak tangan ia mengusir Setu dari dalam sana. Ia harus ekstra, membuang jauh-jauh tentang Setu dari dalam hatinya.
Bukan hanya rasa benci yang harus ia buang. Bukan pula hanya rasa sakit, luka dan perih yang harus ia buang, tetapi juga rasa cinta yang pernah ada harus juga ia singkirkan.
Salin tak mau bayang-bayang masa lalunya menjadi bumerang baginya. Tak mau ia masa lalunya menjadi penghambat ia untuk melanjutkan kehidupannya. Ia harus move on, walau bagaimanapun caranya. Harus ia tempuh dan tak boleh tanggung-tanggung.
Dengan diam, ia akhirnya beranjak dari tempatnya. Tak ingin ia mama Sefarina dan Alister tau kalau ia mendengar semuanya.
Jujur, sejauh ini ia nyaman dengan Alister. Tetapi ia belum bisa membalas perasaan Alister. Di satu sisi, tak ingin ia mengecewakan Alister. Dengan rasa takut yang ia miliki, dengan trauma yang masih melekat, ia ingin Alister mencari wanita lain. Yang lebih layak buat Alister bahagia.
Dirinya nggak bisa. Jangankan buat Alister bahagia, buat bahagiain diri sendiri saja dia belum bisa. Masih berjuang ia melepas semua penat, sakit, sesak dan perih yang ada. Meski ia harus tertatih-tatih, tapi harus tetap berjuang.
Bukan pula karena ia tak percaya kepada Alister. Karena Alister kembali di pertemukan dengan mantan kekasihnya setelah ia mengungkapkan isi hatinya kepada Salin. Bukan itu.
Karakter Rebecca Salin sudah tau. Sudah bisa ia baca. Karena banyak orang-orang di luar sana yang seperti Rebecca. Datang kembali setelah menyakiti dan seolah dia yang tersakiti.
"Jadi, tante setuju kalau saya mencintai Salin?"
Mama Sefarina tersenyum tipis mendengar pertanyaan Alister.
"Nak, dalam cinta tak perlu kamu bertanya persetujuan siapa pun. Karena cinta itu hadir tanpa kamu minta, tanpa kamu tau kan datangnya. Dan tanpa memandang kepada siapa cinta itu."
"Kamu bebas mencintai Salin atau siapa pun yang memang kamu cintai. Tante tidak berhak melarang kamu."
"Bagi tante, Salin bahagia, maka tante juga akan bahagia. Selagi kamu bisa bahagiain putri tante, maka restu tante sudah ada dalam genggaman mu."
"Gunakan itu sebagai modal mu, agar kamu bisa mendapatkan hatinya, mendapatkan cintanya. Tante tinggal dulu, ya."
****
"Besok, kosongkan jadwalmu. Papa dan mamanya Natasha akan berkunjung, membicarakan pertunangan kalian. Yang kemarin kan gagal, karena kamu belum kasih jawaban," ucap papa Sande tegas. Tak ingin dibantah.
Disini, papa Sande kepala rumah tangga. Keputusannya yang harus di dengar. Bukan dia yang diatur oleh Ardan. Tapi dia yang mengatur.
Ardan hanya diam saja. Bahkan selera makannya seketika hilang. Ia segera meninggalkan meja makan, menuju kamar lalu keluar lagi dengan menenteng tas kerjanya.
"Ardan, makan dulu!" titah sang papa.
Ardan menulikan indera pendengarannya. Ia berlalu begitu saja, meninggalkan papa Sande yang terlihat kesal.
Hari ini ia janjian ketemuan dengan Nantha setelah gadis itu pulang sekolah. Nantha mengatakan ada hal yang ingin ia tanyakan kepada Ardan. Dan Ardan pun setuju. Masa bodoh ia dengan rencana papanya yang ingin menikahkan ia dengan gadis pilihan sang papa.
Ardan juga ingin jujur tentang perasaannya kepada gadis yang bernama lengkap Agnesrani Anantha Pradina itu. Meski usia mereka terpaut jauh, tapi keduanya merasa nyaman. Hanya ia tak tau, apakah Nantha punya perasaan yang sama dengannya. Jikapun hanya sebelah pihak, ia akan berjuang. sampai pada garis finis.
Singkatnya, siang itu mereka bertemu di kafe. Tempat anak muda yang sudah mereka sepakati. Lebih tepatnya atas saran dari Nantha.
Benar kata pepatah, cinta tak memandang warna, usia. Buktinya, Ardan mau mau saja diajak nongkrong oleh Nantha di kafe yang notabenenya anak sekolahan atau anak kampus yang sering nongkrong di sana.
Tak malu ia, meski ia sudah tak semuda mereka. Ia hanya memikirkan cara bagaimana penampilannya biar kelihatan lebih muda, menyesuaikan diri saat berjalan bersama dengan Nantha.
"Udah lama?" tanya Ardan saat bokongnya sudah mendarat di kursi.
"Udah. Udah karatan aku," jawab Nantha jutek. Ardan sudah terlambat setengah jam dari perjanjian.
"Maaf. Tadi rada macet, jadinya telat."
Nantha abai, meski Ardan sudah berusaha menjelaskan. Ia bahkan mengerutkan bibirnya. Membuat Ardan semakin gemas saja. Sampai tak sadar kalau senyumnya terkembang.
"Kenapa senyum? Udah salah bukannya merasa bersalah," ketus Nantha.
"Iya, maaf cantik. Tadi kan aku udah minta maaf."
Mendengar suara lembut dan kata manis dari Ardan, pipi Nantha bahkan sampai bersemu merah. Sikap ketusnya hilang. Bibir mengerucutnya juga hilang. Berganti jadi rasa malu dan wajah merona merah.
"Berapa wanita yang sudah kakak rayu?" Nantha mencebik. Ia berusaha menutupi rasa malunya karena rayuan manis tadi.
"Hanya kamu," sahut Ardan singkat.
"Nggak percaya," tukas Nantha.
"Serius. Di umur kakak yang sudah setua ini, belum ada wanita yang bisa membuat hati kakak bergetar. Senang apabila bertemu. Hanya ..."
"Hanya dia?" sela Nantha cepat. Ia menyodorkan ponselnya ke hadapan Ardan.
Dimana ponsel itu sudah terpampang jelas poto Ardan dengan seorang wanita, yang sedang duduk berdua, sangat dekat di sebuah restoran.
"Dan ini juga."
Nantha menggulir ponselnya ke samping. Menunjukkan bahwa ada beberapa poto Ardan bersama gadis yang ia maksud.