
"Saya minta berhenti kamu bekerja sebagai penjual parfum!" tegas Setu.
Ya, malam ini. Kembali, perdebatan entah yang ke berapa puluh kali sudah terjadi dalam rumah tangganya dengan Salin.
"Kenapa harus berhenti, mas? Apa yang salah dengan pekerjaaan seperti itu?" Salin mencoba mencaritahu apa maksud suaminya itu.
"Kamu tanya salah? Jelas salah! Saya tidak suka kamu kerja begituan. Bikin malu!"
"Kenapa bikin malu, mas? Itu pekerjaan halal kok." Salin tetap berusaha membantah semua tuduhan tak berdasar suaminya itu.
"Kamu itu bisa dibilangin nggak sih? Bisa nurut nggak sih apa kata suami?" hardik Setu. "Menjawab aja terus kalau saya sudah bicara. Apa ini hasil didikan orang tuamu saat suami mu sedang bicara?"
"Ya iyalah, nak. Itulah ajaran orang tuanya. Udah nggak heran," sahut ibu Sirlina.
"Kasih aja dia pelajaran. Biar jera ia sekalian," celetuk ibu Sirlina.
Sebagai orang tua, tidak seharusnya ia ikut campur dalam masalah rumah tangga anaknya. Meski itu anak semata wayangnya, meski ia sayang pada anaknya. Taukah, bila sedikit saja ikut campur, maka rumah tangga sang anak cepat atau lambat, akan terpecah belah. Akan ada yang dibela dan akan ada yang disudutkan. Seperti yang terjadi sekarang ini.
Tentu Setu semakin berapi-api memarahi sang istri. Ia merasa mendapat dukungan. Ibarat seorang pesepak bola yang dielu-elukan oleh penonton. Ia merasa disambut, didorong penuh untuk berjuang lebih keras.
"Lagian kenapa kamu nggak kerja di perusahaan itu lagi? Bos kamu atau lebih tepatnya selingkuhan mu itu sudah membuang kamu? Nggak bisa dipake lagi kamu? Kasian, habis manis sepah dibuang "
Deg
Bagai ditusuk sembilan, sakit rasanya Salin mendengar tuduhan ibu mertuanya.
"Begitulah kalau hanya mengincar materi. Pasti akan dibuang kalau sudah bosan," celetuk ibu Sirlina lagi.
"Ibu tega sama saya. Saya tidak seperti yang ibu tuduhkan. Saya ini wanita bersuku Bu. Mana mungkin saya menerima cuma-cuma dari orang yang bukan suami saya. Itu hasil kerja keras saya, Bu."
"Halah, sok suci kamu. Perempuan munafik," umpat ibu Sirlina.
Rasanya sudah tidak kuat Salin di sedang oleh ibu dan anak ini. Rasanya ia ingin menyerah. Tak ada gunanya ia bertahan di rumah ini. Rumah yang bagai neraka baginya. Yang tak satupun menerima dirinya dalam rumah itu. Padahal rumah itu atas nama dia sendiri, tapi ia kalah dijajah, dikuasai oleh ibu mertua dan suaminya sendiri.
"Salah saya apa, Bu? Salah saya apa, mas?" ucap Salin. Kali ini amarahnya sepertinya sudah meluap. Dia hanya manusia biasa. Tak kuat rasanya mendengar caci maki dan ibu mertuanya dan suaminya yang hampir setiap hari.
"Saya bekerja, saya menghasilkan uang, tapi saya dikata selingkuh. Saya keluar dari perusahaan itu, tetap saya disalahkan. Dibilang buat malu karena saya sekarang penjual parfum. Mau kalian apa sih sebenarnya kepada saya?" Kini suara Salin sudah meninggi.
"Oh, sekarang kamu sudah berani meninggikan suara kamu sama saya? Iya?"
"Dasar menantu durhaka. Baru kerja di perusahaan itu saja sudah bangga. Baru dengan gaji segitu doang sudah bangga. Seberapa lah uang yang kamu kasih selama ini sama saya? Hah? Seberapa? Mintanya aja kadang harus bertengkar," sela ibu Sirlina
Saking marahnya ia, sampai ia menampar wajah Salin dengan tenaganya yang super super kuat.
"Benar. Seberapa lah semua yang sudah kamu perbuat? Saya juga nanti kalau gaji saya banyak, saya bisa mengganti semua uang yang sudah kamu kasih selama ini," sahut Setu. Ia membenarkan ucapan sang ibu.
Kedua insan itu bekerja sama menyerang Salin. Yang notabenenya adalah istri dari Setu dan juga menantu dari ibu Sirlina.
"Sampai kapan mas gaji kamu banyak? Sampai kapan? Sampai saat ini juga, setelah kamu menjabat sebagai CEO saya bahkan tidak pernah menerima sepeserpun uang dari kamu, mas. Apa ia gaji seorang CEO kecil? Apa sedikit saja tidak bisa saya terima? Saya istrimu, mas. Saya berhak tau gaji kamu. Saya yang berhak menerima gaji kamu."
Rasanya Salin sudah tak segan lagi menjawab setiap ucapan mertua dan suaminya itu.
"Saya tak pernah menuntut mas harus memberi semua gaji mas kepada saya. Tapi saya memang hingga detik ini tak pernah menerima sepeserpun dari gaji kamu yang sebagai CEO itu. Ingat mas, kalau nggak karena bantuan saya, kamu nggak bisa seperti sekarang ini. Perusahaan itu nggak akan berdiri tanpa kerja sama kita berdua, mas!"
Runtuh sudah. Meletus sudah. Gunung Merapi yang selama ini aktif tetapi hanya diam, kini meledak. Keluar semua isinya. Memanas memancar menyerang orang yang menggangu ketenangannya selama ini.
Seorang wanita yang selama ini diam, di pukul, di hina, di fitnah, di caci maki, tapi tidak bila sudah tak menghargai kerja kerasnya selama ini. Banyak yang sudah ia perbuat untuk keluarga kecilnya ini. Secara keseluruhan, ialah yang turut andil. Ialah yang bertanggung jawab. Tetapi dengan mudah mereka bilang tak seberapa? Hanya karena Salin berganti profesi dari kerja kantoran mengaji sales parfum, mereka langsung menyudutkan dirinya.
Semua pengorbanan, semua perbuatan baik selama ini, tertutupi hanya karena satu kekurangan. Hanya karena perkara menjual parfum, semuanya tidak ada apa-apanya?
Setu terdiam. Terpaku menatap istrinya yang meluap-luap. Baru kali ini ia melihat Salin dengan reaksi seperti itu. Belum pernah sekalipun ia meninggikan suaranya selama ini terhadapnya.
Seru juga mengakui dalam hati, bahwa sudah sekian lama memang ia tak memberi nafkah pada istrinya itu. Tetapi ia gengsi mengakuinya. Gengsi lebih baik dipertahankan dari pada hati istrinya.
"Ah, bodo amatlah. Terserah dia mau ngomong apa," batin Setu.
"Kenapa kamu diam saja mas? Dan kenapa ibu nggak bisa jawab? Mana ibu dan anak yang tadi semangat untuk menyudutkan saya? Mana?" hardik Salin. Tak segan-segan lagi ia meluapkan kemarahannya sekarang. Ia sudah pasrah.
"Sudahlah, Setu. Untuk apa kamu pertahankan istri seperti dia? Lebih baik kamu ceraikan dia saja," ucap ibu Sirlina.
Dengan entengnya ia menyuruh anaknya untuk bercerai. Sebagai orang tua, bukannya mendukung keluarga anaknya harmonis, ini malah memprovokasi agar bercerai. Ibu macam apa dia itu sebenarnya?
Deg
Terkejut Salin mendengar kata itu. Kata-kata yang tak pernah terlintas di benaknya selama ini. Kata-kata yang ia selalu hindari dalam rumah tangganya. Kata-kata ini jugalah yang selalu diingatkan mama saat ia baru saja menikah kala itu.
Sebagai pasangan, mulai dari pacaran dulu, Setu dan Salin pernah berjanji, bahwa tidak ada kata putus, tidak ada kata pisah atau cerai walau seberat apapun masalah yang menghadang.