
Sebelum bertemu Alister. ..
Byurrr
"Hei! Bangun!"
"Enak tidurnya? Iya?"
"Dasar pemalas!
"Bangun nggak?"
Suara itu menggelegar memekakkan telinga bagi siapa saja yang mendengarnya. Termasuk Salin yang saat ini tidur meringkuk di atas tempat tidur lusuh yang entah dari mana Setu ataupun ibu mertuanya itu menemukan.
Salin mendengar pekikan kemarahan suara itu, tapi ia abai. Ia berpura-pura kalau ia masih pingsan. Jujur, ia kedinginan merasakan guyuran air dari ibu mertuanya itu. Bahkan ia merasa sakit saat kaki ibu Sirlina menyenggol pinggangnya, menyuruhnya untuk bangun.
Apakah layak seorang ibu membangunkan menantunya dengan cara seperti itu? Kan bisa dengan tangan menggoyang bahu atau apalah yang bisa membangunkan menantunya itu. Tapi ini? Dengan kaki. Astaga. Terbuat dari apa hati ibu ini.
Sedari subuh tadi Salin sudah bangun. Bahkan bisa dihitung berapa jam ia tidur. Rasa sakit di tubuhnya akibat penyiksaan Setu membuat ia tak leluasa memejamkan mata untuk sekedar menabung tenaga agar esok dapat berdiri tegak.
Sedikit sedikit terbangun. Meringis menahan sakit, perih yang ia derita dari luka, lebam yang diterimanya akibat kekasaran Setu.
Dalam tidurnya yang singkat itu, ia sempat berkelana ke alam mimpi, mengenang kembali proses pernikahannya dengan Setu. Dan juga malam pertamanya kala itu. Dalam mimpi itu ia tersenyum bahagia.
Tak puas dengan sekali mengguyur saja, ibu Sirlina meneriakkan Setu untuk mengambil air yang lebih banyak lagi untuk menyiram tubuh menantunya yang saat ini meringkuk tak bergerak sedikit pun itu.
Tap tap tap tap
Dengan berjalan cepat karena tentengan air yang berat Setu menghampiri ibunya.
"Ini," Bu," katanya. Baru segitu saja ia mengangkat air nafasnya sudah ngos-ngosan.
Sebegitu semangatnya ia mengangkat air itu demi bisa melampiaskan amarahnya. Amarah karena melihat Salin berduaan dengan pria lain di luar sana. Sementara dia? Bukan hanya jalan atau duduki berdua dengan wanita lain, bahkan ia telah tidur bersama, berbagi peluh dengan wanita itu. Dan Salin melihat semua itu. Tapi Salin bisa apa?
Tak kan mungkin Salin mampu menyiksa Setu seperti yang Setu lakukan padanya. Selain dari segi tenaga ia tak mampu, Salin juga bukan wanita yang bisa membalaskannya dengan mudah. Bukan pendendam pula. Lebih ke berdoa kepada yang Kuasa agar memberi ilham untuknya bertobat dan Salin kuat.
Byurrr
"Rasakan ini pemalas!" seru ibu Sirlina dengan menyiramkan air itu semua ke tubuh Salin. Tak peduli ia air itu masuk ke telinga atau tidak.
Masih seperti yang tadi, dengan gerakan kakinya ibu Sirlina membangunkan Salin. Tetapi tak ada reaksi sedikitpun. Tak ada gerakan sedikit pun.
"Bu, kenapa dia tak bergerak?" tanya Setu. Ia mulai was was.
"Orang lagi tidur gimana mau bergerak. Kamu gimana sih, nak?" sela ibu Sirlina.
Tak percaya dengan ucapan ibunya, Setu mencoba duduk, menyentuh tubuh Salin dengan tangannya.
"Dingin, Bu,' katanya. "Badannya dingin," tambahnya lagi.
"Ah, masa? Ini kan bukan air es, kenapa harus dingin?" elak ibu Sirlina. "Kamu kali salah persepsi," imbuhnya lagi.
"Coba deh ibu rasakan," celetuk Setu. Meraih tangan ibunya, mengisyaratkan agar ia berjongkok seperti dirinya agar mudah menjangkau tubuh Salin.
"O ya dingin."
""Coba kamu rasakan hidungnya bernafas nggak?" titahnya kemudian.
"Ibu ajalah. Nanti aku diterkam sama dia."
"Mana mungkin. Salin itu wanita lemah. Mana mungkin dia membalas kejahatan kamu selama ini. Ayo cek dulu, nanti dia udah mati malah kita yajg disalahkan," celetuk ibu Sirlina.
Setuju dengan usul sang ibu, Setu pun mengarahkan jari telunjuknya ke lobang hidung Salin.
"Ah, masa? Nggak mungkin. Jangan ngaco kamu."
"Coba saja kalau tidak percaya," tantang Setu.
Dengan gerakan seperti yang dilakukan Setu, ibu Sirlina pun mengecek di bawah lubang hidung Salin. Ia pun melonjak kaget.
"Iya! Gi-gimana ini?" pekiknya panik. Wajahnya sudah ketakutan. "Apa dia mati?"
"Entahlah, Bu," sahut Setu. Ia pun mulai merasa gusar. Banyak yang ia pikirkan dalam benaknya jika seandainya Salin mati.
"Coba kamu cek!"
Lagi-lagi ibu Sirlina hanya bisa menitahkan kepada anaknya. Dia tak ingin mengeceknya sendiri.
Terpaksa Setu pun mengeceknya kembali. Membalikkan tubuh Salin dari samping. Sehingga kini Salin terlentang. Tetapi kakinya menekuk keatas. Sebagimana posisinya saat meringkuk tadi. Tubuhnya kaku, bak mayat.
Ibu Sirlina dan Setu merinding melihat itu. Bergidik ngeri dengan tubuh Salin yang dingin, kaku bahkan tak bernafas.
"Gimana ini Bu?" tanya Setu dengan mulut bergetar.
"Salin gak bernafas, Bu. Dia meninggal!"
"Ibu juga nggak tau," jawabnya dengan tubuh yang mulai bergetar pula karena takut.
"Ibu nggak mau tanggung jawab. Ibu nggak kau dipenjara!" pekiknya. Ia pun berlari meninggalkan Setu dan tubuh Salin yang kaku itu.
"Ibu! Setu jangan ditinggal dong."
Setu pun ikut berlari menyusul ibunya. Mereka berdua sangat ketakutan sekarang.
Salina menajamkan telinganya, ia kemudian memposisikan tubuhnya dengan normal setelah yakin ibu dan suaminya tak ada lagi disana.
Ya, Salin berpura-pura mati. Sungguh bagus sandiwara hari ini. Bisa diberi penghargaan karena memerankan berpura-pura mati bahkan menahan napas agar tak terasa oleh ibu dan suaminya itu.
Salin tersenyum tipis. Ia sudah mendapatkan apa yang dia mau. Ia pun berdiri lalu menutup pintu kamar berukuran kecil itu. Kemudian, mengambil kamera yang ia sembunyikan sedari tadi.
Aktingnya berhasil. ia mendapatkan bukti yang bisa membantunya untuk segera bebas dari lelaki seperti Setu Sandoro dan ibu mertua seperti ibu Sirlina.
"Gimana, non?" tanya si bibi dari depan pintu dengan suara pelan.
Salin buru-buru membuka pintu agar tak ketahuan kalau ternyata si bibi turut andil dalam membantu Salin. Ya, mereka berdua telah merencanakan ini matang - matang.
Sebenarnya kemarin, saat Salin pingsan si bibi tidak tega membiarkan Salin begitu saja. Ia membantu Salin agar sadar dari pingsannya. Nah usai Salin sadar, Salin langsung mengajak si bibi untuk bekerja sama.
Bahkan si bibi tak takut dipecat dari pekerjaannya kalau semisal ia ketahuan membantu Salin. Toh yang menggaji ia di rumah ini Salin.
"Bibi tenang aja. Nggak apa-apa bibi dipecat. Terserah mereka. Kan aku yang menggaji bibi selama ini. Nanti kalau rencana kita berhasil, bibi mengundurkan diri saja. Nanti bibi ikut sama saya saja. Kita keluar dari rumah ini, kita pindah ke tempat yang baru," ucap Salin.
Ia berusaha membujuk si bibi untuk melancarkan rencananya.
Si bibi pun mengangguk setuju. Sebagai wanita, sungguh ia tak terima Salin di perlakukan tidak adil di rumah ini. Tapi sebagai orang kecil, selama ini ia tak bisa bantu. Kadang ia bisa pun membantu saat kedua manusia itu tak ada di rumah atau sudah terlelap di tengah malam.
"Beres, bi," ucap Salin mengancingkan kedua jempolnya setelah ia mengecek hasil rekaman dari kamera tersembunyi itu.
"Selanjutnya gimana, nona?" tanya si bibi.
"Bantu aku untuk keluar dari rumah ini!"
"Baik, non."