
"Apa? Cerai?" batin Salin.
Salin begitu shock dengan ucapan enteng dari ibu mertuanya. Segampang itu ia mengatakan cerai kepada anaknya sendiri. Semudah itu ia menginginkan perceraian terhadap anaknya sendiri.
Sementara Setu, ia mematung. Shock juga dengan ungkapan ibunya itu. Walau bagaimanapun ia memperlakukan Salin selama ini, tak pernah terbesit kata cerai dalam hatinya.
Lalu sekarang, tiba-tiba ibunya berkata cerai, membuatnya bimbang dan ragu. Apa benar dengan bercerai semua akan beres? Aap benar perceraian membuat ia bahagia? Kini hatinya diliputi dilema yang sangat besar.
Satu sisi, Setu dulu pernah berjanji kepada papa Salin, bahwa ia tidak akan menceraikan Salin apapun yang terjadi. Seberat apapun perkara yang mereka hadapi. Kata itu tak akan pernah terlontar dari mulutnya. Sekarang memang bukan Setu yang berkata cerai. Tetapi ibunya sendiri.
Antara batin Setu dan Salin saling berkecamuk sekarang. Salin juga takut kalau kata itu akan benar terucap. Ia tak mau melukai mamanya. Ia tak mau mamanya sampai tau permasalahan dalam rumah tangganya.
Tak ingin berlama-lama di tempat itu, Salin segera melangkah kan kakinya meninggalkan Setu dan ibu mertuanya. Rasanya percuma berdebat untuk sekarang. Tak akan ada yang bisa diajak diskusi.
Salin menutup pintu kamarnya dengan rapat lalu menguncinya dari dalam.
"Nggak. Aku belum siap untuk bercerai. Gimana aku menjawab sama mama kalau aku bercerai? Lalu bagaimana dengan nasibku nanti, apa kata orang? Baru menikah selama dua tahun tapi sudah cerai. Aku nggak siap," batin Salin. Hatinya sungguh berkecamuk sekarang.
Masih terngiang jelas di telinganya ungkapan ibu mertuanya itu, yang meminta suaminya yang tak lain adalah anaknya sendiri bercerai dengan istrinya.
"Bodoh kamu Salin, kalau kamu nggak bercerai yang ada nanti badanmu habis. Dipukul terus oleh suamimu sendiri. Hatimu dilukai oleh suami mu. Apa kamu sanggup sampai tau begini?" Begitu kata batin Salin yang jahat.
"Jangan, Salin. Kamu nggak boleh bercerai dengan suami kamu. Kamu mau lihat mama kamu menderita? Kalau mama kamu tau, terus jantungnya kumat gimana?" ucap batinnya yang baik.
"Eh Salin, kamu jangan dengerin dia. Pikirin kebahagiaan kamu sendiri. Kamu mau disiksa sampai kapan? Sampai tua? Jangan naif kamu Salin," ucap batin jahatnya lagi.
"Sssst. Berhenti kamu ajarin dia. Kamu jangan pengaruhi dia. Dasar jahat!" sergah batinnya yang baik.
"Eh, kau juga sama. Ngapain kamu komporin dia. Lihat tuh, dia jadi bimbang kan? Lihat tuh wajahnya, jadi semakin galau dia. Gimana sih," sela batinnya yang jahat. Antara batin Salin yang baik dan yang jahat malah berdebat.
"Hah, diam!" pekik Salin pada kedua batinnya. Kedua batinnya itupun terkejut. Mereka berdua terdiam.
"Kalian berdua bisa diam kan? Malah berantem. Pergi sana!" ujar Salin, mengusir kedua batinnya itu.
Dengan cepat, kedua batin itu pun menghilang. Tentunya setelah keduanya saling melotot satu sama lain.
Beda halnya sekarang dengan Setu. Ia masih betah dekat dengan ibunya itu.
"Ibu jangan bahas masalah itu. Boleh kan?"
"Kenapa? Nggak boleh? Kenapa ibu nggak boleh bahas cerai?"
"Ibu gimana sih? Malah diperjelas," gerutu Setu.
"Kamu ini kenapa sih? Sensitif banget. Kalau perempuan lagi datang bulan aja," celetuk sang ibu.
"Lagian, mau dapat apa lagi kamu dari istri kamu itu, dia udah nggak kerja kok. Nggak bisa lagi diporotin. Yang ada nanti malah nyusahin," timpal ibu Sirlina lagi.
"Bukan masalah itu, bu. Aku nggak enak sama papanya Salin kalau aku ceraikan dia. Ibu tau kan gimana dulu kami saat menikah?" ucap Setu.
"Kalau aku ceraikan dia, kita nanti nggak ada mainan yang seru dong, Bu. Nggak ada yang masakin kita, nggak ada yang urus rumah. Ibu tau kan kalau masakan Salin itu yang terenak. Bahkan pembantu sekali pun nggak ada yang nginbangi masakannya."
Lagi lagi, ibu Sirlina kicep. Ia menganggukkan kepalanya pelan setuju dengan ucapan Setu barusan.
"Lagian ya, Bu kalau kita cerai kita mau tinggal dimana? Di jalanan?"
"Setu benar. Kalau mereka cerai nanti kami mau tinggal dimana? Nggak mungkin lah aku kembali ke kampung kumuh itu. Iww, sorry," batin ibu Sirlina.
"Semua isi rumah ini kan atas nama Salin, Bu. Jadi kalau aku ceraikan dia, kita rugi Bu. Kita nggak akan dapat apa-apa," tambah Setu.
"Kan ada kamu. Memangnya kemana gaji kamu selama ini? Kita bisa merintis dari nol kan dengan gaji kamu yang sebagai CEO itu?"
"Ya nggak bisa dong, Bu."
"Kenapa nggak bisa?" Ibu Sirlina mengerutkan keningnya. Sejauh ini ia tak tau memang kemana semua uang anaknya itu. Ia bukan manusia yang polos yang tak tau berapa bayarannya selaku seorang CEO walau perusahaannya tidak besar.
"Nanti Weni gimana, Bu?"
"Ooh, jadi selama ini gaji kamu Weni yang menikmati? Kamu lebih menyayangi Weni dari pada ibumu begitu?"
"Ibu jangan ngomong gitu dong. Ibu mau kan punya cucu?"
Mendengar kata cucu, berkedip-kedip sudah mata sang ibu. Cucu, adalah yang ia nantikan dari anaknya hingga detik ini.
"Maulah. Kenapa emangnya? Weni hamil? Hamil anak kamu? Udah berapa bulan?" tanyanya antusias.
"Weni sih nggak hamil, Bu. Tapi kita sedang usaha. Semoga saja Weni segera hamil. Bukan seperti Salin yang mandul itu," sela Setu.
"Makanya itu, Bu. Aku menuruti semua keinginan Weni agar ia senang. Agar ia bahagia. Dan dia mau terus melayani aku, hingga nantinya ia hamil anak aku. Cucu ibu juga," tambah Setu.
"Kalau gitu ceraikan saja Salin. Biar kamu fokus menjaga Weni. Nikahi saja dia!" Dengan entengnya ibu Sirlina berkata seperti itu.
"Ada rencana sih, Bu. Tapi nanti. Apabila ia ketahuan hamil, maka aku akan nikahi dia. Tapi kalau nggak juga ya percuma dong, Bu. Masa ninggalin mandul dan nikahin mandul juga. Kan ibu jadi nggak punya cucu."
"Betul juga ya," ucap ibu Sirlina membenarkan.
"Jadi kalau Weni nggak hamil hamil, kamu akan cari yang lain?" celetuk ibu Sirlina. Ia menatap tajam sang putra semata wayangnya.
"Nah, itu baru ibuku. Yang pintar dan cerdik," puji Setu.
Entahlah. Entah apa maunya ibu dan anak itu. Segitu teganya mereka memperlakukan manusia sebagai barang terutama Salin. Ternyata selama ini, Salin hanya dimanfaatkan oleh mereka. Hanya sebagai figuran istri yang berperan sebagai pembantu dan juga sebagai budak.
Apa sih yang merasuki pikiran ibu Sirlina dan Setu itu? Entahlah, hanya mereka berdua yang tau apa tujuannya. Entah apa pula yang melatar belakangi mereka hingga bertindak sampai sejauh ini.
Rela meninggalkan Salin si berlian, demi seorang Weni yang sampai saat ini Setu tak tau gimana orangnya. Akan seperti apa bila sampai Setu tau belangnya Weni. Hanya waktu yang bisa menjawabnya. Cepat atau lambat, semua akan terungkap.