
"Kak Setu...."
"Setu..."
"Setu.... Ada apa ini?"
Serempak Stephania, Ardan dan juga papa Sande bergegas menghampiri Setu dan mama Sefarina yang sudah terkapar di marmer dingin itu. Menyuarakan nama Setu sebagai tanda mereka bertanya apa yang terjadi.
"Mama...." seru Stephania.
"Bibi...." Ardan menimpali.
"Ma, bangun, ma," pinta Stephania.
"Kak, mama kak. Ada apa dengan mama?" Panik sudah Stephania, Ardan, papa Sande dan juga Setu.
"Kita bawa bibi ke rumah sakit," ujar Ardan segera.
Tanpa aba-aba atau komando dari siapa pun, Ardana segera menggendong mama Sefarina.
"Buka mobil, dek," titahnya pada adik bontotnya.
Stephania menatap tajam Setu yang berdiri mematung, sementara Ardan memasukkan mama Sefarina ke dalam mobil. Tatapan yang penuh intimidasi dan pertanyaan yang sangat besar.
Setu tau itu. Dia sadar akan hal itu.
"Kakak tau kan mama itu ada riwayat jantung? Apa sih yang kakak bicarakan sama mama makanya mama sampai begini?"
"Kakak kok tega sih?" Setu hanya diam saja saat Stephania marah padanya. Bak patung yang berdiri dan bernapas.
Tatapan Stephania hari ini padanya mencurigai. Ada sesuatu yang ia tak tau antara Setu dan Salin. Ia sangat yakin, pasti ada yang tidak beres. Kalau misal semua baik - baik saja, kenapa Setu tega menceritakan hal yang membuat mama Sefarina sampai seperti ini. Toh diawal ia sudah tau kalau mama Salin, mama Sefarina ada riwayat penyakit jantung.
Ardan pun mengajak Stephania untuk masuk ke dalam mobil karena mereka akan segera membawa mama Sefarina ke rumah sakit. Begitupun papa Sande. Tapi tidak dengan Setu, ia malah tetap bengong bahkan tak masuk ke dalam mobilnya sendiri.
"Cepat, kak!" titah Stephania mulai cerewet. Ia menidurkan mamanya di atas pangkuannya.
"Ngebut, kak!" katanya tak sabaran.
"Sabar kenapa sih, Nia!" bentak papa Sande. "Kalau kecelakaan kita gimana? Yang ada mama kamu bukannya ketolong malah celaka kita semua."
Sudah hal biasa papa Sande bersuara keras padanya maupun Salin. Tapi tidak dengan Ardan. Entahlah, masih tertanam dalam pikiran papa Sande kalau anak laki-laki adalah anak kebanggaan, yang menjadi penerus kejayaan mereka. Beda hal dengan anak perempuan.
Meskipun Salina dan Stephania tidak se ibu dengan Ardan, tapi mereka saling menjaga, saling mendukung dan saling menyayangi kayaknya kakak beradik.
Dulu, mama Ardan yang bernama Rania mengalami sakit keras dan akhirnya meninggal dunia. Dan Rania adakah adik kandung dari mama Sefarina. Lalu, papa Sande memutuskan untuk meminang mama sefarina sebagai istrinya. Kala itu Ardan masih sangat kecil.
Butuh sosok ibu untuk menjaga dan menyayanginya. Sementara yang ia tau, mama Sefarina adalah bibinya, kakak dari mama kandungnya. Mama Sefarina sangat menyayangi Ardan sewaktu kecil, sewaktu masih ada mama Rania.
Karena hal itu juga lah membuat papa Sande membulatkan tekadnya untuk menikah dengan kakak dari almarhum istrinya. Sangat susah mencari orang yang benar-benar menerima Ardan. Tetapi yang mencintainya banyak. Jika mereka tak mau menerima Ardan, terpaksa papa Sande mundur. Memutus hubungan dengan mereka.
Dari kecil, sudah tertanam di memori Ardan bahwa mama Sefarina adalah bibinya. Dan itu terbawa sampai ia dewasa. Meski perhatian mama Sefarina sudah sepeti mamanya sendiri. Tetapi panggilan itu tetap melekat sampai sekarang. Dan ia sayang pada mama Sefarina, menganggap ia sebagai mamanya.
"Dokter .." pekik Ardan.
"Tolong mama saya, dokter," timpal Stephania menyeru, menirukan ucapan Ardan.
Bergegas dokter dan perawat yang ada di rumah UGD untuk menolong mama Sefarina. Kemudian mereka diminta untuk menunggu di luar saja.
****
Prang....
Tiba-tiba, gelas yang ada diatas meja kerja Salin tersenggol dan terjatuh ke lantai.
"Aduh, aku kenapa sih kok nggak konsen gini? Jadi tumpahkan. Untung jaga nggak kena ke laptop," gerutunya.
Ya, saat ini memang Salin sedang sibuk menulis surat lamaran kerja. Ia membuatnya banyak dan rencananya besok ia akan sebar kemana saja. Dimana yang menerima karyawan baru. Yang butuh tenaga atau kekurangan tenaga pekerja di usahanya atau kantor.
Kejadian beberapa waktu lalu saat Setu mempermalukannya di mall kala itu, membuat ia untuk memutuskan resign. Ia tak mau mal itu menanggung malu, hilang pamor hanya karena dirinya.
Tak mau ia orang lain merugi hanya karena membela dan mempertahankan dia disana. Nggak ada salahnya ia mencoba melamar di bagian kantor sama sepeti perusahaan dulu tempat ia bekerja sebagai sekretaris CEO.
Benar-benar Salin memulai hidupnya dari nol. Tanpa campur tangan orang tua maupun keluarganya yang lain. Bahkan belum ada keluarganya yang tau mengenai pernikahan Salin yang sudah kandas di padang tandus.
Saat ini, entah mengapa ia tiba-tiba teringat kepada mama Sefarina. Sudah dua tahun ia tak bertemu dengan mama kandungnya itu. Salin pun akhirnya memutuskan untuk menelpon Stephania. Rindunya kepada keluarganya sudah gak bisa ia tahan lagi.
Tuuuut
Tuuuut
Tuuuut
"Kemana Nia, kok nggak diangkatnya?" gumamnya. Ia sudah berada diatas ranjang sekarang dengan posisi tengkurap. Kedua kakinya ia angkat dan ia goyang-goyangkan.
"Tumben dia nggak jawab telpon ku," gumamnya heran.
Seorang Stephania jarang meninggalkan ponselnya. Bahkan belum habis suara nada deringnya, ia sudah keburu angkat. Tapi sekarang, jangankan sebentar, sudah berulang kali salin menelpon tetapi tak ada sahutan dari Stephania.
"Telpon kak Ardan kali ya," ucapnya lirih.
Salin Lin menelpon Ardan. Dan hasilnya sama, Ardan juga tak menjawab panggilannya.
"Ini kenapa Nia dan kak Ardan sepakat nggak angkat telpon ku," batinnya penuh tanya. Ia merasa tak tenang Ia merasa ada suatu hal yang terjadi.
Tak puas karena tak tau kabar mamanya, ia pun kembali menghubungi nomor Stephania. Dan akhirnya diangkat juga.
"Hallo Nia, kamu lagi dimana? Kok susah banget angkat telpon aku? Sibuk apa sih kamu sore-sore begini?"
"Kabar mama gimana sama papa?" tanyanya lagi.
"Mama...."
"Nia, kakak pengen ketemu sama kamu. Ada yang mau kakak sampaikan ke mama. Tapi hanya kamu yang bisa membantuku. Bisa, Nia?"
"Bisa, kak. Kapan?"
"Nanti malam jam tujuh bisa?"
"Bisa, kak. Share lock aja nanti ya kak dimana kita ketemuannya," jawab Stephania di sebrang sana.
"Aku juga mau ngomong sesuatu ke kakak. Ini tentang kak Setu."
"Mas Setu kenapa?" tanya Salin pura-pura.
"Nggak apa-apa, kak. Nanti saja kita bahas di hari ultah kakak yang tinggal dua hari lagi," ujar Stephania berpendapat.
"Oh ya udah. Sampai ketemu nanti ya, Nia. Bye..."
"Bye kak. Sampai jumpa."
Telepon pin ahkirnya diputus.
"Mas Setu kenapa?" batin Salin.