
"Papa nggak mau lagi jauh dari anak-anak papa, ma. Karena selama ini papa sudah jauh dari mereka. Papa minta maaf ya, karena papa membuat keluarga kita jadi berantakan. Karena keegoisan papa, Ardan akhirnya pergi meninggalkan kita."
Papa Sande menangis sedalam ini, selarut ini. Untuk kedua kalinya ia meneteskan air matanya menyesali semua yang terjadi dalam hidup keluarganya.
Pertama sekali saat perginya Ardan. Pergi untuk selamanya meninggal dunia yang penuh dengan panggung sandiwara ini. Dimana saat Ardan meninggal, ia tak bisa untuk ikut serta mengantarkannya ke tempat terakhirnya. Tak bisa menatap wajah itu untuk hang terakhir kalinya walau sedetik pun.
Kali keduanya adalah sekarang. Tak ingin ia mengulangi kesalahan yang sama yang membuat keluarnya tercerai berai.
"Sudahlah, pa. Berhenti untuk menyalahkan diri sendiri. Ini semua mungkin sudah takdir, pa. Dan kita harus berdamai dengan keadaan ini. Kita harus menerima takdir hang sudah digariskan kepada kita. Tuhan lebih sayang kepada Ardan hingga Ia mengambilnya dari kita. Kita harus ikhlas, pa. Berhenti menyalahkan diri sendiri."
Mama Sefarina pun ikut menangis dengan keadaan suaminya. Sedalam itu penyesalan yang ia rasakan ternyata. Sebagai wanita yang sudah mendampingi papa Sande selama bertahun-tahun, tentu ia bisa merasakan apa yang dirasakan oleh papa Sande.
"Seandainya nanti Nia pamit pergi ke luar negeri, papa akan ikhlas. Kalau itu memang demi cita-citanya. Sebagai orang tua, tidak seharusnya kita membatasi pendidikan anak-anak. Aku yang bodoh waktu itu hanya mementingkan diri sendiri."
Kembali lagi papa Sande meratap. Menyalahkan dirinya atas apa yang terjadi kepada keluarganya.
"Sudahlah, pa. Berhenti putus asa. Papa mau melihat Salin dan Nia sedih karena papa sedih? Papa mau mereka murung lagi? Cukuplah, pa. Mama mohon."
Tadinya mama Sefarina yang sedih karena takut ditinggal oleh anak-anaknya. Dan sekarang papa Sande yang sedih karena menyesali perbuatannya selama ini. Merutuki kebodohan dan keegoisannya. Ia sadar, apa yang ia inginkan belum tentu yang terbaik untuk anak-anaknya.
Tiba-tiba keduanya dikejutkan oleh suara ketukan pintu dari luar.
"Siapa itu, pa?" tanya mama Sefarina. Perhatian mereka pun akhirnya teralihkan. Mama Sefarina bersyukur karena hal itu.
"Papa nggak tau. Mungkin Nia."
"Nia kan masih sekolah, pa. Nggak mungkinlah dia udah pulang."
"Ah, mama. Lihat tuh jama berapa sekarang. Jarum pendek sudah di pertengahan angka tiga dan empat. Sedangkan jarum panjang ada di angka enam. Itu artinya sudah setengah empat, ma. Waktunya Nia memang pulang dari sekolah," ucap papa Sande menjelaskan sekaligus mengingatkan.
"Sejak kapan mama udah pelupa gini?"
Ada rasa lega di hati mama Sefarina melihat papa Sande sudah bicara panjang lebar. Itu artinya ia telah kembali. Ratap tangis tadi sudah lenyap.
"Ya udah. Mama bukain pintu ya," ucap mama Sefarina sembari berdiri dari duduknya. Meninggalkan bibir tempat tidur yang menjadi tumpuannya dari tadi.
Papa Sande hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Nia? Kamu udah pulang?" tanya mama Sefarina usai ia membukakan pintu kamar itu.
"Kenapa, sayang? Kamu istirahat gih. Ini kan siang, waktunya untuk istirahat. Eh, kamu udah makan siang?"
"Udah, ma. Tadi sama Dennis di kantin sekolah. Nia ke sini mau ngomong sama papa dan mama."
"Ya, Tuhan. Sepertinya Nia akan pamit ke luar negeri. Kuat kan lah kami, Tuhan," batin mama Sefarina berdoa. Berharap yang terbaik untuk masa depan putri bungsunya itu.
Walau jarak memisahkan mereka, tapi jika memang untuk kebaikan dan masa depan anaknya, mereka harus kuat dan Ikhlas. Semangat dan tegar untuk menjalani hari-hari mereka kelak. Hingga apa yang mereka cita-citakan terwujud.
"Oh, ya udah masuk! Papa juga ada di dalam."
Mama Sefarina mempersilakan putrinya itu masuk ke dalam kamar mereka.
"Kayaknya nggak usah deh, ma. Di luar aja," ucap Stephania hati-hati. Ia merasa segan masuk ke dalam kamar papa dan mamanya. Dia merasa dirinya sudah besar. Dan kamar itu adalah privasi antara papa Sande dan mama Sefarina.
"Lho, kenapa?"
"Nggak apa-apa, ma. Lebih leluasa aja kalau di luar," ucap Stephania beralibi.
"Oh ya udah. Mama ajak papa dulu ya."
Stephania hanya mengangguk. Lalu ia berbalik dan menuju ke ruangan tamu.
Sementara mama Sefarina masuk lagi ke dalam kamar hendak memanggil sang suami, papa Sande.
"Siapa, ma?"
"Nia, pa."
"Nia kenapa? Kok wajah mama serius gitu? Kok kusut gitu?"
"Nia mau ngomong sama kita, pa. Dia menunggu kita di ruang tamu." Mama Sefarina menyampaikan pesan yang Stephania ucapkan tadi.
"Pasti ini tentang kuliah dia yang keluar negeri itu. Papa sangat yakin. Apalagi dia sudah lulus tes. Tinggal menunggu saja kita, ma," sahut papa Sande. Benar-benar sedih ia sekarang.
Pasangan suami istri itu pun berjalan beriringan menemui Stephania yang sedang duduk di sofa itu. Matanya memang menatap ke arah TV, tapi pandangannya kosong. Raganya sepertinya tidak di dalam tubuhnya sekarang.
Mereka pun langsung duduk, tepat di hadapan Stephania.
"Ini tuan minumnya." Si asisten rumah tangga langsung sigap menyuguhkan minuman di hadapan papa Sande. Berikut mama Sefarina lalu Stephania. Sebelumnya memang sudah dipesan oleh Stephania.
"Permisi, tuan, nyonya dan nona "
Sia asisten rumah tangga itu pun meninggalkan keluarga itu yang sepertinya sedang membicarakan hal serius. Ia takut dituduh menguping. Ia menunduk serta menurunkan tangan kanannya sebagai tanda hormat karen ia mau lewat.
"Kamu mau bicara apa, nak?" tanya mama Sefarina pada Stephania. Padahal ia sudah tau sebelumnya.