
"Tuan besar...tuan besar ..."
Seorang wanita paruh baya tergopoh-gopoh sembari menyeru memanggil majikannya.
"Ada apa sih, Dian? Kamu kok ribut, ini sudah malam. Lagian saya di sini kok. Bukannya jauh," cerocos papa Sande, memprotes pelayannya itu.
"Nggak usah kuat-kuat ngomongnya. Bisa kan?" timpal papa Sande kemudian. Mengomeli pelayan paruh bayanya itu.
Pelayan yang selalu setia menemani keluarga itu sedari anak-anak mereka kecil. Karena kesetiaannya itulah, suaminya menceraikannya karena dianggap menelantarkan anaknya sendiri. Sementara terhadap orang lain, ia korbankan seluruh waktunya.
"Tuan muda, tuan," ucap Dian si pelayan itu dengan mata sudah berembun. Bibirnya bahkan bergetar saat ia bicara.
Mendengar anaknya di sebut, seketika secara seksama, papa Sande menatap Dian. Tatapan penuh pertanyaan, penuh selidik dan rasa penasaran.
"Ada apa dengan putraku?" tanya papa Sande kemudian.
"Tuan muda kecelakaan, tuan besar."
"Apa? Kecelakaan? Darimana kamu tau?" tanya papa Sande lagi. Ia tidak percaya dengan ungkapan pelayannya itu.
"Ada di berita, tuan. Sekarang, setiap Chanel televisi, semua beritanya tentang tuan muda, tuan besar."
"Eh, Dian. Kamu jangan sembarangan ya kalau bicara. Ardan itu sudah berangkat dari tadi ke Kalimantan. Bagaimana mungkin dia kecelakaan. Kamu, mau dipecat kamu?"
"Beneran, pak. Sudah viral," ucap Dian dengan sangat yakin.
Melihat keseriusan sang pelayan dan juga mata berembunnya, papa Sande pun akhirnya melangkah kakinya menuju ke ruang televisi.
"Mana?" tanyanya kemudian saat ia lihat ternyata tv nya hanya menunjukkan layar hitam.
"Kan tv nya mati, tuan besar," protes Dian. Ia pun menghidupkan tv itu lalu menambahkan volumenya dengan remote uang dari tadi ada di tangannya dan ia bawa saat bicara dengan papa Sande tadi.
Benar saja, berita yang beredar di tv itu mengabarkan bahwa sebuah pesawat menukik turun dari ketinggian 8.800 meter hanya dalam waktu tiga menit.
Pesawat tersebut membawa 135 orang penumpang di dalamnya. Yang diduga oleh papa Sande termasuk Ardan di dalamnya.
Sesuai berita itu, nama pesawat dan jam pesawat itu terbang sama dengan jam terbangnya pesawat yang ditumpangi oleh Ardan. Semuanya sama.
Hingga saat ini, belum ada konfirmasi peyebab terjadinya kecelakaan da pesawat itu. Tetapi bila dari ketinggian seperti itu, sedikit kemungkinan penumpang akan selamat.
*Hal itu menunjukkan bahwa pesawat telah turun tajam dari ketinggian 29.100 kaki (8.800 meter) menjadi 3.225 kaki (980 meter) dalam rentang waktu tiga menit, sebelum informasi penerbangan dihentikan.
Pada ketinggian 3.225 kaki, pesawat itu dilaporkan tengah melaju dengan kecepatan 376 knot atau 696,35 km/jam*.
Demikian hot Line news malam ini, nantikan berita selanjutnya satu jam mendatang.
Begitulah si pembawa berita mengakhiri beritanya.
"Ardan anakku," lirih papa Sande. Terduduk ia dengan kaki yang sudah tak kuat lagi menopang.
"Tuan besar .." ucap sang pelayan.
"Tolong..." pekiknya lagi. Ketika Dian melihat papa Sande kejang-kejang.
Mendengar pekikan dari dalam, security di rumah itu segera berlari menghampiri suara yang meminta pertolongan itu.
"Ada apa, Dian?"
"Tolong tuan besar, pak. Beliau kejang-kejang," ucap Dian panik. Tak tau ia harus berbuat apa sekarang. Otaknya tiba-tiba blank.
"Kita bawa ke rumah sakit," pungkas pak satpam akhirnya.
****
Sementara di tempat lain, di kediaman keluarga Alister.
"Aku yakin kak Ardan pasti suka dengan penampilanku. Dia nggak akan berkedip saat liat aku pakai baju warna kesukaannya. Lihat saja nanti."
Gadis mungil itu terlihat bangga akan hasil kerja tangannya. Meski hanya bermodalkan tutor Mbah yutup, tak dipungkiri hasilnya bagus.
Tak malu-maluin. Karena memang Nantha juga bisa mengikuti tutorial yang dia Tinton dari Chanel yutup seorang lelaki. Tetapi lelaki itu mahir sekali dalam hal per makeup an.
Gadis itu mematut dirinya di depan cermin. Mengecek semua hasil karya tangan mungilnya. Masih ada yang kurang atau tidak.
Belum mau ia lepas dari cermin itu, takut ada yang belum pas dan belum puas maka ia akan dengan mudah memperbaikinya.
Tak lupa ia selipkan pita kecil berwarna kuning untuk hiasan rambutnya yang tergerai panjang, hitam legam dan lurus itu.
Gadis itu melirik jam di dinding.
"Tapi kak Ardan kemana sih? Kok nggak nongol-nongol juga. Katanya jam tujuh mau jemput aku. Lha ini, udah tengah delapan. Kemana sih nih si om om?"
Kelamaan menunggu, gadis itu pun tertidur di depan cermin itu. Duduk di kursi meja riasnya. Hingga dering ponsel membangunkan dirinya.
Kring kring kring
Dering ponsel tersebut mengagetkan Nantha. Sehingga tidurnya yang baru beberapa menit dimulai, terusik sudah.
"Halo," ucapnya dengan nada malas, juga suara agak serak.
"Ada apa, kak?"
"...."
"Di rumah. Di kamar. Kakak dimana?"
"...."
"Oh. Kenapa harus telpon kalah sama-sama di rumah? Ah, dasar usil. Ganggu orang lagi santai aja. Nggak bisa apa senang lihat Nantha tenang sebentar?"
"Ada masalah apa? Di tolak lagi sama kak Salin? Ah, alasan klasik."
Terus saja gadis itu mengoceh tanpa membiarkan orang yang di sebrang sana menyelesaikan kata-katanya. Mengungkap maksud dan tujuan ia menghubunginya lewat telpon genggam meski mereka berada di rumah yang sama.
"...."
"Kak, Nantha malas keluar. Ini lagi nungguin om Ardan," ucapnya dengan kesal.
Tambah sudah kekesalannya karena gangguan sang kakak sepupu yang suka usil, tambah lagi kabar Ardan yang tak kunjung tiba. Ini sudah jam delapan malam. Sejam sudah berlalu sesuai dengan kesepakatan Ardan kemarin yang ingin menjemputnya.
"Apa? Di luar kamar? Ya masuk aja."
"...."
"Pintunya kekunci?"
Nantha menepuk dahinya sendiri. Baru ia sadar kalau pintu kamarnya ia kunci. Dan mungkin karena ia tertidur sehingga tidak mendengar suara ketukan pintu dari sang kakak.
"Ya udah bentar. Aku bukain."
Gadis kecil itu menghentakkan kakinya sambil berdiri dari kursi lalu melangkah menuju pintu kamarnya.
"Kenapa?" ucapnya cetus. Bibirnya menukik ke atas. Tak ia sadari wajah serius Alister yang menatap dia sendu.
"Nantha..." ucap Alister lirih.
"Apa sih? To the poin aja."
"Kamu yang kuat ya."
"Ya aku kuatlah. Kenapa pula suruh-suruh aku kuat. Emang kakak letoi."
"Nantha .. Ardan..."
"Om Ardan? Om Ardan kenapa?"
"Dia...." Masih belum bisa Alister mengungkapkan kebenaran Ardan. Ia takut melihat perubahan di dalam diri adiknya itu.
"Kalau nggak ada yang penting, mending kakak keluar aja deh. Aku kesal lama-lama digangguin terus sama kakak. Aku lagi nunggu om Ardan ini. Kamu mau nge-date. Kakak jauh salah langkah dibanding kami."
"Kakak tau, malam ini om Ardan mau memberi Nantha surprise. Aku penasaran banget lho, kak. Apa kak Ardan mau ungkapin perasaannya ke Nantha? Menurut kakak gimana?"
Orang yang ditanya hanya diam membisu. Malah pandangannya serius sekali menatap adiknya itu. Sungguh tidak tega ia membunuh harapan terbesar Nantha. Tapi bila ia tak sampaikan, akan semakin hancur hati Nantha.
"Nan... sebenarnya kakak mau bilang bahwa Ardan hilang jejak. Pesawat ia tumpangi jatuh. Keberangkatan menuju Kalimantan."
"Apa, kak? Kaka Ardan kecelakaan?"
Langsung saja Nantha memekik usai mendengar penjelasan Alister.