
"Pa, maafin Nia, pa. Nia udah banyak bikin papa kecewa. Bangun, pa."
Gadis itu menangis tergugu. Memeluk papanya yang sedang terbaring lemah diatas brangkar itu. Berita yang ia dengar dari sang kakak membuat dia tak berpikir banyak, segera bergegas ke rumah sakit.
"Mulai sekarang, Nia akan dengerin papa. Nia nggak akan melawan lagi sama papa. Nia akan nurut apa kata papa. Tapi papa harus bangun, pa "
"Papa bangun. Hiks hiks hiks."
"Jangan tinggalin Nia, pa. Kumohon."
Salin dan mama Sefarina yang mendengar tangisan dari Stephania hanya bisa diam. Tak menghalangi Stephania atau membujuknya agar tidak menangis.
Mereka berdua memberi waktu kepada kedua manusia itu. Yang selalu berselisih paham ketika papa Sande sehat. Selalu bersikeras atas pendapat masing-masing. Tak mau dibantah.
Hingga kedatangan dokter dan perawat menghentikan tangis Stephania. Ia yang lebih aktif sekarang bertanya kepada dokter bagaimana kondisi sang papa.
"Dok, papa saya gimana? Kenapa papa saya bisa ngedrop? Sakit apa papa saya, dokter? Apakah tidak bisa disembuhkan?"
Dokter yang dihalau pertanyaan beruntun seperti itu, hanya bisa garuk-garuk kepalanya. Entah karena gatal atau karena bingung menjawab pertanyaan yang berjibun dari Stephania.
"Nia, tenang," bujuk Salin. Menghampiri adiknya, memegang lengannya memberi Stephania kekuatan.
"Biarkan dulu dokter memeriksa papa, ya," imbuhnya.
Salin membawa sang adik agar menjauh dari brangkar papa Sande dan memberi ruang untuk petugas medis agar leluasa memeriksa papa Sande.
Dengan sabar, Salin menuntun Stephania untuk duduk di sofa ruangan itu. Menenangkan adiknya yang sedari tadi menangis dengan kondisi papa Sande.
Begitupun mama Sefarina. Ia menghampiri kedua putrinya itu. Saat ini, keluarga mereka benar-benar dihadapkan oleh dua kenyataan pahit. Dimana sang kakak tercinta terlebih dahulu dipanggil oleh yang maha Kuasa.
Sementara ayah mereka sedang terbaring, lemah tak berdaya bahkan gak bisa ikut untuk pemakaman putra kesayangannya. Penyesalan yang begitu dalam di hati papa Sande. Meski ia tidak bisa berucap beberapa hari ini tetapi air matanya sebagai bukti, bahwa ia sangat kehilangan putranya tersebut.
Dengan telaten, dokter mengecek kondisi papa Sande. Menyebutkan apa saja perkembangannya kepada perawat, dimana perawat mencatat semua apa yang diucapkan oleh dokter.
"Bagaimana suami saya, dok?" tanya mama Sefarina menghampiri dokter dan para perawat.
"Kondisi tuan Sande saat ini sudah stabil. Beliau sudah melewati masa kritisnya. Tetapi ia belum sadarkan diri. Nyonya dan keluarga tenang saja. Mungkin dia atau tiga jam lagi beliau akan sadar," terang sang dokter.
Meski mama Sefarina memiliki riwayat penyakit jantung, tetapi saat ini ia berusaha sekuat tenaga untuk tidak memikirkan apa-apa. Ia hanya fokus berpikir positif bahwa papa Sande akan segera sembuh. Salin pun merasa tenang karena kondisi mamanya baik-baik saja.
"Walau beliau belum sadar, ajak sana bicara, tidak apa-apa. Mungkin ucapan yang nyonya dan keluarga sampaikan membuat lebih semangat untuk bangun dari tidur panjangnya. Sudah seminggu lebih beliau tidak membuka mata. Akan tetapi, hari ini perkembangannya pesat," terang sang dokter.
Membuat mama Sefarina, Salin dan Stephania lega.
"Kalau begitu saya permisi, nyonya. Kalau ada apa-apa, nyonya bisa panggil saya. Atau tekan bel jika ada hal yang urgent."
"Baik, dokter. Trimakasih."
Dokter dan beberapa perawat itu pun mengangguk mengiyakan, lalu mereka pun meninggalkan ruangan papa Sande.
***
Di tempat lain, di sebuah perusahaan besar di kota itu. Tetapi masuk lebih besar perusahaan keluarga Alister. Seorang wanita dengan heels setinggi 9 cm, berjalan lenggak-lenggok menuju ke dalam ruangannya.
Suara heelsnya menggema di dalam ruangan itu. Membuat para karyawan tau, siapa yang lewat. Mereka sudah hapal betul itu suara heels milik siapa. Sekalipun berganti-ganti setiap harinya, akan tetapi gaya berjalan Rebecca sudah tersimpan di memori mereka.
Oleh karena itu, mendengar suara heels yang bersentuhan dengan lantai keramik itu, membuat mereka fokus dan terlihat serius bekerja. Padahal sebelumnya, mereka asyik menghibahkan si boss yang tak lain adalah Rebecca, CEO dari perusahaan tersebut.
Tap tap tap
Suara heels itu, menggema di dalam ruangan tersebut.
"Mau ngapain kamu ke sini? Belum cukup kegagalan yang sudah kamu buat?"
Wanita itu langsung membentak seseorang yang sudah duduk manis di dalam ruangannya. Bahkan ia duduk di kursi kebesarannya, di kursi seorang CEO.
"Saya, sudah tak mau berurusan dengan laki-laki pengecut seperti kamu. Keluar!"
"Eps, santai dong. Jangan marah-marah. Nanti keriputnya kelihatan," sahut pria itu dengan enteng. Tak ada takutnya ia terhadap wanita itu. Bukan seperti para karyawan yang dilewati oleh Rebecca tadi.
"Saya ke sini, mau mengembalikan ini."
Pria itu melemparkan dengan kasar sebuah amplop tengah ke arah Rebecca. Untung Rebecca sigap menangkap, kalau tidak ia bisa terjatuh jika sampai terkena oleh lemparan amplop itu.
"Ambil dan makan uangmu sepuasnya. Saya tidak butuh!" ucap Setu menegaskan.
"Cih, dasar banci. Baru Setu saja udah nyerah," cebik Rebecca.
"Saya juga, mulai sekarang tak Sudi bekerja sama dengan laki-laki penakut seperti kamu. Saya bisa kerjakan sendiri. Dasar tidak becus!" Begitu ucapan Rebecca, menghina seorang Setu Sandoro.
"Baguslah. Saya juga senang, bisa lolos dari wanita licik seperti kamu. Ulang berkepala dua. Tidak punya rasa malu, meludah tapi dijilat kembali ludah yang sudah ia buang. Cih, saya tidak mau terkontaminasi. Saya lelaki yang mempunyai harga diri. Bukan seperti kamu!" sarkas Setu tak kalah sadisnya.
"Kamu mencampakkan Alister, kamu jual tubuhmu kepada lelaki lain, lalu setelah kamu tidak mendapatkan kepuasan, kamu ingin mencoba mengambil lagi Alister yang sudah move on dari kamu. Cih! Menjijikkan!"
Lagi lagi, dengan gamblangnya Setu Sandoro merendahkan Rebecca.
Deg
Rebecca yang mendengar ucapan Setu merasa terkejut. Darimana Setu tau tentang dirinya? Apakah karena itu Setu memutuskan kerja sama dengannya?
Hilang muka sudah ia di hadapan Setu Sandoro. Meski seorang CEO, tapi perusahaan Setu jauh lebih kecil dibandingkan perusahaan Rebecca. Tetapi, hari ini sukses sudah Setu Sandoro merendahkan seorang CEO yang ditakuti oleh para pekerjanya.
.
"Kurang ajar!" umpat Rebecca dalam hati. Tangannya sudah terkepal. Tetapi ia sadar, dirinya tidak bisa adu jotos dengan seorang lelaki yang bernama Setu Sandoro itu. Selain namanya dipertaruhkan, ia juga tak memiliki tenaga yang kuat. Tak ada ilmu beladiri yang melekat di tubuhnya.
"Security!" hardiknya, memanggil petugas keamanan khusus lantai teratas pada ruangan CEO tersebut.
"Iya, nona," jawab seorang lelaki dengan napas masih ngos-ngosan akibat berlari tadi memasuki ruangan ceo tersebut.
"Usir lelaki ini dari ruangan saya. Kalau tidak, kamu saya pecat!"
Rebecca dengan mudahnya mengancam pekerjanya itu. Tanpa memikirkan bagaimana nasib pria paruh baya itu bila ia sampai kehilangan pekerjaannya.
"Ba-baik, nona," jawab security itu.
"Oh, tidak perlu tidak perlu tidak perlu. Saya bisa keluar sendiri," sahut Setu.
Meski Setu terkenal jahat, tetapi akhir-akhir ini ia sudah memiliki belas kasihan. Ia iba terhadap pria paruh baya itu.
"Baguslah. Segera angkat kakimu dari ruangan saya. Karena saya tak sudi berhubungan lagi dengan pria lemah seperti kamu!" hardik Rebecca. "
"Dasar wanita sinting. Tidak waras. Saya sebagai pria yang waras lebih baik mengalah terhadap wanita ular seperti kamu. Jangan kira saya bodoh.