
"Mas, ayo dong," rengek sang wanita dengan manja kepada pasangannya yang sedang sibuk berkemas. Baru saja ia pulang kerja, padahal hari sudah larut malam.
"Ayo apa? Sudah larut nih. Tidur gih!"
"Justru karena larut, mas. Semakin larut semakin bagus," celetuk wanita itu lagi dengan nada manja dan sensual.
"Maaas," rengeknya lagi.
"Hmmm,'" jawab lelaki itu masih sambil berkemas. Entah apa yang ia kemas.
"Mas Setu Sandoro!" ujar sang wanita karena respon sang pria hanya begitu saja. Seolah acuh dengan ajakannya.
"Apa sih?" tanya Setu membalikkan tubuhnya sehingga berhadapan dengan Salin, sang istri.
"Ayo bikin anak," ucap Salin dengan nada manja. Dan tanpa difilter.
"Hhh. Emangnya bikin anak kayak bikin kue. Dasar." Ia menoel hidung Salin pelan dengan ujung telunjuknya.
"Habis masnya nggak mau kita cepat punya anak. Padahal aku pengen banget. Aku kesepian mas. Apalagi nungguin mas kerja, aku nggak ada teman," adu Salin sambil bergelayut di lengan Setu.
"Kan kita sudah usaha, sayang. Yang diatas kan belum memberi kita rezeki."
"Tapi usaha mas belum terlalu keras," celetuk Salin asal. Membuat Setu geleng-geleng kepala dengan ucapan sang istri.
Tanpa berlama-lama, tanpa ingin terus menggantung sang istri, Setu pun langsung melakukan aksinya. Membawa tubuh Salin ke dalam selimut. Mereka berdua pun berbaring dalam selimut yang sama. Saling berpelukan, melepas hasrat dan berbagi peluh.
Menikmati indahnya masa muda, masa pengantin yang terbilang masih baru walau memang sudah hampir setahun mereka menikah. Bau bau pengantin baru masih tercium jelas dalam diri mereka berdua. Meski hidup sederhana, tanpa gelimang harta tak menjadi persoalan bagi mereka.
"Trimakasih ya, sayang. Kamu sudah mau menjadi istriku. Kamu sudah sabar menghadapi sikapku. Kamu juga selalu ada buat aku "
"Sama-sama, mas. Aku juga berterimakasih kepada mas, karena mas sudah terima aku apa adanya."
Kedua pasangan itu saling mengungkapkan perasaannya masing-masing.
Tiiin tiiin
Suara klakson panjang membayarkan lamunan Salin. Ya, saat ini masih berada di dalam taksi hendak pulang ke rumah usai ia dari rumah sakit tadi.
Tak disangka, ia malah menghayal, teringat masa lalu bersama Setu sang suami. Berbeda jauh kala itu dengan sekarang. Entah apa penyebabnya ia tak tau hingga detik ini. Bahkan ibu mertuanya ikut campur dalam hubungan meraka.
Ia tersenyum getir membayangkan nasib pernikahannya yang sudah tak sehat ini. Perang dingin antara ia dengan Setu dan juga ibu mertuanya. Sementara keluarga Salin tak tau semu tentang kehidupan Salin usai menikah.
"Kita .. sudah dimana, pak?" tanya Salin pada sang sopir.
"Kita sudah dekat, Bu. Sebentar lagi sampai tujuan."
***
"Ibu tau, menantu ibu sudah mempermalukan kita. Ternyata ia sekarang bekerja sebagai SPG ibu. Dan ibu tau SPG apa? Ia menjual parfum Bu. Apa nggak malu aku Bu? Mau ditaruh dimana mukaku Bu? Dan... bukankah seharusnya ia kerja di perusahaan itu. Kenapa dia malah jualan parfum di mall," terang Setu panjang lebar.
Sangat menggebu-gebu ia menceritakan kepada sang ibu. Juga tak lupa provokator dan gengsinya ia tonjolkan. Padahal dulu Setu, kerja apa saja tak jadi persolan. Entah sekarang sungguh berbeda jauh.
"Masa sih? Kok bisa?"
Ibu Sirlina pun heran. Bahkan tak percaya dengan penuturan sang anak.
"Aku nggak bohong lho, Bu. Aku melihat dengan mata kepala sendiri."
"Lalu, apa tindakan mu? Kamu diam saja?"
"Ya enggak lah, bu. Aku seret dia dari mall itu. Bikin malu aja," cetus Setu.
"Terus apa kata orang-orang? Mereka tau kamu suaminya?"
"Ya taulah Bu. Aku yang kasitau juga "
"Kamu gimana sih? Kenapa kamu harus bilang kalau kamu adalah suaminya? Sadar nggak sih, nama baik kita dipertaruhkan. Dengan taunya neraka kamu suami wanita itu, yang ada hidupmu nggak bakal aman. Kamu akan dihujat oleh netizen entah apa yang akan mereka perbincangkan di akun sosmed, tv, majalah. Semuanya Setu!" seru sang ibu.
Ucapan ibu Sirlina benar. Seketika Setu tersadar. Ia sudah salah. Akibat ulahnya orang-orang tau ia punya istri seorang penjual parfum Dan itu adalah hal yang sangat memajukan baginya. Selaku CEO, walau bukan perusahaan besar, tapi namanya akan dikenal orang sebagai suami yang mempunyai istri berprofesi sebagai penjual. Sungguh itu hal yang tak ia inginkan.
"Ya maaf, Bu. Aku nggak tahan. Habisnya aku emosi banget sama dia."
"Kamu masih cinta ya sama dia?" tukas sang ibu.
"Maksud ibu apa sih? Mana ada aku cinta sama dia. Ogah ah," ucap Setu menyangkal. Sudah ada yang jauh lebih dari dia. Ngapain aku pertahankan orang yang nggak bisa memberi aku keturunan. Capek," jawab Setu enteng. Seolah ia tak bersalah mengatakan hal itu.
"Kalau gitu ceraikan dia!"
"A-apa, Bu? Cerai?"
"Iya. Kenapa?"
"A-aku.... aku .. "
"Kamu nggak siap ya cerai dari dia? Itu artinya kamu masih sayang. Kamu masih cinta. Iya kan?"
Setu kicep oleh ungkapan sang ibu. Ia berat sekali menjawab pertanyaan itu. Apa ia, dirinya masih sayang? Apa masih ada cinta di hatinya untuk sang istri? Entahlah, hanya Setu yang mampu menjawab semua pertanyaan itu.
"Kamu diam, berarti kamu masih cinta sama dia. ibu anggap itu sebagai jawaban mu."