Please, Love Me Husband

Please, Love Me Husband
Chapter 70. D'resto (mini hotel)



Ting tong


Ting tong


Dua kali bel pintu kamar Salin ada yang menekan.


"Siapa?" tanyanya dari dalam.


"Room service," sahut orang yang ada di luar. Suaranya adalah suara perempuan.


Mendengar kalau yang menekan bel adalah petugas hotel, salin segera membuka pintu kamarnya.


"Ada apa ya?" tanya Salin heran. Karena memang ia merasa tak memesan apa-apa.


"Ini ada paket buat nona." Petugas hotel itu mengangkat box yang ia bawa menunjukkannya pada Salin.


"Untuk saya? Saya tidak ada memesan." Salin bingung.


"Dari tuan Alister." Kemudian ucap petugas hotel itu.


"Oh." Salin menerima box tersebut. "Trimakasih," ucapnya.


"Sama-sama. Kalau begitu saya permisi. Selamat menikmati," ucap si petugas hotel. Ia pun akhirnya pergi meninggalkan Salin.


Salin menutup pintu kamarnya setelah kepergian petugas hotel.


"Paket apaan ini?" gumamnya. Ia mengamati box itu dengan seksama.


"Nanti aja deh aku buka. Aku mandi dulu. Gerah," ujarnya lagi.


Ya, saat ini Salin sedang berada di hotel bintang lima. Ia berada di sini karena keperluan kantor. Tugas luar kota lebih tepatnya. Dan selam tiga hari pula. Mau tak mau Salin pun menginap di hotel yang sudah di booking oleh perusahaan.


Alister juga ikut. Tetapi Salin tak tau dimana kamar pria itu. Ia pun berusaha tak mencaritahu. Toh nanti malam mereka pasti akan bertemu. Dengan sendirinya ia yakin Alister akan memberitahu.


Usai mandi, lengkap dengan pakaiannya Salin teringat dengan box tadi. Sebagai manusia biasa ia penasaran. Apa sih isinya?


Perlahan ia membuka bungkusan box itu. Lalu membuka kotaknya dan mengeluarkan isi dalamnya.


Ternyata isinya hanyalah sebuah kertas undangan. Kertasnya bagus, warnanya juga bagus. Isi dalam undangan itu adalah Salin diminta untuk menemui Alister nanti di sebuah tempat.


"Apa ini restoran?" tanya Salin.


"D'resto." Ia bahkan menggumamkan nama tempat itu.


"Sok misterius," gumamnya lagi.


Ada yang aneh dengan Alister menurut Salin. Kenapa harus lewat paket segala kalau ingin mengundangnya. Kan ada hp. Bisa langsung chat.


Ini kali pertama Alister bersikap sok misterius. Membuat Salin penasaran. Ditambah lagi isi undangan itu adalah membahas tentang pertemuan nanti malam.


Waktu menunjukkan pukul enam sore. Itu artinya, Salin masih ada waktu sejam lagi sebelum waktu ketemu dengan Alister tiba.


Waktu yang ada ia gunakan untuk menikmati kasur empuk di kamar itu. Ditambah dengan wangi dalam kamar itu. Suasana yang berbeda dengan rumah kontrakannya.


Jari-jari mungilnya berselancar dengan lincahnya di ponselnya. Membuka akun sosmed bahkan menonton videoklip lagu yang sedang viral.


Terkadang ia bersedih saat asyik menonton, menikmati serunya isi video eh ia harus menonton dulu sebuah iklan. Dan itu nggak bisa dilewatkan. Harus menonton baru bisa melanjutkan tontonannya.


Bosan dengan ponselnya, ia pun menatap jam di pergelangan tangannya.


"Eh, udah mau jam tujuh. Cepat banget waktu ini berlalu. Nggak kerasa," gumamnya.


Ia pun bersiap hendak menuju tempat dimana Alister sudah menunggunya. Itu sih menurut keterangan undangan tadi.


****


"D'resto." Salin membaca tulisan yang tertera diatas pintu sebuah gedung yang tidak besar. Lebih mirip ruko sebenarnya.


"Benarkan ini alamatnya?" Ia membaca ulang alamat dan nama tempat pada kertas undangan tadi.


"Benar kok," ucapnya. Ia yang bertanya ia pula yang menjawab sendiri.


Ya, di bawah tulisan D'resto ada tulisan mini hotel.


"Ini si bos ngapain sih nyuruh aku ke sini? Bukannya kita tinggal di hotel yang sama? Ada-ada aja deh," keluh Salin.


Salin memastikan kembali nama dan alamat sesuai isi undangan itu. Setelah ia merasa yakin, ia pun membuka pintu kaca gedung itu.


Setelah ia masuk ke dalam, ia merasa bingung. Dia yang tersesat atau memang gedungnya yang sepi. Tak ada tanda-tanda kehidupan di sana. Kosong, tak ada apa-apa. Hanya kamu kristal yang menerangi gedung itu.


Salin menelusuri seluruh ruangan, mencari tempat untuk bertanya. Biasanya kalau di sebuah hotel, selalu ada petugas yang standby di lobi untuk menyambut pelanggan yang datang. Tapi ini tidak ada sama sekali.


"Mungkin di belakang kali ga," ucapnya lagi. Masih berpikir positif.


Dengan langkah pelan, ia berjalan menelusuri lorong gedung itu. Dan benar, sekitar beberapa meter ia berjalan, ia dapat melihat orang-orang dengan pasangannya masing-masing.


Ada yang duduk dengan pasangannya, ada yang bernyanyi, ada yang menari dan ada yang main kartu. Jangan lupakan minuman beralkohol yang ada diantara mereka semua.


Fokus Salin malah pada pakaian para wanita-wanita yang ada di sana, minim, kurang bahan. Seperti belum selesai di jahit. Sangat berbeda dengan penampilannya saat ini.


"Maaf, dengan nona Salina Xavier?" tanya seorang pria berseragam. Sepertinya ia adalah petugas di gedung ini.


Tidak tepat gedung ini di sebut hotel. Terlihat seperti ruko dari luar. Tepatnya club malam. Ya, Salin diundang Alister ke club malam. Aneh bukan? Tapi selain tak curiga sedikitpun.


"Ya benar." Salin menjawab pertanyaan petugas tersebut.


"Mari nona ikuti saya. Tuan sudah menunggu anda," ucapnya menginterupsi.


"Ee, baik."


Dengan masih berpikir positif, Salin mengikuti langkah petugas itu. Membawa ia menuju lift. Salin melihat jelas petugas itu menekan tombol lift nomor tiga. Itu artinya mereka akan ke lantai tiga.


Ting


Lift pun terbuka.


"Mari nona," ajak sang petugas.


Salin menurut, membawa langkahnya mengikuti pria itu.


"Silakan masuk, nona. Tuan sudah menunggu di dalam."


"Trimakasih, pak."


Petugas itu pun meninggalkan Salin yang masih mematung di depan pintu itu. Di pintu itu hanya bertuliskan nomor 307.


Tok tok tok.


Salin pun mengetuk pintu ruangan itu. Tetapi tidak ada sahutan atau suruhan agar ia masuk ke dalam. Karena itu, ia pun menunggu sejenak. Berpikir mungkin yang di dalam ruangan sedang di kamar mandi sehingga ia tak bisa mendengar suara ketukan pintu.


Beberapa saat kemudian Salin mencoba mengetuk pintu lagi. Tetapi tetap tak ada jawaban dari dalam.


"Nona Salina Xavier?" Seorang petugas wanita menghampirinya. Dengan seragam yang sama seperti pria yang mengantarkan ia tadi.


"Iya, benar."


"Maaf nona. Tapi tuan tadi bilang kalau anda di persilakan masuk terlebih dahulu. Tuan sedang di luar karena ada urusan yang tak bisa dielakkan."


"Oh gitu. Terimakasih," ucap Salin pada petugas itu.


"Permisi, nona." Petugas itu pun berpamitan.


Sepeninggal petugas, Salin tak langsung masuk sesuai titah Alister tadi. Ia masih celingukan mencari sosok Alister di sana. Siapa tau ia sudah selesai dengan urusannya.


Karena tak menemukan yang ia cari, Salin pun akhirnya membuka pintu itu. Benar, memang pintunya tidak dikunci.


Salin ternganga saat sudah masuk ke ruangan itu. Sebuah meja bundar, diatasnya terdapat makanan, minuman, buah, lengkap dengan piring, sendok, pisau dan lainnya. Dan jangan lupakan lilin di tengah meja itu.


Persis seperti makan malam romantis. Belum lagi lampu kelap-kelip yang menghiasai ruangan itu. Ditambah lagi grup band yang sedang bernyanyi di panggung mini itu. Hanya pemain gitar dan vokalinya. Sepertinya sudah diatur seapik mungkin.