Please, Love Me Husband

Please, Love Me Husband
Chapter 41. Prove It



Flashback On


"Sekarang, kita beri kesempatan kepada kedua pasangan untuk mengucap janji suci sehidup semati."


Begitu seru pemandu acara dalam pernikahan sakral itu. Disambut oleh riuh orang-orang yang ada di dalam gedung itu. Tidak terlalu ramai memang karena dibatasi.


Pernikahan yang diadakan di negara T itu juga berlangsung sangat meriah. Akibatnya jauhnya lokasi pesta, di negara Thai membuat Salin dan Setu tak mengundang rekan kerja mereka. Hanya orang tertentu saja yang ikut.


"Saya, Setu Sandoro, menerima wanita yang ada di hadapan saya, baik sakit maupun sehat, baik senang maupun sedih, baik dalam keadaan terpuruk sekalipun, saya akan selalu menemaninya sampai selama-lamanya, bahkan sampai maut memisahkan. Tak ada satupun yang bisa memisahkan."


"Saya, Salina Xavier, menerima pria Yanga ada di hadapan saya, baik sakit maupun sehat, baik senang maupun sedih, baik dalam keadaan terpuruk sekalipun, saya akan selalu menemaninya sampai selama-lamanya, bahkan sampai maut memisahkan. Tak ada satupun yang bisa memisahkan."


Prok prok prok prok


Tepuk tangan riuh terdengar menguasai gedung itu. Gedung yang dibalut dengan begitu indah oleh dekorasi yang begitu simpel namun elegan.


Dengan kandungan pemandu acara, Setu menyematkan cincin di jari manis Salin, diikuti oleh Salin.


Prok prok prok


Kembali lagi tepuk tangan dari khalayak yang hadir menyambut iringan pengantin yang telah sah dihadapan Tuhan maupun manusia saat itu.


Tak ada yang bermuka murung, tak ada yang menangis karena sedih. Menangis haru ia, terutama kedua keluarga karena bahagia akhirnya anak-anak mereka sampai pada tahap membangun mahligai rumah tangga.


"Kita persilakan kepada pengantin untuk mengucapakan sepatah dua patah kata sambutan di hari bahagia ini!" seru pembawa acara.


Panjang kali lebar sambutan dari Setu maupun Salina. Yang intinya adalah mereka sangat senang dan bahagia. Meski hubungan yang mereka jalani masih berusia dua tahun, tapi mereka merasa sudah saling memiliki satu sama lain.


Sudah saling menerima kekurangan dan kelebihan masing-masing.


"Salina, istriku..."


Huuuuu


Mereka menyoraki Setu yang romantis kala itu, yang menebar senyum manisnya kepada kekasih halalnya itu.


"Iya, suami," balas Salin.


Semakin riuhlah sorak sorai para tamu undangan, tak terkecuali Stephania maupun Ardan. Sementara Sande Sandoro sebagai papa Salin dan Sefarina sebagai mamanya Salin hanya tersenyum dengan tingkah putri dan menantunya itu.


Sama halnya dengan ibu Sirlina selaku ibunya sebut sekaligus ibu mertua dari Salin yang sudah resmi hari ini.


"Saat perutmu mulai buncit, ku kan tetap setia," ujar Setu.


"Saat rambutmu putih, ku kan tetap sayang." Disambut oleh Salin.


Pasangan itu saling berbalas gombal, yang menguat kaula muda mudi senyum-senyum sampai gigi nyaris kering.


"Saat matamu mulai rabun, aku akan menjadi matamu."


"Saat kakimu mulai terantuk karena tak kuat menopang, aku akan jadi kakimu." Begitu sahutan dari Setu.


Begitu banyak gombalan - gombalan yang mereka lontarkan.


"Aaaah, meleleh adek, bang," ujar Stephania sambil menahan senyum. Entah sama siapa dia bicara seperti itu.


"Ngehalu," sela seorang pria yang ada di belakang.


Dia adalah Dennis, teman sekelasnya. Dimana ada Stephania, maka disitu ada Dennis. Mereka bagai surat dan perangko. Bagai baju dan celana. Bahkan semua seluk beluk Stephania, Dennis sudah tau. Begitupun sebaliknya.


"Biarin aja. Selagi ngehalu nggak dilarang mah gas terus," cibir Stephania.


****


Kini di kamar hotel bintang lima ini, usai melugaskan perjanjian pernikahan, perjanjian sehidup semati, kini saatnya mereka melakukan apa yang semestinya dilakukan oleh pengantin baru.


Kamar yang romantis, yang sudah dihias oleh bunga mawar yang bertaburan di lantai, serta kepingan mawar yang sudah disatukan hingga membentuk gambar love terpatri diatas kasur king size itu.


Tak lupa pula aroma vanilla yang menyeruak masuk ke rongga hidung, menambah kesan memabukkan jika berlama-lama berada di ruangan itu. Apalagi dengan dua insan yang jelas berbeda gender.


"Sakit, nggak?" tanya Salin dengan nada manja saat Setu sudah anteng di atas tubuhnya. Tentunya setelah mereka melakukan pemanasan dan peregangan agar tubuh mereka tidak merasa terkejut.


Salin menirukan pose dan gaya pemeran utama protagonis wanita dalam drama China yang sering ia tonton.


"Nggak akan tau kalau nggak dicoba," sahut Setu tersenyum.


Sedikit pun tak ada niatan di hatinya untuk membuat sakit gadisnya itu yang sebentar lagi mungkin tak akan gadis lagi. Akan naik menjadi satu tingkat.


"Eeee." Terlihat jelas Salin masih ragu-ragu.


Bertanya-tanya dalam hati dan menayangkan apakah senikmat yang ada di drama itu atau sebaliknya. Atau apakah hanya ingin membuat penonton semakin berhalu ria, traveling kemana otak membawanya pergi.


"Tenang. Aku akan pelan dan hati-hati. Percayalah, sayang aku tak kan menyakitimu," ucapnya dengan senyum yang tulus.


"Prove it," sahut Salin. Ia menolehkan kepalanya ke samping.


"Kenapa wajahnya berpaling," tanya Setu. Ia tau gadis yang baru saja dinikahinya itu sedang malu sekarang. Ia tau gadis itu sedang menyembunyikan wajah nya yang merah merona.


Setu pun membenarkan posisi wajah Salin hingga menghadapnya kembali.


"I love you," bisiknya di telinga gadis itu.


"I love you too," ucap Salin tanpa suara. Namun bibirnya sangat jelas mengatakan itu.


Mendapat sinyal baik dari Salin, tak membuat Setu membuang waktu. Ia langsung melakukan tugasnya, perannya di atas tubuh Salin.


Sementara Salin, pasrah sempurna dengan segala sentuhan, goyangan yang disuguhkan Setu untuknya. Menerima dengan tulus dan ikhlas. Bahkan tak jarang keluar dari bibir tipisnya erangan, *******, lenguhan dan racauan atas nikmatnya perpaduan itu.


Meracau menggumamkan nama Setu di setiap rintihan kenikmatan itu.


"Jangan ditahan, sayang. Lepas saja. Ayo, sayang sebut namaku lagi. Bilang i love you," bisik Setu di telinga dengan nafas tersengal.


Setu tau bahwa istrinya itu merasa kesakitan. Oleh karena itu ia mengalihkan rasa sakit itu dengan menyatukan benda kenyal dan basah yang ia punya ke bibir Salin, agar ia merasa rileks. Dan lupa rasa sakit akibat perbuatan Setu.


Mereka berdua tak tau, bahwa di luar sana sedang ada yang menguping. Siapa lagi kalau bukan asisten sableng Setu dan kawan-kawan.


"Gila, aku jadi traveling," ucap salah seorang dari mereka.


"Makanya, buruan cari pacar!" celetuk seorang lagi yang sedang merangkul pasangan wanitanya sambil memasukkan tangannya ke dalam baju wanita itu.


"Gila! Kayak kamu nggak aja. Dasar nggak ada akhlak kalian berdua. Lihat tempat woy," gerutunya.


"Susukamilah!"


"Apaan tuh?"


"Suka suka Kamilah be*go," seru pria itu. Tangannya masih bersemayam dalam baju wanita itu.


"Ah, mending pergi saja. Lama-lama di sini bikin aku ho*rny aja," celetuknya sambil berlalu pergi.


Flashback end