Please, Love Me Husband

Please, Love Me Husband
Chapter 78. Keras Kepala



Kini di kamar bernuansa pink itu, gadis itu tertidur memeluk foto seroang lelaki yang belum sah menjadi kekasihnya. Tetapi sudah menempati dasar hatinya hingga sekarang.


Kepergian Ardan, lelaki yang sangat ia cintai, yang baru seminggu di kebumikan, menyimpan bekas yang tak bisa dianggap remeh.


Bukankah sakit, disaat kita mencintai seseorang tetapi orang itu sudah berpisah alam dengan kita?


Maka itu pulalah, yang dirasakan Agnesrani Anantha Pradina sekarang. Terpuruk ia terpukul ia, ditinggalkan orang yang ia sayang.


Menyesal ia pula, karena tidak sedari awal ia jujur akan perasaannya. Selama ini ia berkeras pada hatinya, mengutamakan gengsi dari pada perasaan.


Tetapi apa jadinya bila ia ungkap cinta itu, apakah mungkin Ardan tidak mengalami kecelakaan naas itu? Apakah mungkin Ardan tidak akan meninggalkan dirinya?


Sebagai manusia biasa, tak ada yang tau hari esok apa yang akan terjadi. Baik nyawa, pekerjaan, rezeki, sudah ada yang mengatur.


Tok tok tok


tok tok tok


Ketukan berulang kali yang berasal dari luar kamarnya, tak menjadi penghalang untuk ia tetap bergelut dengan bantal guling nya.


Sementara orang yang mengetuk di luar, tak sabar. Selalu mengetuk dan mengetuk, berharap si penghuni kamar berbaik hati membukakan ia pintu.


"Nantha... buka pintunya, sayang," ucap oma dengan lembut.


"Oma bawakan makanan nih buat kamu. Ini makanan kesukaan kamu lho. Ayam goreng bumbu Kalimantan. Ayo, sayang."


Meski dibujuk seperti itu, tetap saja pintu tak kunjung terbuka.


"Udahlah oma, biarkan saja Nantha dengan kesendiriannya. Nanti juga baik sendiri dia," celetuk opa, menghampiri istrinya itu.


"Apa kamu bilang? Sudah? Gampang banget ngomong begitu?" omel oma.


"Dasar laki-laki nggak peka. Semua laki-laki yang ada di rumah ini, nggak ada pekanya seorang pun," lanjut oma mengomel.


"Lha, kok Aaron juga terbawa-bawa, ma?" timpal tuan Aaron protes. Ia tak terima dikatain sama seperti papanya.


"Ya emang benar. Anak lagi sedih bukannya dihibur, malah disuruh biarkan. Opa macam apa itu?"


"Tapi kan, ma kita udah berusaha ngehibur Nantha, tapi dianya sudah banget buat dihibur ma," timpal tuan Aaron. Terlihat jelas ia mendukung papanya.


"Ini baru anak papa," ucap opa tersenyum sumringah. Merasa dibela oleh anaknya sendiri di depan istrinya.


"Like father like son," ujar oma.


"Papa macam apa itu, nggak kenal anaknya sendiri."


"Ya kan mama tau sendiri aku...."


"Ya, mama tau. Kamu adalah duda anak satu, yang selalu kerja, kerja dan kerjaaaaaa terus sehingga tidak punya waktu untuk putrinya."


"Mama yang selalu tempat bercerita bagi Nantha. Bahkan kamu ingat, saat Nantha kecil ia memanggil kamu apa? Om kan?"


"Papa dan mama ia anggap sebagai orang kandungnya. Sedang kan kamu, omnya."


Tuan Aaron terdiam. Apa kata sang mama benar. Selama ini ia selalu kerja, kerja dan kerja terus. Sibuk meniti karir usai ditinggal oleh istrinya tercinta.


Ada rasa penyesalan dalam hatinya karena ia belum bisa menjadi ayah dan ibu yang berguna untuk Nantha sampai sekarang.


"Aaron, sudah waktunya kamu memberikan waktumu untuk Nantha, putri semata wayang kamu. Mama tau, jauh di dasar hati Nantha ia merindukan sosok cinta pertamanya. Yang bisa ia jadikan sebagai teman cerita. Contoh hal kecil seperti sekarang ini."


"Dekati ia. Ambil hatinya. Maka ia pun akan membuka hati padamu, jujur padamu dan lebih terbuka akan masalahnya. Bukan hanya sebatas memeluk guling, melampiaskan semuanya ada kamar dan guling yang tak tau apa-apa. Sudah saatnya kamu lebih dekat dengannya "


"Perusahaan kan sudah aman sekarang. Sudah ada Alister yang menjadi CEO di sana. Kamu hanya memantau saja. Hanya sesekali dibutuhkan jika memang ada problema." Begitu oma mengakhiri nasihatnya yang kalau dihitung entah sudah berapa SKS.


Si opa hanya manggut-manggut saja, menyetujui nasihat istrinya itu.


"Yah, nggak dikunci ternyata. Udah capek aku gedor-gedor dari tadi," omel oma. Ia pun akhirnya berjalan membawa langkahnya memasuki kamar cucu perempuan nya itu.


****


Sementara di tempat lain, tepatnya di rumah sakit. Dimana sekarang papa Sande di rawat. Selang infus terpasang di tangannya, terlihat tiang infus menggantung di sisi brangkar. Selang oksigen juga turut membantu pernafasan papa Sande sekarang.


"Maafin aku ya, pa," lirih mama Sefarina. Menyesal ia karena sudah meninggalkan suaminya sendirian di rumah besar itu. Hanya pelayan hang menemani ia selama ini.


Tak disangka, kekerasan hati suaminya itu tak juga berubah meski ia sudah meninggalkannya, memilih tinggal bersama kedua putrinya.


Karena kelelahan, mama Sefarina pun tertidur di sisi brangkar papa Sande. Kepalanya tertunduk di tepi ranjang itu. Terduduk ia disana.


Ceklek


Seseorang membuka pintu dari luar.


"Ma, Lin bawa makanan nih untuk mama. Mama makan ya," ucap wanita itu seraya berjalan masuk ke dalam ruangan papa Sande. Ia belum sadar kalau mama Sefarina tertidur.


"Ma-"


Belum sempat ia dengan kata-katanya, netranya menangkap sosok mama Sefarina yang tertidur dengan posisi duduk di sisi brangkar sang papa.


"Pasti mama kecapean," lirihnya nyaris gak bersuara. Ia takut membangunkan mama dan papanya.


Ia masukkan kembali makanan yang sempat ia keluar kan tadi dari dalam boxnya agar tetap terjaga kehangatannya. Dan ia akan memberikannya nanti saat mama Sefarina terbangun.


Dengan berjalan pelan, ia meraih selimut yang ia bawa dari rumah. Kemudian ia selimutkan pada mama Sefarina.


Dinginnya AC dan ruangan itu menusuk hingga me tulang. Oleh karena itu Salin menyelimuti mama Sefarina.


Lalu apa kabar dengan Stephania? Kemana ia? Kenapa tak ada dia diantara Salin dan mama Sefarina? Bukankah seharusnya dia ada di sana?


Apakah dia tak ada niat sedikit pun untuk melihat papanya yang sedang terbaring sekarang? Apa ja puas melihat papanya di rawat di rumah sakit?


Secara mereka selalu berselisih paham, beda pendapat sehingga membuat mereka sering berdebat. Mempunyai watak yang sama-sama keras.


Salahkah ia bila ia tersenyum melihat papanya masuk rumah sakit? Apakah dengan masuknya papa Sande ke rumah sakit akan membuat lelaki paruh baya itu berubah?


Entahlah, tak ada yang tau. Mari kita nikmati saja alurnya, berdamai dengan keadaan.


"Kenapa? Salah lagi aku?" sergah gadis itu pada sahabatnya, Dennis.


"Nan, biar bagaimanapun beliau adalah ayah kandung kamu. Mana ada seorang ayah yang ingin menjerumuskan anaknya ke dalam kehancuran?" ucap Dennis tenang dan sabar.


Meski Dennis dan Nantha usianya hampir sama, tapi kedewasaan, Dennis patut diacungi jempol. Sering ia menasihati sahabatnya itu. Dan Nantha pun memang sering curhat ke Dennis.


"Sama aja kau kayak papa," tukasnya sebal. Ia kesal pada sahabatnya itu. Ia merasa tak didukung sedikit pun oleh Dennis.


"Nan.. "


"Udahlah. Aku nggak mau bahas itu lagi. Aku besok mau pergi ke luar negri. Aku lolos tes dan besok jadwal keberangkatan ku. Semuanya sudah diurus."


"Kamu yakin akan pergi dengan keadaan yang seperti ini?"


"Kamu yakin nggak memikirkan perasaan Tante Sefarina?"


"Kamu yakin nggak rindu sama papa kamu? Nggak pengen tau kabarnya?"


Stephania diam. Ia tersentil dengan ucapan panjang lebar Dennis.


"Jangan sampai nanti kamu nyesel," pungkas Dennis. Ia meninggalkan sahabat keras kepalanya itu.