Please, Love Me Husband

Please, Love Me Husband
Chapter 24. Bukan Namaku Yang Kamu Sebut



"Weni.... Ah ... Weni....."


Tiga kata itu selalu terngiang dalam benak Salin. Sementara Setu diatas tubuhnya, terus melanjutkan aksinya. Tangannya yang besar sibuk bekerja di dua gundukan kembar itu. Mulutnya tak berhenti bergerak ke sana ke mari, mencari sesuatu yang membuat ia senang.


Ya, malam ini, setelah sekian lama Setu tak pernah menyentuhnya, tiba-tiba malam ini entah ada angin dan badai apa yang menerpa. Di pekatnya malam, di tengah malam yang dingin saat Salin memang tidak terjaga. Tiba-tiba sebuah tangan menempel sempurna di punggungnya.


Kemudian, tangan itu menjalar membelai area punggung Salin. Puas disana, pindah lagi ke bagian depan. Awalnya Salin merasa bahwa tangan itu hanya sembarang bergerak. Tetapi ternyata semakin lama semakin lembut dan berirama. Lalu sekarang tangan itu ada di perutnya. Kemudian seperti sekarang ini, menari diatas dua gundukan itu.


Salin diam saja. Tak ada bereaksi apapun. Ingatannya tertuju pada bekas lipstik yang pernah ia lihat di kemeja suaminya, harum parfum yang lain di baju suaminya, dan bekas lipstik yang menempel di tubuh suaminya.


Apakah itu yang membuat Setu tak pernah menyentuhnya lagi? Apa karena ia telah menemukan sesuatu yang nikmat di luar sana sehingga ia tak pernah membawa Salin memadu melodi cinta yang dulu pernah ada? Atau apakah Salin sudah tak menarik lagi di matanya? Apakah ia tak bernafsu saat melihat istrinya?


Dulu kala itu pernah sekali, Salin tidur dengan pakaian yang minum. Ia bermaksud menggoda suaminya. Tidur dengan pose gaya yang mengundang hasrat. Tapi apa yang di dapat? Setu malah abai, tak peduli. Ia lebih memilih tidur. Seperti tidak melihat apa-apa.


Padahal dulu, saat mereka baru menikah, tiap hari mereka selalu melakukan dinas itu. Tiap hari juga Salin selalu memakai dinas sesuai titah Setu. Bahkan sampai Salin tak bisa jalan waktu itu. Walau bagaimanapun penampilan Salin, Setu selalu tergoda.


Melakukannya tak kenal lelah. Melakukannya tak kenal tempat dan waktu. Bahkan sering kepergok oleh ibu Sirlina. Akan tetapi Setu selalu mampu menjawab omelan sang ibu.


Entahlah, sekarang semuanya berubah.


Dan sekarang ini pun, meski Setu memberikan sentuhan yang lembut, layanan yang berirama, Salin merasa itu semua sia-sia.


Memang, jujur diawal Salin senang. Walau bagaimanapun ia wanita normal. Ia akan bahagia jika prianya menyentuhnya. Membelainya membawanya ke satu tempat yang membuat ia tebang melayang. Mungkin setiap wanita di luar sana pasti merasakan seperti yang dirasakan Salin.


Tetapi di menit ke sepuluh, saat sesuatu yang di bawah berkedut-kedut, Salin harus mendengar nama itu lagi uang di sebut, yang keluar dari bibir suaminya yang sedang berada di dadanya.


"Weni.... Ah ... Weni....."


"Tubuhmu selalu menggoda. Ahh."


Lagi lagi, Setu meracau sambil memakamkan mata menikmati indahnya tubuh wanita yang berada di bawahnya. Tubuh lain ia tindih, nama lain ia racaukan.


"Tubuh tubuhku, tapi bukan namaku yang kau melodikan, mas," bisik batinnya. Perih rasanya.


Segera Salin menghentak, menghentikan aksi Setu. Memaksa lepas dari kungkungan prianya itu. Sambil menangis ia menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang sudah polos.


Terduduk ia di lantai berselimutkan kemarahan, kekecewaan, kesedihan dan merasa dikhianati. Berhiaskan air mata ia terkulai di lantai dingin itu. Sementara Setu, mencari-cari sumber yang menuntaskan hasratnya. Hingga ia tersadar bahwa ia tengah di mabuk asmara.


Dengan tubuh tak berkain, Setu menghampiri Salin yang terduduk lemas di lantai.


"Apakah kamu tak mau melayani suamimu?" tanyanya dengan tanpa rasa berdosa sama sekali.


"Bukankah seorang istri harus melayani suaminya, tidak boleh menolaknya?" cecar Setu, menatap tajam Salin yang duduk dengan menekuk kedua lutut, merapatkan lutut itu dengan tubuhnya.


"Ke sini kamu!" pekiknya di keheningan malam itu.


"Kesini kataku!" jeritnya lagi karena Salin hanya diam.


Dengan cepat Setu mendekati Salin, berjongkok di bawah tanpa rasa malu dan bersalah atau risih dengan dia tak berkain. Sehingga bagian bawah itu terlihat menegang, seperti siswa yang sedang berbaris posisi lancang depan.


"Layani aku cepat!" titahnya dengan suara keras. Padahal Salin ada, tepat di hadapannya.


Setu menarik kasar bahu Salin, membuatnya agar menghadap ke arahnya. Mereka pun saling berhadapan. Dan Salin masih menundukkan kepala membuat Setu geram.


"Angkat kepalamu! Tatap aku!"


Salin abai, entah ia tak mendengar apa kata suaminya. Pikirannya fokus kepada semua yang mencurigakan dari suaminya. Semua itu berputar-putar dalam benaknya.


Geram dengan sikap Salin, Setu menaikkan dagu Salin hingga mata Salin tertuju padanya.


"Ku tersiksa. Kepalaku sakit, layani aku," titahnya lagi tapi sudah menurunkan nada suaranya.


Seru membelai wajah Salin yang basah itu.


"Kenapa kamu menangis?" tanyanya. "Belum juga aku memasukkan milikku kamu sudah menangis. Bukankah hal itu sudah biasa kita lakukan?" tanyanya heran.


"Sepertinya saya tadi tidak berbuat kasar padamu. Saya justru menikmati semuanya."


"Jawab! Kenapa diam terus? Kamu tuli?"


Kembali lagi amarahnya keluar. Ia berusaha tadi bersikap baik agar hasrat yang sudah tak bisa dibendung segera tersalurkan. Tapi lagi-lagi ia tak mendapati respon baik dari Salin sesuai keinginannya.


Plak


Tak bisa lagi menahan amarahnya, akhirnya sebuah tamparan keras mendarat di wajah Salin bahkan sampai keluar darah dari bibir Salin akibat tamparan kuat tangan kekar itu.


Sesuatu yang di bawah tadi serentak dengan amarah yang memuncak dari Setu, seketika menciut lemas jadi menggantung di bawah. Hilang sudah seleranya untuk menyentuh istrinya itu. Lenyap sudah hasratnya untuk melanjutkan percintaan itu.


"Kamu berubah, mas."


Tiba-tiba dengan suara parau, menahan tangis Salin berucap demikian.


"Apa? Berubah? Dimana letak berubahnya? Apa salah jika suaminya meminta istrinya untuk bercinta dengannya? Salah?" tekan Setu pada setiap kalimat yang ia lontarkan.


"Disentuh salah, nggak disentuh juga salah. Kamu apa sih?" tanya Setu. Ia teringat waktu Salin dulu untuk memancing hasratnya dengan berkain minum, bermaksud menggodanya. Disitu memang dia tidak mau.


Salin juga marah kala itu. Sudah capek berdandan, sudah beli baju yang kurang bahan, tapi tak digubris sedikitpun.


"Sekarang saat kamu ku sentuh kamu malah menangis, marah. Dasar cengeng," umpat Setu.


"Iya, aku akui aku cengeng. Aku marah. Aku kesal." Salin mulai meluapkan amarahnya. Mengeluarkan semua yang sudah sesak di dada. Yang selama ini coba ia tutupi dengan rapat dan rapi, ia tahan di dalam dada.


Salin tak ingin keluarga kecilnya hancur hanya karena Setu jarang menyentuhnya. Hanya karena Setu jarang mengajaknya bersetubuh. Tidak lucu kan alasan bercerai karena sang suami tidak mau bersetubuh dengan istrinya?


"Kenapa kamu marah?" tanya Setu heran. Ia mengernyitkan dahinya.


"Bukan namaku yang kamu sebutkan, mas."