Please, Love Me Husband

Please, Love Me Husband
Chapter 61. Tolong, Jangan Sakiti Aku!



"Lin, jangan marah dong. Please "


"Buat apa aku marah?" tanya Salin terkesan cuek.


Alister pun semakin bingung dengan tingkah Salin. Awalnya ia merasa jika Salin ada rasa yang berbeda terhadapnya. Mengingat setiap kali mereka bertemu, seperti ada chemistry. Mereka merasa se frekuensi. Salin bisa jadi diri sendiri saat dengan Alister, begitu juga Alister. Tidak ada jaim. Tidak ada yang perlu di tutupi. Tidak ada rasa segan.


Entah kenapa bisa seperti itu, mereka juga tidak tau.


Hingga pada saat kejadian itu, suara kemesraan yang Salin dengar, suara manja seorang wanita dan keduanya berpelukan kala itu. Salin melihat dengan mata kepalanya sendiri.


Salin kesal sebenarnya, tapi ia gengsi mengakui. Tetapi ia bertanya pada dirinya sendiri, kenapa harus kesal. Toh aku kan nggak ada hubungan apa-apa dengan Alister. Begitulah kata batinnya.


Terkadang ia menepuk jidatnya sendiri, merutuki kebodohannya sendiri karena kesal dengan apa yang ia lihat.


"Katanya cinta sama aku, sayang sama aku. Ingin menghabiskan waktu sampai tua sama aku. Nyatanya apa, saat ada yang bening memeluknya, dia malah diam saja," gerutunya kala itu. Saat ia sudah meninggalkan Alister dengan wanita itu di dalam ruangan tersebut.


"Tapi kenapa aku marah ya," gumamnya sendirian.


"Terus kalau kamu nggak marah, kenapa kamu cuek


sama aku. Aku salah apa?"


"Nggak ada," sahut Salin singkat.


"Udah ya. Aku mau pulang. Mama dan Nia pasti udah nungguin aku." Sebisa mungkin Salin mengelak agar tak berhubungan dengan Alister. Entah kenapa ia melakukan itu.


"Kamu kenapa sih kayak menghindar dari aku gitu?"


"Nggak ada."


"Kamu cemburu ya?"


"Idih pede. Buat apa aku cemburu?"


"Karena kamu cinta sama aku. Karena kamu suka sama aku," sahut Alister dengan yakin.


"Buktinya, setelah kamu melihat aku dengan dia, kamu langsung kayak gini sama aku. Dingin, cuek l, jutek bahkan berusaha menghindar. Aku udah berusaha ingin ngomong, ingin jelasin ada hubungan apa aku dengan dia, tapi kamu selalu saja menghindar. Bisa nggak sih jangan kekanakan?"


"Apa? Kamu bilang aku kekanakan?" Salin meninggalkan suaranya. Tak terima ia dituduh seperti itu oleh Alister.


"Buat apa aku cemburu? Mau kamu pelukan kek, ciuman kek, apa kek, itu terserah kamu. Nggak ada hubungannya dengan aku. Itu hak kamu, badan, badan kamu. Kamu yang berhak nentuin siapa yang bisa menyentuh kamu, memeluk kamu. Aku nggak," tegas Salin.


"Kalau kamu merasa aku berubah cuek, dingin, itu hak kamu menilai. Tapi aku hanya ingin menjaga jarak. Kalau kamu ternyata sudah ada yang memiliki. Jadi, aku lebih baik mundur. Jangan sampai aku di cap orang sebagai pelakor. Nggak, aku nggak mau itu, Ter. Aku mau hidup tenang Sudah cukup semua masalah selama ini menimpa aku. Aku capek, Ter. Capek."


"Lalu, kalau aku inginnya kamu yang menyentuh ku gimana? Kalau aku ingin kamu yang aku cium gimana?" Alister membalikkan pernyataan Salin kepadanya. Membuat Salin kelabakan.


Wajah Alister sudah semakin dekat, menatap Salin. Mengunci pandangan mereka berdua. Tak berkedip walau sedetik pun.


"Kalau kamu yang peluk aku, kalau kamu cium aku Lin, aku ridho. Aku ijinkan dengan sangat ikhlas. Karena aku mencintai kamu. Aku ingin kamu yang terakhir, Lin. Meski memang bukan yang pertama untuk ku."


"Ter, stop! Stop bilang begitu. Gimana dengan gadis yang kemarin? Aku juga wanita, Ter. Aku nggak mau wanita lain di luar sana sakit hatinya karena aku sudah merebut yang bukan hak ku yaitu kamu."


"Kuakui, dia memang mantanku. Tapi, diantara kamu sudah tidak ada hubungan apa-apa. Itu sudah berlalu, Lin. Aku udah nggak ada rasa sama sekali dengannya. Please percaya sama aku, Lin."


"Dia memang memeluk ku, menyentuh ku, mencium ku, tapi itu hanya raga, Lin. Itu hanya badanku. Hati aku hanya untukmu. Aku nggak ada perasaan apa pun dengan dia lagi," terang Alister panjang lebar.


"Iya, aku percaya sama kamu," ucap Salin dengan lirih.


"Kita duduk lagi, yuk!" ajak Alister. Ia ingin meluruskan kesalahpahaman diantara mereka. Alister tak ingin terlalu lama Salin mendiamkannya.


Karena rasa penasarannya, Salin pun menuruti ajakan Alister. Mereka kembali duduk di kursi kafe itu. Bahkan ia melupakan alasannya tadi yang ingin segera pulang karena ditungguin mama dan adiknya.


Alister menggeser lagi kursi untuk tempat duduk Salin. Mereka sudah ganti meja. Karena meja mereka tadi sudah digunakan oleh pelanggan lain.


"Kita pesan minum ya atau cemilan mungkin?" Alister menaikkan alisnya.


"Ya," sahut Salin singkat.


Mendengar ucapan Salin, Alister memanggil petugas kafe itu lalu memesan apa yang ia inginkan. Bahkan tanpa bertanya pada Salin ingin cemilan dan minuman apa.


"Lin, mulai sekarang, percaya sama aku ya. Akan banyak nanti informasi yang nggak benar kamu dapat saat banyak yang lihat kita sering jalan bareng. Dan kamu harus tetap milih percaya ke aku, ya," mohonnya. Ia menggenggam tangan kiri Salin, lalu meletakkannya di dadanya.


"Hati ini, rasa ini, hanya untuk kamu seorang," ucapnya lembut.


Salin merasa banyak kupu-kupu yang sedang beterbangan di dalam perutnya. Belum pernah ia diperlakukan selembut ini oleh lelaki manapun. Ini yang pertama. Biasanya ia dibentak-bentak, dikasari. Tapi ini?


Sekelebat bayangan Setu, saat memukulnya muncul ke permukaan. Membuat Salin melepaskan tangannya dari genggaman Alister. Kembali, rasa trauma itu muncul.


Dulu, Setu sering menarik pergelangan tangannya dengan paksa. Memelintir tangannya, menampar wajahnya bahkan menendang perutnya. Dan masih banyak lagi kekerasan yang ia lakukan pada Salin.


Sekarang, tiba-tiba ada yang memegang tangannya, spontan ia jadi takut. Terkenang akan masa itu. Masa yang sangat menyiksa batin dan raganya.


Wajahnya pucat. Tubuhnya gemetar, seperti orang yang ketakutan. Peluh sudah mengalir membasahi pipinya.


"Kamu kenapa, Lin?" tanya Alister panik. Ia semakin mendekati Salin. Tadinya kursi mereka berhadapan, sekarang Alister malah duduk di sampingnya saking paniknya. Dia ingin tau apa yang terjadi pada Salin.


"Jangan sentuh aku!" pekik Salin. Ia berdiri, menghindari Alister yang merangkulnya dari bahunya.


"Lin, ada apa?" tanya Alister bingung.


Penghuni kafe, teralihkan kepada mereka. Setelah mereka mendengar suara pekikan Salin tadi.


"Jangan dekati aku. Aku mohon!" ucap Salin. Ia menangis. Bibirnya bergetar dan pucat.


"Tolong jangan sakiti aku," ucapnya lirih.


"Lin, ini aku Alister. Aku nggak akan menyakiti kamu, sayang. Aku sayang sama kamu. Aku cinta sama kamu. Bagaimana aku tega menyakiti kamu," ucap Alister lembut, selembut-lembutnya.


Alister sadar, ada yang tidak beres dengan Salin. Ya, Salin trauma. Kejadian masa lalu belum bisa ia lupakan. Masih sangat membekas di ingatan, di batinnya.