Please, Love Me Husband

Please, Love Me Husband
Chapter 38. Kamu Berhak Dicintai



"Berapa kali saya sudah bilang jangan ikut campur urusan saya? Kamu siapa hah? Kamu nggak tau apa-apa tentang saya. Jadi stop! Urus dirimu sendiri!" pekik Salin.


Lagi lagi ia marah pada Alister karena Alister mencoba membujuknya untuk melaporkan Setu kepada yang berwajib dan menuntut cerai lelaki itu. Lelaki yang sudah melakukan KDRT kepadanya.


"Kamu berhak bahagia, Lin," ujar Alister. "Wanita itu dilindungi, bukan disiksa. Dan suami kamu itu sudah keterlaluan. Dan apa tadi kamu bilang, dia bawa selingkuhannya ke rumah? Dan mereka melakukan itu?" tekan Alister.


"Jangan naif, Lin. Jangan bodoh jadi wanita. Kamu itu berharga. Jangan mau dijadikan budak oleh suami sendiri. Jangan mau disiksa oleh suami sendiri. Dia bukanlah orang yang tepat untukmu," cerca Alister. Ia mengungkapkan segala uneg-unegnya.


Apa yang ia simpan selama ini di hati akhirnya terkuak juga. Ia harus segera membuka pikiran Salin sekarang. Menyadarkannya dari kebodohannya yang sudah mau diperbudak oleh suaminya sendiri bahkan ibu mertuanya juga.


Sangat berbanding terbalik dengan keluarga Alister. Di keluarga Alister, perempuan itu sangat dihargai. Dijunjung tinggi. Bahkan menjadi penentu dalam membuat keputusan di keluarga mereka.


Tapi tak menjadikan lelaki pula sebagai budak. Karena di keluarga mereka baik laki-laki maupun perempuan punya hak yang sama. Berhak disayangi dan diperlakukan yang sama.


Salin terdiam. Ia merasa tercubit dengan ucapan panjang lebar dari Alister. Selama ini tidak ada orang yang berucap begitu padanya. Tidak ada temannya untuk bertukar pikiran. Hingga ia hanya berpikir sendiri, mencari solusi sendiri, diskusi dengan dirinya sendiri.


"Kamu juga manusia, Lin. Berhak disayangi, berhak dicintai, bukan diperlakukan layaknya hewan," pungkas Alister.


Ia merasa lega sekarang walau hanya sedikit. Senggaknya ia sudah ungkapkan rasa bergejolak di dadanya selama ini.


Karena seringnya mengintili Salin, ia sudah tau perkara apa yang Salin alami. Bukan bermaksud ikut campur, tapi ini sudah keterlaluan. Salin butuh seseorang untuk tempat ia bersandar. Salin butuh dibela oleh orang yang tepat. Salin butuh perlindungan. Dan yang bisa melindungi diri Salin adalah hukum.


"Kita bisa ke rumah sakit untuk divisum. Dari hasil visum nanti kita bisa melaporkan ke pihak berwajib. Dan kalau ada bukti, Setu nggak akan bisa berkutik. Kamu pasti akan dilindungi, Lin. Aku akan menemanimu sampai akhir. Kamu jangan takut. Jangan kamu khawatir. Jangan terlalu banyak yang kamu pertimbangkan."


"Tapi...." ujar Salin ragu. Bahkan suaranya melemah.


Bayangan papanya yang sering menyiksa mamanya terbesit dalam ingatan. Tetapi ibunya bertahan. Apa ia salah menjadikan ibunya sebagai patokan, bahwa walau dikasaripun ibunya tak mau cerai. Ibunya tetap bertahan dengan pernikahan yang bahkan sudah puluhan tahun itu.


"Mamaku kenapa tahan, Ter. Mamaku bahkan menahan segala sakit yang dibuat papa. Mama bahkan bisa sampai sejauh ini. Aku yakin aku pasti bisa, Ter," jawab Salin. Ia masih tetap bersikeras, bertahan dengan pernikahan yang sudah tak sehat ini.


"Kamu yakin mama kamu tidak terluka, Lin?"


Salin terdiam. Lagi-lagi ia tersentak dengan pertanyaan Alister.


"Kamu tau, Lin seorang ibu bisa berbohong kepada anaknya. Seorang ibu pasti akan selalu berkata bahwa ia baik-baik saja. Fisik yang luka bisa disembuhkan tetapi hati yang luka akan sulit diobati. Tetapi seorang ibu bisa menahan semua itu dan bahkan menyembunyikan semua itu dari anak-anaknya. Akan tetapi apakah kamu pernah tau bahwa ia menangis saat ia sendirian?"


Deg


Lagi lagi kalimat panjang lebar Alister menohok di hati Salin. Selama ini ia kurang peka pada sang mama. Ia tak tau apakah mamanya bahagia atau menderita selama menikah dengan sang papa.


"Apa yang akan aku katakan pada mama kalau aku cerai, Ter?" tanya Salin. Ia mulai bimbang. Perkataan panjang lebar Alister hari ini sedikit membuka hatinya yang keras.


"Yakinlah, Lin bahwa mama mu pasti ingin yang terbaik untuk anaknya. Mama mu pasti mengerti kalau kamu menceritakan semuanya padanya."


"Tapi aku nggak mau mama sakit karena ini, Ter. Aku nggak mau korbankan mama. Mama punya riwayat penyakit jantung, Ter."


"Ya udah, begini saja. Kita akan sembunyikan ini dari siapa pun. Tunggu kita ada bukti yang jelas, baru kita bertindak. Ingat, setiap Setu berbuat kasar padamu, kamu rekam. Kamu simpan baik-baik. Dan nanti kasih ke aku. Aku akan menemanimu sampai akhir. Untuk sekarang, turuti semua apa kata suami mu. Agar kamu mudah mendapatkan bukti. Buatlah sandiwara sebaik mungkin seolah tak terjadi apa-apa. Seolah kalian baik-baik saja," terang Alister panjang lebar.


Salin diam. Entah apa lagi yang ia pikirkan sekarang. Seketika ancaman Setu teringat dalam benaknya.


Kejadian waktu itu membuat Salin dan Alister yang kerap bertemu menjadi dekat. Dan Salin pun entah mengapa bisa menceritakan masalah rumah tangganya pada Alister.


"Minum dulu. Agar kamu fokus memikirkan yang terbaik," ujar Alister. Ia menyodorkan lemon tea yang sudah ia minum pada Salin.


Salin pun menerima uluran Alister tanpa tau kalau minuman itu adalah bekas mulut Alister. Dan Alister pun lupa kalau Salin ada minuman di hadapannya. Ia hanya melakukan gerakan refleks.


"Waktu itu mas Setu pernah mengancam saya," lirih Salin setelah ia meneguk minuman itu hingga tersisa sedikit lagi.


"Apa katanya?" tanya Alister serius sambil menatap Salin dengan seksama. Ia juga meminum kembali lemon tea yang tersisa sedikit itu. Menghabiskannya hingga tandas.


"Mas Setu akan melukai adikku dan mamaku jika aku mengadukan pada siapa saja tentang aib rumah tangga kami," ucap Salin dengan suara pelan. Tangannya menggenggam gaun yang ia kenakan.


"Kamu tenang saja. Kita kan melakukannya diam-diam. Jadi tidak akan ada yang tau bahwa kita telah membuat strategi. Intinya di sini adalah kamu. Kamu harus bisa. Dan aku yakin kamu bisa. Kamu bahkan pernah berhasil membantu temanmu bercerai dari suaminya yang menyiksanya. Masa untuk dirimu sendiri kamu tidak bisa?"


Alister tak sadar kalau ia sudah keceplosan.


"Darimana kamu tau kalau aku pernah membantu temanku?" Tatapan mata Salin begitu tajam yang penuh tanda tanya pada Alister.


"Se-sebenarnya aku .. aku.... ," Alister tergagap. Ia tak tau harus bagaimana menjelaskannya.


"Sebenarnya apa?" tanya Salin mengernyit dahi.


"Itu kan kejadian sudah lama. Mungkin sekitar setahun yang lalu. Itu artinya kamu sudah lama mengenal saya?"


Lagi Alister terdiam. Ia sudah tertangkap basah sekarang. Tapi ia belum siap mengaku. Takut ia salin akan marah padanya.


"Jawab, Ter!" pekiknya.


"I-iya, Lin." Hanya kata singkat itu yang bisa Alister ucapkan. Ia tidak sanggup berbohong dan memang ia bukanlah orang yang bisa berbohong.


"Lancang kamu, Ter."


"Maaf, Lin. Tapi aku suka sama kamu. Aku cinta sama kamu. Aku nggak mau kamu kenapa-kenapa," ucap Alister. Lagi-lagi ia tak bisa mengontrol mulutnya. Kenapa pula ia berkata seperti itu.


Plak


Tanpa ba bi bu, Salin langsung memberi tamparan keras di wajah Alister.


"Jadi kamu sengaja membujuk saya bercerai dengan suami saya agar kamu punya peluang untuk mendekati saya? Kamu mau memanfaatkan keadaan saya begitu?" pekik Salin. Ia marah sekali.


"Maaf, Lin. Aku nggak bermaksud begitu." Alister berusaha membela diri.


Alister menyalahkan mulutnya yang keceplosan. Yang tidak bisa membaca keadaan. Tidak seharusnya ia berkata seperti itu. Time nya sangat tidak tepat sekarang. Sungguh antara hati dan mulutnya Sanga tidak sinkron sekarang. Ia merutuki kebodohannya. Menyalahkan mulutnya yang tidak bisa mengontrol perkataannya.


"Bahkan kamu lebih jahat dari mas Setu," pekik Salin. Ia berlari meninggalkan Alister.