
"Ah, uh, ah, eh."
"Sayang, ah keluarkan suaranya."
"Hmmm, ahh..."
"Sebut namaku, sayang. Ah, aku udah nggak kuat. Aku mau .."
"Tahan, yang. Kita barengan ya keluarnya. Ah, nikmat banget, sayang. Sempit banget. Aku merasa ah ter...bang...ah."
"Yang, ah cepetan dong. Jangan diulur. Aku udah nggak tahan. Enak banget, yang. Panggil namaku, yang."
"Mas Setu Sandoro...."
"Iya, sayang. Ah, hmmmm...."
"I love you," bisik wanita itu di telinga pria yang ada diatas tubuhnya.
"Love you too, sayang," ucap pria itu berbisik pula.
Ia semakin semangat membuat ranjang itu semakin berderit. Goyangan demi goyangan, hempasan demi hempasan, bahkan racauan demi racauan mereka suarakan di sore itu.
Kedua insan yang dimabuk cinta sedang berbagi peluh, menyatukan raga yang selama ini terpendam.
Dewi portuna seperti berpihak pada Setu. Kedatangan Weni ke mansion hari ini sungguh membuat sesuatu di bawah sana mengeras sempurna. Dengan penampilan Weni yang membuat ia sudah payah meneguk salivanya.
Ditambah lagi penghuni mansion sedang tak ada. Ibu Sirlina dengan keluar dengan teman arisannya, sedang Salin entah dimana. Setu tak tau diman istrinya itu.
Entah darimana pula Weni tau, kenapa momennya pas banget ia datang. Saat Setu baru pulang kerja, kondisi capek, ditambah Salin yang tak ada di rumah. Tentu sangat leluasa bagi Setu untuk menguasai Weni pada saat itu.
Hingga akhirnya, mereka berdua menuju puncak ke langit ke delapan, meluapkan kerinduan yang teramat dalam. Sensasi yang sangat luar biasa yang telah lama Setu rindukan.
Sementara di luar kamar, mereka tak tahu bawa ada telinga yang mendengar erangan, lenguhan dan racauan panjang yang terdengar dari kamar itu.
Tanpa sadar wanita itu meneteskan air matanya. Dengan membuka sedikit pintu kamar, ia bisa melihat ranjang bergoyang dengan suara berderit. Ia mendengar dengan sangat jelas erangan dan racauan dari kedua insan yang tak tau malu itu. Hancur hatinya sehancur-hancurnya.
"Tega kamu, mas," batinnya pilu. Ia menutup mulutnya dengan telapak tangannya.
"Saat sama aku kamu nggak seperti itu, mas. Tapi kenapa saat bersama wanita itu kamu begitu bernafsu. Apa salahku, mas? Apa kurangku?" tangisnya pilu. Sekuat tenaga ia menahan sakit di dada.
Salin jijik dengan pemandangan itu. Hal yang tak seharusnya dilakukan oleh suaminya dengan wanita lain. Dan di rumahnya sendiri, rumah yang ia miliki atas keringatnya sendiri. Ranjang yang ia beli atas keringatnya sendiri.
Dan sekarang ...dengan tanpa rasa malunya Setu bersetubuh dengan wanita lain di rumah itu, di ranjang itu? Oh, sungguh tak terukir dengan kata-kata betapa sakit hati Salin. Berapa hancur hatinya saat ini.
Dengan langkah gontai, ia meninggalkan tempat itu. Membawa kehancuran hatinya, membawa kesedihan yang tak bisa ia ungkapkan.
Apakah ada wanita di luar sana yang biasa-biasa saja saat melihat dengan mata kepalanya sendiri, suaminya berbagi peluh dengan wanita lain? Apakah mereka bisa menerimanya dengan lapang dada.
Tidak, Salin bukanlah malaikat tak bersayap. Ia juga manusia biasa yang punya hati, punya rasa. Akan merasa sakit bila dikhianati oleh orang yang ia cintai. Akan merasa kecewa jika disakiti. Akan merasa hancur bila di depan matanya ia melihat suaminya bersetubuh dengan wanita lain. Berselingkuh dengan enaknya dengan wanita lain. Tanpa mengingat kalau ia telah beristri.
Ibu Sirlina yang menyaksikan antara anaknya dan Salin tersenyum. Seolah ia senang Salin diperlakukan tidak adil oleh anaknya sendiri. Sebagai seorang ibu, ia menutup mata batinnya terhadap sikap Setu kepada Salin selaku istrinya sendiri Yang tentu saja selaku menantunya.
Ia pun berlalu begitu saja tanpa ada niat untuk menasihati anaknya atau sekedar mengganggu Setu agar tersadar dengan apa yang ia lakukan salah.
"Semoga saja dengan begini aku segera dapat cucu. Ngapain mengharap dengan Salin yang tak jelas dia bisa atau tidak punya anak. Mending Weni, yang jelas-jelas membuat Setu tak bisa menahan hasrat.
Ibu Sirlina melihat dengan jelas saat Setu dengan beringasnya berada di atas tubuh Weni.
"Dasar Setu. Nggak bisa melihat yang bening dan bohay," ucapnya dengan geleng kepala.
***
"Salin! Ngapain dia disana?" tanya Alister. Ia sedang mengemudi menuju kantor. Tetapi di tengah jalan ia melihat Salin, duduk sendirian di sebuah kursi dekat dengan pohon.
Dengan rasa penasarannya, Alister mengehentikan mobilnya. Niatnya ingin segera ke kantor ia urungkan. Telpon dari asistennya ia abaikan begitu saja. Demi apa? Demi ia bisa tau apa yang terjadi pada Salin.
Dari belakang ia melihat punggung Salin hang bergetar. Ya, sengaja ia dari belakang siapa Salin tak menyadari keberadaannya.
"Dia menangis? Kenapa dia menangis?" batin Alister bertanya
Ingin rasanya ia berada di samping Salin, memeluknya, menenangkannya, memberi bahunya untuk tempat Salin bersandar. Mendengarkan isi hati Salin. Mendengar apa yang yang membuat Salin sampai meneteskan air matanya.
Kembali Alister tersadar. Jika ia melakukan itu maka Salin akan salah paham padanya. Salin akan merasa bahwa Alister memanfaatkan keadaan.
Alister serba bimbang dan ragu.
Alhasil, ia hanya bisa berdiri, mematung di tempat tepat di belakang Salin.
Perempuan itu sepertinya sangat rapuh sekarang. Lemah selemah lemahnya dan rapuh se rapuh rapuhnya. Ternyata begitulah Salin yang sebenarnya.
Salin yang selama ini adalah tipu daya. Ia menutupi segalanya dengan topeng.
Entah kenapa Alister merasa terluka dengan keadaan Salin sekarang. Ingin sekali ia memberi pelukan pada wanita itu. Wanita yang telah membuka tabir cinta di hatinya. Yang selama ini ia coba kubur dalam-dalam.
Hiks hiks hiks hiks
Salin menangis sesenggukan. Ia melihat sesuatu yang disodorkan ke hadapannya. Ya, sebuah sapu tangan berwarna biru terulur di hadapannya.
Tanpa melihat siapa yang menyodorkan sapu tangan itu, Salin meraihnya. Dan mengelap air mata dan juga ingusnya dengan sapu tangan itu. Ia sudah mengabaikan gengsinya, mengabaikan rasa malunya.
Sebagai wanita yang menjunjung tinggi, kalau menangis jangan sampai ketahuan oleh orang lain luntur sudah hari ini. Nyatanya ia perempuan biasa. Ternyata ia tak bisa menahan diri untuk tidak menangis. Terlalu sakit rasanya apa yang ia alami sekarang. Ia merasa tak kuat lagi.
Merasa Salin mendapat respon terhadap ukuran sapu tangan itu, pria itu merasa bahagia. Senggaknya Salin tidak menolak perhatian kecilnya.
Tak puas dengan itu, Alister mendudukkan dirinya di samping Salin lalu membawa kepala Salin ke dalam dadanya. Dan anehnya Salin tak menolak. Bukan seperti Salin yang selama ini yang selalu menolak bantuannya.
Sepertinya pertahanan Salin sebagai perempuan tegar runtuh sudah saat ini. Ia abaikan dunia hiruk pikuk di sisinya.
Berapa senangnya Alister atas respon Salin. Tak hanya disitu, Alister bahkan mengusap-usap punggung Salin dengan tangannya. Ia biarkan Salin menangis sesenggukan di dadanya. Bahkan ingus Salin mungkin sudah membasahi bajunya. Tapi ia abai, justru ia merasa bahagia.
Salin yang merasa nyaman, semakin mengeratkan pelukan. Tanpa menyadari siapa yang memeluknya sekarang. Ia malah meluapkan segalanya. Dan bayangan percintaan suami dan selingkuhannya masih teringat segar di benaknya. Membuatnya semakin sesenggukan.