
"Kenapa?" tanya Nantha. "Baru saja kakak telpon, tapi udah telpon lagi. Nggak ada kerjaan lain apa?"
"Ada. Mikirin kamu, mikirin kamu dan..... mikirin kamu. Itu pekerjaan yang tak bisa aku elakkan.
"Tapi aku masih di sekolah, kak. Aku ada tugas kelompok. "Udah ya kak, aku tutup telponnya "
Tuuut
Bahkan tanpa persetujuan Ardan, gadis bernama Nantha itu sudah memutuskan sambungan.
"Dasar, gadis nakal. Membuat aku semakin penasaran," gumam Ardan. Ia senyum-senyum dengan tingkah Nantha. Orang yang ia kagumi sayangi. Dan tentunya cintai.
****
"Papa? Ada apa ini?" tanya Ardan. Dia baru saja sampai di rumah, baru pulang kerja.
"Ini teman lama papa. Kenalin, tuan Deok dan nyonya Silla. Dan ini putrinya Natasha."
Papa Sande memperkenalkan tamunya kepada putranya tersebut.
"Mereka sudah lama lho nungguin kamu," ucap papa Sande.
"Nungguin saya? Untuk apa, pa?" Ardan heran. Kenapa bisa mereka menunggu dirinya sementara mereka baru kali ini bertemu.
"Duduk dulu," ajak sang papa. Dengan masih berbalut penasaran, Ardan pun menuruti ajakan papa Sande.
Mereka pun berbincang basa-basi. Lebih tepatnya taun Deon dan nyonya Silla sih sebenarnya. Karena Ardan hanya menjawab apa yang mereka berdua pertanyakan.
Sementara Natasha, diam saja dari tadi. Tetapi tatapannya tak sedikit pun beralih dari Ardan. Terkesima ia dengan pria itu, meski ini awal pertemuan mereka. Ia sudah kagum kepada pria itu.
"Jadi gimana taun Sande? Kapan rencana pertunangan mereka kita laksanakan?" tanya tuan Deon. Tibalah pada pembahasan serius.
Ardan yang mendengar pembahasan tentang pernikahan semakin bingung. Pernikahan siapa? Dan kenapa mereka harus membahas pertunangan.
"Mumpung orangnya ada di sini, sebaiknya kita tentukan saja tanggalnya," sahut papa Sande.
Natasha yang sudah mengerti arah pembicaraan kemana, merasa sangat bahagia. Ia sampai tak sadar kalau senyumnya sudah mekar bak bunga mawar yang mekar di pagi hari, berseri bersama embun membawa kesejukan.
Dari awal ia sudah tau bahwa ia akan dijodohkan dengan anak dari teman lama papanya. Tetapi Natasha tidak tau kalau lelaki yang ingin dijodohkan dengannya adalah pria setampan Ardan. Oleh karena itu dia tidak menolak sama sekali. Dia justru senang dengan perjodohan ini.
Sementara Ardan, menatap mereka semua bergantian. Tak ketinggalan juga Natasha. Ardan heran, kenapa gadis itu senyum-senyum?
"Jadi gimana, Dan?" tanya tuan Deon. Ia sudah merasa akrab sekali dengan Ardan. Ia merasa Ardan adalah pria yang sangat tepat untuk putri semata wayangnya itu.
"Gimana apanya, tuan?" tanya Ardan bingung.
"Kamu mau kan bertunangan dengan Natasha?"
Deg
Bagai petir di siang bolong. Ardan terkejut dengan pertanyaan dari tuan Deon. Jadi, mereka berkunjung untuk membahas pertunangan antara dirinya dan Natasha?
Tak habis pikir Ardan dengan semua ini. Sesuka hati papa Sande mencarikan jodoh untuknya tanpa berunding dulu.
"Papa?" ujar Ardan. Ia menaikkan nada suaranya.
"Ardan," sahut papa Sande lembut. Lembut dengan menggigit giginya. Ia tak ingin Ardan sampai mempermalukan dirinya di depan teman lamanya.
Papa Sande menerangkan dengan sangat tenang. Seolah tak memikirkan perasaan Ardan.
"Tapi, pa," sela Ardan. Ia bermaksud mengungkapkan argumennya. Bahwa ia menolak keras perjodohan ini. Ini tidak masuk diakal menurutnya. Ini jaman sudah modern. Bukan jaman Siti Nurbaya.
"Papa tau. Antara kamu dengan nak Natasha belum ada rasa cinta. Tapi papa percaya, cinta bisa tumbuh sendiri jika sudah bersama. Papa yakin itu. Dan papa nggak mau ada penolakan darimu, nak. Ini yang terbaik untukmu."
"Permisi! Saya ijin bicara berdua dengan Natasha? Boleh?"
Ardan langsung menyela ucapan sang papa. Ia tak ingin ini diteruskan. Ia kesal. Ia muak dengan sikap sang papa. Mengambil keputusan untuk masa depannya tanpa berdiskusi dulu dengannya.
Kali ini papa Sande sudah sangat keterlaluan. Sudah banyak yang Ardan korbankan selama ini. Termasuk impian Ardan yang ingin jadi pilot, tapi dilarang keras oleh papa Sande. Dengan alasan, supaya ada yang meneruskan kinerja papa Sande.
Meski pun Ardan menolak, mengatakan bahwa masih ada Salin atau Stephania kelak yang bisa meneruskan jejak sang papa. Tetapi papa Sande tetap dengan pendiriannya. Baginya, seorang perempuan harus kembali kepada suaminya. Tak perlu pendidikan tinggi, tak perlu bekerja. Cukup tenang di rumah, kerjakan semua pekerjaan rumah dan layani suami. Serta mengurus anak.
"Baiklah. Saya ijinkan. Saya harap kalian berdua cocok dan akhirnya berjodoh," sambut tuan Deon antusias.
"Iya, pa. Supaya mereka bisa saling mengenal," timpal nyonya Silla. Hitung-hitung awal kenalan mereka pertama kali bertemu."
Ardan dan Natasha pun meninggalkan orang tua mereka yang sibuk membahas persiapan pertunangan mereka. Mereka terlihat sangat antusias, semangat. Seolah waktunya sudah dekat.
"Terus terang, saya tidak suka perjodohan ini," ucap Ardan to the poin saat mereka sudah keluar dari rumah itu.
Ardan memutuskan untuk berjalan saja, sambil berbicara hal serius, tentang rencana pertunangan mereka.
"Tetapi bukankah melawan titah orang tua itu nggak boleh ya?" tanya Natasha. Agak kecewa ia dengan pernyataan Ardan barusan.
"Itu di dalam keluarga kalian. Tapi bagi saya tidak. Karena saya tidak suka orang dengan mudahnya memutuskan masa depan saya. Yang berbaik bagi saya katanya. Termasuk papa saya sendiri. Jadi, saya menolak perjodohan ini dengan tegas," ucap Ardan lugas.
"Tapi aku mencintai kamu, Dan."
Ardan menghentikan jejaknya mendengar pengakuan Natasha.
"Cinta?" tanya Ardan. "Ini kali pertama kita berjumpa dan kamu bilang kamu cinta? Hmm, bulshit!"
"Tapi beneran," tegas Natasha lagi.
"Atas dasar apa kamu cinta sama aku?"
"Ya karena.... karena.... karena kamu tampan, lembut dan baik," jawab Natasha akhirnya. Ia sudah tak tau lagi harus menjawab apa. Tatapan Ardan seolah ingin menelannya hidup-hidup.
"Bohong!"
"Aku serius, Dan. Aku cinta sama kamu." Natasha berusaha meraih tangan Ardan.
"Cinta bagi kamu, tapi bagi aku tidak. Cinta itu bisa bersatu apabila keduanya saling mencintai. Saling membalas cinta satu sama lain. Bagi aku, cinta yang kamu lontarkan, bukanlah cinta yang sebenarnya "
Natasha merengut. Lagi lagi, ia kecewa dengan semua ucapan Ardan terhadapnya.
"Kamu bukan cinta sama aku. Tapi itu hanya nafsu belaka dan juga kagum. Cinta itu adalah sebenarnya tak tau alasan apa yang membuat kita mencintai orang tersebut. Begitu pun aku. Aku sudah mencintai pilihan aku sendiri. Bukan kamu atau siapa pun yang tiba-tiba bilang cinta padahal masih pertama kali bertemu bahan bertutur sapa.
"Ku harap kamu mau kerjasama dengan saya. Kita tolak perjodohan ini. Karena saya sudah ada wanita lain. Dan itu pilihan saya "
Ardan meninggalkan Natasha begitu saja. Tak peduli ia dengan rengekan gadis itu. Tangisan gadis itu, ia abaikan.