
Dari hasil CCTV terekam jelas jika Salin tidak pergi ke kamar mandi. Ternyata benar. Ia kabur. Hilang entah kemana. Alister sudah menelpon keluarga Salin. Namun hasilnya tetap saja sama. Mereka tidak tau dimana Salin kini berada. Karena Salin pun tak memberi kabar kepada mereka.
"Kemana kamu, Lin? Dari tadi aku sudah mencari kamu. Tapi kamu nggak kelihatan. Aku takut, Lin. Aku takut terjadi sesuatu dengan kamu," batin Alister.
Ia hampir putus asa. Keberadaan orang yang ia sayang tak kunjung terlihat. Hari sudah semakin sore. Sang Surya sudah mulai bersiap untuk beranjak ke peraduannya. Memang, masih terlihat cahaya di senja. Nampak bayangan yahh semakin meninggi. Hembusan angin pun mulai menerpa. Gelap perlahan mulai datang. Menggantikan sinar mentari yang terik siang tadi.
Dengan sabar, ia mencoba menelpon nomor Salin kembali. Entah panggilan yang ke berapa ini. Ia tak hitung. Yang jelas, hingga saat ini belum dijawab oleh Salin. Bahkan sekarang nomornya tidak aktif.
Tiba-tiba ponsel Alister berdering kembali. Buru-buru ia angkat. Berharap Salin lah yang memberi kabar. Sangat antusias ia hingga tak melihat nama si penelpon.
"Halo, kak."
Rasa semangat yang tadi datang hilang berganti sendu. Yang menelpon bukanlah Salin. Tetapi adik sepupunya, Nantha.
"Ada apa, Nan?" tanyanya malas. Tak ada rasa semangat dalam isi suaranya.
"Belum ketemu juga kak Salin, kak?" tanya Nantha, mencari informasi. Ia diminta oma dan opa untuk menanyakan pada Alister. Mereka sungguh khawatir pada pria yang satu itu. Takut ia depresi lagi karena kekasih hatinya tak hilang entah kemana.
"Belum, Nan. Kakak udah capek. Udah nyari kemana-mana juga nggak nemu. Entah dimana dia sekarang. Apa dia sudah makan atau belum. Apakah dia baik-baik saja atau tidak," sahut Alister lesu.
"Yang semangat dong, kak. Jangan lesu. Masa gitu aja udah putus asa. Katanya cinta, gitu aja udah down. Belum lagi ditinggal mati," celetuk Nantha penuh sindiran. Ia ingin mengingatkan sang kakak kalau ia jauh lebih menyedihkan waktu itu.
Ditinggal oleh Ardan, ketika ingin mengungkapkan perasaan satu sama lain. Sakit, tapi tak berdarah. Belum bisa move on sampai sekarang. Belum bisa menerima orang lain untuk mengisi hatinya.
Ternyata, rindu dengan orang yang telah tiada itu sangat menyakitkan. Ingin mengucap apa pun tidak bisa. Ingin memeluk pun tidak bisa. Ingin menciumnya pun tidak bisa. Ingin jalan bersama pun tidak bisa. Lama Nantha bangkit dari rasa itu.
Merasa tertohok Alister akan sindiran Nantha. Segera ia semangat kembali untuk membantu Salin juga untuk mengalihkan rasa kehilangan yang dirasakan oleh Nantha. Jika ia perdalam pembahasan tentang orang yang telah meninggal maka Nantha yang akan bersedih.
"Coba kakak cari kak Salin ke rumah sewanya yang dulu. Siapa tau kakak itu di sana. Lagi sendirian, sambil menuangkan hobinya," imbuh Nantha lagu.
Tidak sedikit pun Alister kepikiran akan hal itu. Ia merasa bersyukur karen Nantha menelponnya. Mengingatkan dirinya tentang hobi Salin yang suka membuat aksesoris dari manik-manik.
"Baiklah, Nan. Trimakasih atas saran mu. Kakak akan ke sana. Sampaikan pada opa dan oma aku baik-baik saja," ucap Alister dengan semangat yang menggebu-gebu.
"Oke kakakku, sayang. Semangat berjuang untuk cintamu," seru Nantha.
Alister tersenyum mendengar seruan adiknya itu. Senggaknya ia tidak bersedih atas kalimat yang baru saja ia ucapkan sendiri tentang kematian.
"Hati-hati ya, kak!"
****
Ternyata malam sudah tiba menggantikan siang yang terik. Terdengar rintik-rintik gerimis di malam itu. Bersama angin malam. Membuat seroang wanita harus duduk dengan memeluk tubuhnya sendiri.
Duduk sendirian, di sebuah rumah yang gelap tanpa cahaya, diatas lantai keramik yang dingin. Bertambah dingin karena hujan rintik-rintik bersama dengan angin malam.
Salin sengaja tidak menyalakan cahaya di dalam ruangan itu. Ia ingin belajar hidup di dalam kegelapan. Menyiapkan diri untuk kemungkinan yang akan terjadi kelak. Meringkuk di sudut ruangan dimana dulu saat ia tinggal di sini, tempat ia untuk tidur.
"Begini rasanya hidup dalam kegelapan, kesepian, sendirian dan terluka," batinnya.
"Apakah nanti aku siap saat gelap itu datang? Lalu apakah benar aku nanti sendirian saat gelap itu datang melanda?"
Banyak pertanyaan yang menumpuk di dalam hatinya sekarang. Terpuruk ia. Dalam keterpurukan akan banyak dugaan-dugaan yang muncul, kecurigaan yang hadir, rasa tidak dianggap yang cukup besar.
"Lalu, bagaimana dengan anak? Apakah nanti saat aku menikah, anak aku akan mengalami hal sepeti yang ku alami? Tidak tidak. Aku tidak mau anak aku menderita seperti aku. Kasihan dia kelak. Lebih baik aku tidak menikah. Maka otomatis tidak akan punya anak. Biar putus sampai di aku saja rantai kebutaan ini," gumamnya lagi.
Menangis ia sekarang. Selagi ia sendirian, selagi dalam suasana sepi, ia melampiaskan emosinya. Menangis sepuasnya demi bisa membuang penat dalam dadanya.
Salin tak tau dan tak menyadari jika seseorang hadir di sana. Mendengar semua apa yang ia ucapkan barusan. Lelaki itu hanya diam saja.
"Gelap, bahkan aku tidak bisa melihat apa-apa. Tak ada cahaya sama sekali. Inikah yang aku rasakan kelak saat mataku nanti telah hilang fungsinya?" tanyanya pada gelapnya ruangan itu.
Ada cahaya, tapi tertutup oleh sebuah kotak yang tidak bisa dibuka. Sehingga cahaya itu tak bisa memancar sinarnya di dalam diri Salin. Ingin ia agar cahaya itu tidak menghilang.
Sementara Alister, terluka hatinya melihat Salin dalam keadaan seperti itu. Ditatapnya wanita itu dalam-dalam. Sampai tak sadar air matanya sudah menetes. Tapi segera ia hentikan. Ia angkat kepalanya ke atas agar air mata itu segera berhenti. Tak ingin ia kehadirannya menambah luka di hati Salin. Ia harus semangat.
Cahaya dari luar memang minum, tapi berguna bagi Alister. Ia dapat melihat tubuh Salin yang duduk meringkuk di atas lantai di sudut kamar itu.
"Kamu tidak sendirian, Lin. Aku ada bersama mu," ucap Alister akhirnya.
"Siapa bilang kamu tidak berhak untuk mempunyai keturunan? Kamu berhak. Aku ingin menjadikan mu wanita yang seutuhnya, menjadi ibu dari anak-anakku kelak. Aku akan menikahimu lalu kita akan punya anak."
"Tenang saja, ia akan menurunkan gen ku. Bukan gen mu. Kamu tau tidak, keturunan Alister Galeh Pratama adalah yang terbaik. Bibit unggul. Mereka tidak akan seperti yang kamu pikirkan kelak. Jadi kamu tenang saja," ucap Alister lagi dengan percaya diri sembari tersenyum.
Salin menoleh ke arah dimana Alister berada. Benar, hanya gelap yang ada. Ia tak bisa melihat tubuh Alister bahkan bayangannya sekalipun. Hanya suara Alister yang bisa ia dengar bersama aroma parfum yang menguar. Wangi yang semerbak yang selalu Salin ingat.