
Dokter tersebut mulai mengeluarkan sebuah kertas berwarna putih dari dalam map berwarna hijau. Dua hari sudah sejak Salin melakukan pemeriksaan kala itu. Kini saatnya mereka untuk mengetahui bagaimana hasilnya.
"Hasilnya sudah keluar. Saya akan membacakannya untuk anda," ucap sang dokter memberitahu Salin dan Alister.
Keduanya menunggu dengan sabar. Salin, merasa gemetaran. Ia takut mendengar hasilnya. Sejujurnya ia ingin lari dari sana. Menghindari apa hasil dari pemeriksaan dia dua hari sebelumnya.
Sang dokter mengeluarkan kertas tersebut dari map, kemudian meletakkan map tersebut diatas meja. Bersiap untuk membaca isi laporan tersebut.
"Dari hasil laporan pemeriksaan yang kita lakukan kemarin, saya menyimpulkan bahwa nona Salin....."
Belum usai sang dokter dengan kalimatnya, tiba-tiba ponsel Alister bergetar. Sengaja ia tidak ke kantor hari ini demi bisa menemani Salin mengetahui laporannya. Ia juga sudah meminta ijin kepada pihak HRD, agar mengijinkan Salin untuk tidak masuk kantor.
Meskipun keluarga Alister adalah pemilik perusahaan tersebut, ia tetap pada kaidahnya. Menghargai para karyawannya dan meminta ijin seperti orang lain pada umumnya.
"Saya permisi sebentar, om angkat telepon," ucap Alister pamit kepada sang dokter.
Alister juga pamit kepada Salin untuk mengangkat telpon tersebut. Keduanya mengangguk memberikan jawaban. Kemudian, Alister meninggalkan keduanya.
"Lanjut, dok," pinta Salin pada dokter tersebut.
"Oh iya. Baiklah." Dokter Arta pun baru sadar, kali ternyata ia sedang ada pasien sekarang.
"Apa yang saya duga kemarin benar. Nona Salin menderita retinitis pigmentosa."
"Gejala awal penyakit ini umumnya penurunan kemampuan penglihatan pada malam hari (nyctalopia) atau pada tempat yang gelap dan remang."
"Apa benar seperti itu?" tanya dokter Arta kepada Salin.
Salin mengangguk perlahan. Ia baru tau bahwa apa yang ia alami dengan matanya seperti sebutan dokter tadi. Tidak ada dokter yang selama ini mengatakan bahwa ia mengalami retinitis pigmentosa.
"Apakah benar dia adalah dokter profesional? Apakah dia bisa menyembuhkan mata aku? Apakah ada harapan bagi aku untuk melihat dengan normal?"
Begitulah pertanyaan yang tersemat di dalam hati Salin. Sungguh penasaran ia. Sekaligus juga menyimpan asa bahwa ia pasti bisa sembuh.
"Retinitis pigmentosa, bisanya turun pada gen selanjutnya," ucap sang dokter.
Seketika Salin terdiam. Terkejut juga ia. Ia baru sadar bahwa apa yang ia derita akan berdampak pada keturunannya kelak.
"Dan kehilangan penglihatan pun semakin lama akan semakin menipis. Ada yang cepat ada pula yang lambat. Apakah nona merasakan seperti yang saya katakan?"
Deg
Jantung Salin berdebat begitu cepatnya. Lagi lagi ucapan dokter benar adanya. Teringat ia saat masih kecil. Saat dimana ia mulai sadar kalau matanya bermasalah. Hingga kini, memang penglihatannya semakin berkurang.
"Lalu dok, bisakah disembuhkan? Caranya bagaimana, dok? Berapa lama pengobatannya, dok?"
Tak mau ia jujur kepada sang dokter bahwa memang penglihatannya berkurang. Walau dalam tempo yang lambat.
"Maaf, nona. Sampai saat ini belum ada solusi untuk itu. Retinitis pigmentosa belum bisa disembuhkan untuk sekarang ini. Apalagi gejala yang ibu alami. Beberapa sel piramidal pada retina nona sudah rusak."
Sang dokter mengakhiri penjelasannya. Ia meletakkan kembali kertas putih itu ke atas map tadi. Belum ia masukkan ke dalam.
"Jadi, saat aku nanti punya anak, apakah anak aku akan mengalami seperti yang aku alami? Lebih ringan atau malah berat?"
"Jawab, dok!" Salin memaksa dokter Arta untuk menjawab pertanyaannya.
"Seperti yang saya jelaskan tadi, bahwa keturunan nona akan mengalami hal yang sama seperti nona alami kelak. Tapi saya tidak bisa memastikan apakah dalam kategori berat atau ringan," jawab sang dokter. Sesederhana mungkin ia menjelaskan agar pasiennya yang dilanda emosional itu mengerti.
****
Usai Alister berbicara di telepon dan memasukkan ponselnya ke dalam saku celana, ia segera masuk kembali ke dalam ruangan dokter Arta. Tapi, tak ia jumpai Salin ada di sana. Seisi ruangan telah ia tilik, namun Salin tak nampak jua.
"Salin kemana, om?"
Alister pun memutuskan untuk bertanya kepada dokter tersebut. ia sendiri yakin bila Salin kini ada di kamar mandi. Itu pasti, menurutnya.
"Nona Salin pergi," jawab sang dokter apa adanya.
"Lho? Pergi? Kemana, om?"
"Om nggak tau. Yang jelas setelah ia mendengar hasil pemeriksaan yang om bacakan dan jelaskan, ia langsung pergi. Bilangnya sih ke kamar mandi. Tapi nggak kembali sampai sekarang."
Alister tidak sadar bahwa ia terlalu lama tadi bicara lewat telepon. Entah dengan siapa hanya ia yang tau. Sengaja ia menjauh dari Salin maupun dari dokter Arta.
"Sudah lama, om?"
Dokter Arta mengangguk.
"Kira-kira lima belas menit yang lalu. Atau mungkin dia masih di kamar mandi? Coba kamu cari! Perempuan kan memang suka lama di kamar mandi. Mungkin dia lagi benerin make up-nya."
Alister tau. Salin bukanlah perempuan yang suka benarkan make up. Lebih suka natural. Bukan tipe yang lama-lama di kamar mandi demi memperbaiki riasan. Ada yang aneh menurut Alister.
"Memang apa sih hasilnya, om?"
Alister menduga, ini ada kaitannya dengan hasil tes tersebut. Maka ia pun memutuskan untuk bertanya. Jangan mengetahui bagaimana hasil yang sebenarnya. Jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, tadinya ia ingin mendengar barengan dengan Salin.
Alister juga tidak menyangka bila dokter Arta langsung menjelaskan isi hasil pemeriksaan tanpa dirinya.
"Tadi, nona Salin minta saya untuk langsung membacanya. Saya sudah coba untuk menunda, taku dia kukuh. Ingin mengetahui hasil yang sebenarnya dengan segera. Saya pun tak bisa menolak. Karena itu haknya. Dia salah pasien saya sekarang."
Tanpa menunggu lama, tanpa membuang waktu, segera Alister meninggalkan ruangan dokter Arta. Bahkan ia tak sempat untuk pamitan kepada penghuni ruangan itu. Berharap ia masih bisa mengejar Salin. Semoga saja ia belum jauh dari rumah sakit tersebut.
Hilir mudik perawat, dokter dan orang-orang di lantai satu rumah sakit itu. Ada yang mendorong kursi roda pasien, ada yang sedang mengantarkan sampai ke pintu karena hendak pulang, ada pula yang sibuk mondar-mandir bersama keluarga pasien.
Begitulah kondisi rumah sakit tersebut. Tetapi lebih ramai di pagi hingga siang hari. Kalau malam sepi.
Hingga kini Alister tiba di lobi rumah sakit. Sambil matanya tak berhenti menemukan sosok yang ia cari sedari tadi.
Dari lantai satu, ke lantai lima. Kemudian dari lantai lima ke lantai satu. Semua ruangan telah ia telusuri. Hingga sekarang ia berada di ruang CCTV. Segala cara akan ia lakukan demi ia tau kemana Salin pergi.
"Saya mau diperiksa pintu keluar, pak. Pasti ada informasinya di sana," pinta Alister pada penjaga di dalam ruangan CCTV tersebut.
"Baik, tuan."
Si penjaga langsung sigap melakukan apa yang dititahkan oleh Alister. Ia tau siapa Alister. Dan bagaimana eratnya ia dengan rumah sakit ini.