Please, Love Me Husband

Please, Love Me Husband
Chapter 95. Perih



"Akhirnya kamu pulang juga, kak. Semua orang khawatir sama kakak tau nggak? Semua orang panik nyariin kakak," omel Stephania.


Dia sendiri juga sibuk mencari Salin. Bahkan melibatkan Dennis dan temannya di sekolah demi tau kabar kakaknya tersebut.


Tanpa berkata-kata lagi, Stephania langsung memeluk sang kakak. Takut sekali ia kehilangan saudaranya itu, kakak satu-satunya yang tertinggal.


"Kak, semua pasti baik-baik saja. Jangan terlalu kakak pikirkan. Aku, adikmu akan jadi nata untukmu nanti. Dan akan jadi kaki dan tangan untuk mu kelak jika semuanya itu tidak berfungsi. Mana mungkin kami mau kehilangan keceriaan mu kak. Jadi, please jangan pernah menyalahkan diri sendiri. Jangan pernah kabur-kaburan. Oke?"


Stephania memeluk erat sang kakak. Menghibur dan menenangkannya. Satu-satunya yang Salin butuhkan saat ini adalah support system. Bukan materi yang bergelimpangan.


"Kita semua tidak akan membiarkan kakak menanggung semuanya sendirian. Percaya sama Nia, kak "


Tutur kata Stephania begitu lembut, hangat dan menyejukkan dahaga. Sungguh, si bontot yang ambisius, emosian kini sudah semakin dewasa. Bahkan sering ia lebih dewasa dari orang yang diatasnya.


Melihat kedua putrinya itu, mama Sefarina pun tak mau diam saja. Ia ingin memberi dukungan kepada putri bungsunya itu semampu ia. Sekuat yang ia bisa. Mengembalikan kembali rasa semangat Salin, seperti sediakala.


Bukankah selama ini ia sudah nyaman dengan keadaan seperti ini? Tidak ada yang mengusiknya apakah ia buta atau melihat. Karena dengan baik keluarganya memperlakukan dirinya sebagai mana mestinya. Adil seperti kepada orang lain pula.


"Iya, sayang. Mama, papa selalu bersamamu. Kita akan lahir bersama. Kita ada disini untukmu," timpal mama Sefarina. Diangguki oleh papa Sande dan juga Alister.


Lama mereka berpelukan. Melepaskan semua penat dan sesak yang ada di dada. Selama ini Salin tak pernah mengalami kendala mengenai penglihatannya. Oleh karena itu ia sangat terpukul setelah dokter mendiagnosa kalau dia mengidap retinitis pigmentosa. Dimana sejauh ini belum ada obatnya. Belum bisa disembuhkan.


****


Sementara di tempat lain, di kediaman Setu Sandoro dan ibu Sirlina. Rumah yang dulu Salin tinggalkan untuk mereka kini terasa sepi, mencekam. Tak ada suara keributan memasak di dapur. Tidak ada suara ribut karena mencuci, tidak ada suara mengaku di halaman. Banyak hal yang hilang di rumah itu.


Terutama saat kepergian Salin dan masuknya Weni dalam rumah itu. Perempuan yang sempat dulu Setu anggap akan memberi keturunan padanya. Keturunan yang sudah lama dinanti oleh Setu sandro dan ibu Sirlina.


"Ibu, kembalikan Salina, bu. Aku mau Salina, bu," rengek seroang pria mengadu kepada ibunya layaknya anak kecil yang balonnya direbut oleh teman sepermainannya.


Setu Sandoro saat ini sedang tidur beralaskan kaki sang ibu. Memohon-mohon pada ibunya agar mau meminta Salin untuk kembali padanya.


"Coba kalau Salina ada, bu. Aku nggak akan se- menderita ini. Coba saja dia ada, rumah ini pasti ramai, bu. Segala jenis makanan akan terhidang diatas meja. Ayo, Bu kita jemput Salina," rengek Setu lagi, bak anak kecil. Ia bahkan menggoyang-goyangkan kepalanya yang di pangkuan kaki sang ibu.


"Setu lapar, bu. Akhir-akhir ini nggak selera makan."


"Makanlah kalau lapar! Ibu sudah masak untuknya."


"Yang gosong itu lagi, bu?"


Kembali lagi Setu merengek atas masakan sang ibu. Terlalu sering ia makan dari luar yang membuat isi kantongnya terkuras. Ini semua karena masakan ibu Sirlina selalu berhasil, gosong bahkan sering tak bisa dimakan.


"Maafin ibu ya, nak. Belum bisa memasak enak untukmu. Ibu janji, ibu akan lebih giat lagi untuk belajar memasak. Supaya kamu lahap makannya "


"Bu, bisa ganti nggak janjinya? Ibu udah ucapkan itu ribuan kali. Tapi sampai sekarang belum juga terwujud," omel Setu.


"Oh gitu. Lalu, kenapa bukan kamu saja yang masak? Lagian kalau beli terus memangnya gaji kamu cukup?" Ibu Sirlina Judah mulai jengah dengan sikap putranya itu. Selalu saja mencaci masakannya. Padahal ia sudah berusaha untuk melakukannya.


"Siapa bilang memasak itu hanya pekerjaan perempuan?" tanya ibu Sirlina. Ia seolah lupa akan apa yang ia katakan kepada Salin dulu.


" Ibu .. ibu Apa Ibu lupa, apa dulu yang ibu bilang ke Setu saat Salina masih ada. ibu selalu saja memprovokatori antara aku dan Salina Sehingga aku sering marah-marah pada Salin, bu. Selalu berusaha mencari celah agar aku bisa marah padanya."


"Ibu bilang kalau perempuan itu kerjaannya di kasur di sumur dan di dapur. Sekarang, kenapa ibu menyuruh Setu untuk memasak? bukannya ibu, satu-satunya perempuan di rumah ini?"


"Tau begitu, labih baik kita bayar asisten rumah tangga aja supaya ada yang memasak dan beresin rumah, beresin semuanya." Panjang lebar Setu protes serta memberi sebuah ide agar mereka tak lagi makan masakan gosong.


"Emang kamu sanggup menggaji mereka?"


"Ya, gampanglah itu. Kita bayar aja ia sesuai dengan kemampuan kita.


"Sejak kapan kamu punya pemikiran sepicik itu? Ya jelas tidak akan ada orang yang mau mengerjakan itu, apalagi kalau kecil gajinya, sesuai dengan kemampuan kita. Memangnya uang kamu sebanyak apa sih untuk menggaji meraa? Bukannya perusahaan kamu sudah bangkrut ya?"


"Ah si Ibu malah bahas tentang perusahaan. Perusahaan lagi perusahaan lagi. Aku pusing loh bu kalau membahas tentang perusahaan. Ibu ngerti nggak sih?"


"Ya maaf. Habis kamu yang duluan mencaci masakan ibu. Lebih baik itu kamu makan, dari pada masakan yang ada racunnya?"


****


Beda hal pula yang terjadi di kediaman tuan Aaron. Terlihat kamar itu sepi. Hanya terdengar suara jam dinding yang berdetak. Menunjukkan jarum jam pada angka delapan lewat dan jarum menit yang panjang pada angka enam.


Seorang gadis sedang duduk di kursi meja rias. Sedang menulis sesuatu di dalam buku kecilnya. Notebook yang selalu menemani dia sejak ditinggal oleh Ardan.


Pena itu menari-nari diatas lembaran kertas, mengukir kata menjadi beberapa bait.


Selepas pergi mu, aku tak lagi mengenali diriku. Tubuhku memang masih utuh. Jantungku pun masih baik-baik saja. Masih berdegup seperti biasanya. Bekerja seperti biasanya.


Tetapi aku tak lagi merasa hidup. Aku.... tak lagi bisa merasakan yang namanya cinta.


Sedalam rasa yang aku punya untukmu.


Se-gagah yang pernah aku berikan padamu


Sehebat yang pernah aku persembahkan padamu


Mungkin, aku memang bisa dengan dia yang lain selain kamu.


Tapi dia, tidak kan pernah bisa sampai di titik itu.


Air mata itu jatuh terurai. Bahkan sampai membasahi lembaran kertas yang sudah ia tulis. Luka yang dulu menganga, hingga detik ini belum bisa ia sembuhkan. Masih terasa perih walau tak se-perih dulu.


"Kak Ardan, apa kakak tau kalau aku sangat merindukanmu? Apa kakak bisa melihat aku dari atas sana?"


Dihapusnya air mata yang tiada pernah berhenti mengalir itu. Belum bisa ia melupakan sosok Ardan sampai sekarang. Pertemuan mereka memang tidak berlangsung lama tapi cukup meninggalkan bekas yang begitu mendalam di hati Agnesrani Anantha Pradina.