
Flashback On
Pria itu merenung entah sudah berapa lama. Terdiam di dalam kamarnya yang sepi. Mengurung diri dari dunia yang serba hiruk pikuk. Seperti tak ada semangat hidup di dalam dirinya.
"Nak, oma mohon. Lupakanlah dia. Jangan kamu siksa dirimu, sayang. Oma nggak sanggup lihat kamu begini terlalu lama. Sudah hampir setengah tahun, sayang. Mau berapa lama lagi kamu menyiksa dirimu? Hmm?."
Wanita yang usianya tak muda lagi, menghampiri cucunya ke dalam kamar berwarna abu-abu itu. Rutinitas yang selalu ia lakukan dengan tujuan, agar sang cucu kembali seperti sediakala. Ceria, peduli terhadap keluarga. Tidak seperti sekarang, ibarat orang yang tak ingin hidup lagi.
Ya, hari ini lagi dan lagi. Untuk kesekian kalinya sang oma, opa, paman dan adik sepupunya menyelamatkan ia dari maut. Lelaki itu membuat gantungan tali di tengah-tengah kamarnya. Dan hampir saja ia mengaitkan lehernya ke tali itu agar tercekik.
Untuk saja semua keluarga sigap, tak pernah meninggalkan dia sendirian dalam waktu yang lama. Mereka selalu berusaha bersama-sama untuk mengembalikan Alister yang dulu.
Pria itu adalah Alister Galeh Pratama, anak tunggal dari pasangan Anggi Lestari dan Rodrigo Pratama. Mereka berdua sudah terlebih dahulu menghadap yang kuasa karena sebuah kecelakaan tragis.
Kehilangan kedua orang tua dari kecil, membuat Alister kekurangan kasih sayang dari papi maupun daddy nya. Nenek dan kakeknya lah serta pamannya yang selama ini membesarkan dia hingga ia menjadi pria yang sukses bahkan dikagumi oleh banyak kaum hawa.
Oma, opa, serta pamannya merawatnya layaknya anaknya sendiri. Begitu pun dengan Agnesrani Anantha Pradina, adik sepupu Alister dari pernikahan pasangan Adinda Maharani dan Aaron Alaric Pratama.
Namun kejadian naas itu menewaskan Anggi Lestari, Rodrigo Pratama dan Adinda Maharani. Kala itu mereka sedang berpergian. Aaron dan Agnesrani Anantha ikut serta bersama mereka. Akan tetapi, Aaron dan Nantha bisa selamat hingga sekarang Nantha sudah dewasa.
"Kak, kembalilah. Nantha mohon. Nantha sayang kakak. Nantha kesepian, kak. Nggak ada teman berbagi seperti biasanya. Nggak ada yang bisa jagain Nantha dari laki-laki yang jahatin Nantha. Please, kak." Gadis itu menangis, menatap pilu sang kakak.
Nantha dan Alister adalah sama-sama anak tunggal. Oleh karena itu mereka akan sangat kesepian jika salah satu diantara mereka terjadi sesuatu seperti sekarang ini.
"Ini bukan percobaan bunuh diri yang pertama kali, sayang. Kalau oma hitung, ini udah yang kelima kali. Oma sedih, oma terluka. Bisakah kamu melupakan dia dan membuat oma sebagai penggantinya? Bisa sayang?"
Butiran bening pun jatuh dari pelupuk mata sang nenek. Membasahi tangan Alister yang terlipat. Tetapi ia tetap tak bereaksi. Tatapannya kosong. Menerawang jauh entah kemana. Tak ada yang tau isi hatinya. Tak ada yang bisa membuat ia kembali seperti Alister yang dulu.
Tangannya masih berlumur darah. Akibat ia menggores pergelangan tangannya. Kejadian itu seharu yang lalu. Akan tetapi, belum juga kering luka itu karena ia menolak untuk diobati. Ia akan menyiksa dirinya lebih parah bila ada yang berniat mengobati luka itu.
Luka itu masih menganga lebar. Tetapi luka batinnya yang lebih parah. Kalau luka pada badan masih bisa diobati, tetapi luka hati tidak. Hanya diri sendiri yang bisa menyembuhkan. Walau berbagai solusi dari luar sudah di lakukan, tetapi bila diri sendiri tak ada niat untuk sembuh darii luka itu maka percuma.
Begitu pun dengan Alister. Sampai saat ini tak ada niat sedikit pun untuk sembuh dari luka menganga itu. Luka yang disayat sembilu tajam, lalu ditaburi dengan asam. Sungguh perih, tapi tak berdarah.
Alister, adalah pria yang susah jatuh cinta kepada kaum hawa. Tetapi sekali jatuh cinta, maka ia akan meletakkan cinta itu sejauh-jauhnya di dalam dasar hatinya. Sulit ia melupakan wanita itu, melupakan kenangan yang telah banyak mereka ukir.
Begitu pun dengan sekarang. Enam bulan sudah Rebecca menancapkan duri tajam dalam hatinya. Enam bulan pula ia menyiksa batinnya. Segala cara sudah dilakukan oleh keluarga, tapi belum juga ada perubahan.
Semua kenangan dalam bentuk barang yang berhubungan dengan Rebecca sudah dibuang oma bahkan di bakar agar tak meninggalkan jejak. Bahkan baju-baju yang pernah Alister pakai saat ia kencan dengan Rebecca ikut pula dibakar.
Tetapi apa? Kenangan di hati Alister tentang Rebecca, tak terbuang. Karena memang tak ada yang bisa membuangnya. Kecuali dirinya sendiri yang membuang.
"Jika sampai enam bulan lagi kamu begini, maka oma akan pergi dari hidup kamu. Oma nggak akan mau melihat kamu lagi. Hmm," ucap sang oma. Ia bermaksud mengeluarkan ancamannya berharap Alister akan terusik. Hal itu memang belum pernah mereka lakukan.
Tetapi sayang, itu juga tak berpengaruh pada Alister. Ia tetap dengan kebisuannya, kebungkamannya, bak patung bernafas ia, patung bernafas yang sedang murung. Jika ada diantara mereka yang suka konyol mungkin sudah membuat patung yang menyerupai Alister, tetapi dalam mode murung, sendu. Untuk ditunjukkan kelak jika Alister sudah kembali. Agar ia tau bagaimana ia saat hancur, sehancur-hancurnya.
Oma segera menghambur memeluk cucunya itu. Semakin hancur hatinya melihat sang cucu. Di usianya yang sudah senja, oma masih sehat. Tidak seperti oma-oma pada umumnya. Yang suka lupa, yang rabun bahkan yang pendengarannya semakin menurun.
Oma masih kuat untuk merawat cucunya yang sedang depresi berat itu. Mengurus makannya, pakaiannya, obatnya, semuanya oma yang urus. Tak ada yang kalau sedikit pun.
Hati orang tua mana yang tak luka bila ia sudah berusaha untuk kesembuhan anaknya, bahkan segala cara sudah ia tempuh tapi tak juga sembuh. Sakit bukan? Begitu pun oma.
"Oh, Tuhan sembuhkan lah cucuku. Kembali kan dia seperti sediakala," mohon oma. Air mata itu belum. juga reda sedari tadi.
Nantha yang juga terluka melihat sang kakak, ia ikut memeluk kakaknya itu. Keduanya merangkul Alister, tetapi Alister tidak bereaksi.
Sementara Aaron dan opa sedang duduk di ruang tamu, sembari menonton televisi. Mereka sedang menunggu di sana, berharap mendapat kabar baik dari oma mengenai Alister.
Keduanya juga tadi turut membantu menyelamatkan Alister yang sudah menggantung di tali itu. Untung saja lehernya belum tertarik oleh tali itu. Beberapa detik saja mereka terlambat, maka Alister tak akan bisa diselamatkan.
"Sudahlah, pi. Dari tadi ganti chanel mulu entah mau nonton apa. Sakit mataku, pi," keluh Aaron.
"Nggak ada acara yang enak dipandang."
"Kalau nggak ada ya dimatikan tv nya, pi. Itu aja susah amat," omel Aaron lagi.
Belum sadar ia kalau papinya itu sebenarnya hanya mencoba mengalihkan hatinya dari kondisi sang cucu. Pura-pura menyibukkan diri agar bisa teralihkan dari keadaan Alister yang sangat memprihatinkan.
"Aaargh," gerutu opa kesal.
Ciklik
Opa mematikan televisi dengan cepat dan kesal.
Flashback end