
Setu pun menggendong tubuh Salin yang gak sadarkan diri ala bridal style. Dengan pasti, ia membawa langkahnya ke ranjang yang ada dalam ruangan itu.
Ranjang yang sudah dihias seromantis mungkin. Dan ternyata, pingsannya Salin adalah Setu dan Rebecca di balik semua itu.
Mereka menginstruksikan petugas club untuk mencampur obat tidur dalam minuman tadi. Tak lupa Rebecca memberi ancaman kepada mereka apabila mereka tak mau melakukannya. Dan memberikan tips yang sangat besar pabila mau melakukan.
Tentu mereka memilih pemasukan yang amat besar itu.
Rebecca dan Setu sudah menyusun rencana untuk menjebak Salin dan Alister. Dimana Salin akan kencan dengan Setu dan juga Alister akan kencan dengan Rebecca.
****
Sementara di tempat lain, tak jauh dari hotel tempat Alister dan Salin menginap. Di sebuah taman bunga yang sangat asri. Sangat romantis bagi sepasang kekasih.
Rebecca telah melingkar kan tangannya di tubuh Alister. Ia memeluk Alister dari belakang. Menikmati harum tubuh lelaki itu dan menempelkan tubuhnya di punggung Alister.
Tak lupa tangannya masuk ke dalam kemeja Alister, setelah ia membuka dua kancing tadi.
Dengan lihai, lambat berirama, jari-jari lembut Rebecca menari di tubuh Alister. Bermain dengan roti sobek yang ada disana. Ia gelitiki, ia usap-usap dengan lembut.
Jangan lupakan suara ******* manjanya. Meracaukan rasa rindu dan penyesalannya karena telah meninggalkan lelaki sesempurna Alister.
Bahkan ia menangis, penyesalan seumur hidup yang tak bisa ia lupakan.
Alister masih belum bereaksi. Bukannya berhasrat, malah ia jijik dengan tingkah Rebecca. Kesal, marah, benci bercampur menjadi satu. Entah kenapa ia harus bertemu lagi dengan wanita seperti Rebecca. Orang yang sudah berhasil ia lupakan. Orang yang sudah berhasil mengobrak-abrik hidupnya. Membuatnya hancur sehancur-hancurnya.
"Aku mohon, sayang. Kembalilah padaku. Aku menyesal. Mari kita mulai lagi dari awal," ucap wanita itu memohon dengan sangat.
Muak sudah Alister dengan tingkah wanita yang tak tau malu itu. Dengan mudah ia menghilang dengan mudah pula ia minta kembali.
Apakah masih ada ruang di hati Alister untuk wanita yang bernama Rebecca itu? Entahlah, hanya dia yang tau. Akan terlihat dari jawaban yang akan Alister lontarkan.
Dengan kasar, Alister melepas tangan Rebecca yang melingkar di tubuhnya. Ia sudah sangat muak bermain-main dengan wanita itu. Sekuat tenaga ia tepis tangan itu. Sampai memerah pergelangan tangan Rebecca karena cengkraman Alister.
"Kalau kamu meninggalkan aku, maka bersiaplah kehilangan wanita itu."
"Kamu mengancam saya?" hardik Alister.
Rebecca malah santai sembari mengangkat kedua bahunya. Entah jawaban apa yang ia berikan. Yang jelas Alister mengenal siapa Rebecca. Akan melakukan segala cara demi mendapatkan apa yang ia inginkan.
Seketika Alister teringat pada Salin yang ia tinggalkan sendirian di hotel. Memang mereka di kamar yang berbeda, tapi bersebelahan. Hanya dua yang tau itu. Salin tidak.
"Sial," umpat Alister. Segera ia meninggalkan Rebecca. Tak peduli ia dengan panggilan yang dilontarkan Rebecca untuknya.
Mendengar kalimat yang diucapkan Rebecca barusan, ia semakin yakin ada sesuatu yang tidak beres.
****
"Salin! Salin!"
Alister memanggil-manggil nama Salin di depan pintu kamar. Tetapi yang dipanggil tak ada respon sama sekali.
Alister bergegas mencari bantuan. Tak ia sia-siakan asistennya yang ikut serta dalam pertemuan itu. Hingga mengecek CCTV hotel mereka lakukan.
"Sial, aku kalah cepat."
Lagi lagi Alister hanya bisa mengumpat. Ia kecolongan. Tak ada sedikitpun di benaknya terlintas bahwa Rebecca akan bertindak senekat ini. Lebih tepatnya, ia tidak menyangka Rebecca bertindak terlalu cepat.
Saat ini, Alister dan sang asisten berada di dalam mobil. Mereka menuju lokasi Salin berada. Tidak jauh memang dari hotel tempat Alister menginap. Tetapi dengan kendaraan roda empat itu, Alister berharap ia tidak terlambat.
Sesampainya di lokasi yang mereka duga, mereka pun mulai mencari dimana sosok Salin. Nama Salin selalu ia sorakkan, berharap Salin bisa mendengar panggilan itu.
Tak sampai di situ saja, Alister bahkan melibatkan semua orang yang ada di club agar mau buka mulut tentang Salin. Ia bahkan rela membayar mereka semua tiga kali lipat agar turut membantu menemukan Salin.
Sementara di dalam ruangan itu,
"Katakan kalau kamu tidak mencintai aku, Lin. Katakan dengan lantang dan keras supaya aku bisa melepas mu. Aku nggak akan mengganggu kamu lagi setelah kamu jujur bahwa kamu sudah tak cinta aku lagi." Setu masih memohon.
Dalam hati ia sangat yakin sekali bahwa Salin belum bisa move on darinya. Karena Setu adalah cinta pertama dan pacar pertama buat Salin. Setu yakin, yang namanya cinta pertama itu sulit untuk dilupakan.
"Memang saya tidak memiliki perasaan apapun terhadap anda."
"Sejak kapan?"
"Sejak anda...."
Belum usai Salin menyelesaikan kata-katanya, ia sudah lemas. Bahkan nyaris jatuh. Untung saja Setu menahan tubuhnya. Hingga tak jadi Salin jatuh ke lantai dingin itu.
"Selamat datang sayang. Akhirnya aku ada waktu berdua denganmu," ucap Setu. Ia tersenyum puas. sudah berhasil ia dengan rencananya.
"Selama ini, lelaki brengsek itu selalu nempel denganmu. Aku yakin dia bukan lelaki yang baik. Pasti dia mengambil keuntungan dari mu," gumam Setu. Ia menatap leher jenjang Salin yang saat ini ada dalam kungkungannya.
Setu pun mengangkat tubuh Salin, menggendongnya apa bridal style, lalu membawanya menuju ke ranjang yang entah sejak kapan ada di sana.
Ranjang itu sudah di hias dengan sangat indah, wangi. Bunga mawar merah sudah tersusun rapi di atasnya.
Brak
Belum sampai Setu mendaratkan tubuh Salin diatas ranjang, seseorang sudah mendobrak pintu dengan kasar. Hingga pintu itu pun terbuka lebar. Sontak Setu menoleh, menatap bringas orang yang sudah berhasil mengusik kesenangannya.
"Lepaskan wanita itu!" titah Alister dengan suara menggelegar.
Hmm
Setu tersenyum tipis. Semakin bertambah rasa bencinya terhadap lelaki itu. Lelaki yang berniat merebut Salin darinya.
"Siapa anda? Anda tak ada hak," sergah Setu.
"Bukankah ucapan itu lebih tepat kepada anda? Anda kan yang bukan siapa-siapanya?"
"Saya mantan..."
"Hanya mantan, kan? Bukan suami?"
"Seseorang yang sudah bercerai dari pasangannya, maka ia sudah kehilangan hak atas orang itu. Jadi, sebelum saya bertindak jauh lepaskan dia!"
"Anda bukan bos saya yang harus saya turuti. Seharusnya anda yang tak perlu ikut campur!" cerca Setu.
"Reno!" pekik Alister.
"Ya tuan?"
"Kamu tau apa tugasmu?"
"Baik, tuan."
Reno yang mahir beladiri, langsung menghampiri Setu. Menangkap Setu hingga tidak bisa bergerak. Sehingga dengan leluasa Alister menggapai Salin. Melepaskan Salin dari cengkraman mantan suaminya itu.
Tak lupa, Alister layangkan tinjunya pada wajah Setu dengan tangannya sendiri setelah ia mendudukkan Salin sejenak. Ia sangat geram dengan tingkah Setu.
"Bereskan semua!" titah Alister kepada Reno sang asisten.
Lalu, Alister pun menggendong Salin, meninggalkan ruangan itu.