
"Ssss," Salin mendesis. "Pelan-pelan, Ter, sakit," keluhnya.
Mama Sefarina senyum-senyum dengan tingkah Salin terhadap Alister.
"Kamu manja banget sih, tadi waktu mama yang obatin malah nggak protes walau mama kuat nekannya. Sekarang malah protes dengan dia padahal menurut mama nggak kuat-kuat amat tuh," uap batin sang mama menerbitkan senyumnya.
Melihat namanya tersenyum, Salin tersipu malu. Entah kenapa mama Sefarina tersenyum pada mereka berdua. Hanya dua yang tau. . Sementara Stephania hanya diam saja. Ia masih merasa canggung terhadap Alister. Ia tak mengenal pria itu. Ia juga tak tau apa motif pria itu mendekati sang kakak.
"Ih, manja banget. Perasaan aku pelan kok. Nggak sampai keringatan lagi aku nekannya. Kamu mah lebay. Atau mungkin karena ada Tante jadinya kamu manja," goda Alister.
Semakin memerah saja pipi Salina dengan godaan lelaki itu.
"E, Lin .."
"Iya, ma," sahut Salin cepat. Ia ingin mengalihkan topik goda menggoda itu.
"Boleh nggak mama dan Nia tinggal di sini untuk sementara. Soalnya kan .. " Mama Sefarina menjeda ucapannya. Ia mengedarkan pandangannya pada seisi rumah. Rumah yang Salin kontrak memang tidak besar. Kecil juga tidak. Sangat pas lah ditempati oleh seorang manusia.
"Ya boleh dong ma. Salin senang banget kalau mama dan Nia mau tinggal di sini. Ya walau rumah ini kecil, ma. Hanya ini yang bisa Lin buat sekarang. Doakan Lin ya, ma. Agar ..."
"Sssst, nggak usah diteruskan. Mama pengen tinggal disini bukan karena rumahnya besar atau mewah. Tapi mama ingin bersama putri mama. Putri yang sudah lama jauh dari pandangan mata mama. Mama ingin lihat putri mama sepuasnya. Mama ingin selalu ada saat putri-putri mama terluka."
Tak terasa, air mata Salin menetes mendengar ungkapan tulus dari mama kandungnya itu.
Ketiganya spontan berpelukan, melepas penat dan melepas rindu yang sudah menggunung.
"Mama sehat terus ya. Jangan sakit lagi "
"Amin " Mama Sefarina dan Nia mengaminkan dia Salin tersebut.
****
Sementara di tempat lain, tepatnya di mansion. Dimana Setu, kekasihnya dan ibunya kini berada.
"Wen, sesekali kamu dong yang masak. Aku kan capek," keluh ibu Sirlina mulai protes. Sejak ia kenal dengan gadis itu, belum pernah ia memasak sekalipun. Dimana selama ini, ibu Sirlina lah yang selalu memasak. Sementara dia duduk tenang sambil main gadget.
"Pengen juga dong merasakan masakan karya tanganmu sendiri," ucap ibu Sirlina sore itu. Entah apa motifnya berbicara seperti itu pada ibu Sirlina
"Apa? Masak? Aku disuruh masak?" ucap Weni heran. Ia merasa calon mama mertuanya ingin segera mengusir ia dari mansion itu. Filsafatnya mengatakan begitu.
Entahlah, hanya mereka yang tau.
"Iya. Kenapa? Kamu nggak bisa masak ya?" tanya ibu Sirlina penasaran. "Salin aja bisa masak lho. Masakannya enak banget," ucapnya lagi keceplosan.
"Salin? Siapa itu?" tanya Weni pura-pura tak tau.
"Itu lho mantan istrinya Setu," jawab ibu Sirlina polos. Berpikir kalau Weni memang tidak tau siapa Salin.
"Oh, jadi ibu bandingin aku dengan mantan Setu Sandoro yang kampungan itu?" hardik Weni. Ia benar-benar kesal kepada calon mertuanya itu.
"Asal ibu tau ya, aku itu anak orang kaya. Dari kecil hidupku sudah bagai ratu. Jangankan untuk masak, untuk membereskan tempat tidur ku aja bukan aku. Hidupku itu serba berkecukupan. Lihat nih, tanganku. Tak ada kasar sedikit pun. Karena apa, ya karena aku nggak pernah bekerja. Aku aja disuapin makan sampai aku SMA," terang Weni panjang kali lebar dengan nada manja.
Ucapan pamer dari Weni membuat ibu Sirlina mati kutu. Ia merasa kalah telak. Tak tau lagi harus berkata apa. Tetapi jujur, ia penasaran. Sekaya apa sih keluarga dari Weni? Kalau kaya, kenapa Setu harus diporotin sama dia?
Ibu Sirlina bukannya tak tau kemana gaji Setu menghilang selama ini. Ia jelas sangat tau. Seharusnya kalau ia kaya, masih sudi memakai uang orang lain yang dibawah levelnya? Atau, apakah ia termasuk orang kaya yang sudah kaya tetapi semakin tamak, kikir dan pelit.
"Kalau begitu kembalikan uang anak saya yang selama ini sudah kamu hambur - hambur kan?" celetuk ibu Sirlina. Ia sudah berdiri sekarang.
"Kembalikan gimana? Aku nggak ada tuh ambil uangnya Setu. Ya sudah habislah traktir saya makan, belanja. Aku kan nggak mau makan di warung kecil atau restoran kecil. Aku juga nggak mau tuh belanja di mall kecil. Harus mall yang besar sekali dan tentunya mewah dan besar. Ya udah raib lah uangnya. Hahaha," sahut Weni bangga. Ia terkikik mengejek ibu Sirlina.
"Perempuan ular. Tega kamu," ujarnya marah.
Deg
Ibu Sirlina sungguh terkejut dengan ucapan Weni. Baru kali ini ia dikatai tua oleh seseorang. Teganya Weni berkata seperti itu padanya. Belum juga ia masuk ke dalam keluarga itu menjadi menantunya, tetapi sudah berani berkata seperti itu padanya.
"Dulu Salin tak pernah begini. Selalu menghormati aku, walau aku sudah sering menyiksanya," batin ibu Sirlina menyesali.
Ya, sekalipun dulu Salin diperlakukan dengan tidak terpuji, baik hati jiwa dan raga, tapi ia tak pernah melawan. Ia tetap diam melaksanakan tugasnya sesuai dengan titah mertua dan suaminya.
"Kenapa aku jadi rindu Salin," batin ibu Sirlina.
Sementara di tempat lain, tepatnya di rumah Salin.
"Ma, kak Nia pergi dulu, ya "
"Mau kemana kamu?" tanya kedua wanita beda generasi itu serentak.
"Kompak banget," sela Stephania.
"Nia mau ke rumah teman. Ada tugas kelompok," tambahnya lagi.
"Oh," sahut mama Sefarina.
"Jangan pulang kemalaman. Ini udah sore," timpal Salin.
"Iya, kakak ku sayang. Tenang aja. Aku akan jaga diri kok."
Stephania mengecup pipi kedua wanita beda generasi itu.
"Dah mama. Dah kakak. Masak yang enak ya. Saat aku pulang nanti biar langsung makan. Hehe," ujar Stephania terkikik setalah ia pamitan kepada dua wanita itu.
"Huuu, dasar. Sesekali kamu lah yang masak. Jangan cuma bisa makan doang," celetuk Salin.
"Siap!" sahut Stephania.
"Kakak jangan sepele, gini-gini Nia jago masak ya," serunya dari jauh.
"Masak apa? Masak air?" sahut Salin. Ia masih meladeni ocehan adiknya itu.
"Huss, kamu nih. Kamu nggak tau aja. Adik kamu itu sudah banyak berubah. Udah ah, dia nggak kan jawab tuh. Udah pergi juga," potong mama Sefarina.
"Ma."
"Ya."
"Memangnya Nia berubah gimana sekarang, ma? Bukan kah dia masih manja kayak dulu?"
"Kamu nih, kirain mau nanya apaan. Serius banget tuh mukanya."
"Hehehehe." Salin malah tambah nyengir.
"Ya, banyak aja yang sudah berubah dari dia. Sudah makin dewasa adik kamu itu "
"Oh ya? Terus terus..."
Sungguh, mereka sekarang baik-baik saja. Padahal baru saja mereka dilanda suatu prahara yang tidak mudah. Tapi sepertinya mereka sekarang, sudah tak memikirkan itu lagi. Salin yang baru berderai, mama Sefarina yang hubungannya tidak baik-baik saja dengan suami sekarang dan Nia yang tidak didukung sang papa untuk kuliah di luar negeri.
Tetapi ketiganya seolah tak kehilangan dua orang yang tak ada diantara mereka saat ini. Yaitu Ardan dan papa Sande.