
"Lho, mayatnya mana? Kok nggak ada?"
Ibu dan anak itu seperti orang bodoh yang baru kehilangan satu yang sangat berharga.
"Setu, mana mayatnya?" tanya ibu Sirlina pada putranya.
"Mana Setu tau, Bu. Ibu kan tau kita bersama terus."
Mereka berdua terbengong. Tak habis pikir mereka dengan mayat yang tiba-tiba menghilang.
"Kamu yakin, nak Salin itu mati?"
"Maksud ibu?"
"Ya, kamu nggak salah lihat kan kemarin? Maksud ibu Salin itu beneran mati atau nggak sih?"
"Bener, Bu. Kan ibu ikut ngecek juga," ucap Setu mengingatkan ibunya.
"Iya ya. Pas ibu cek memang ia sudah meninggal. Tubuhnya dingin kayak mayat dan nggak ada nafas waktu ibu cek di lubang hidungnya."
"Sama, Bu. Setu juga ngecek beneran kok. Apa yang ibu lakukan ya sama. Aku juga gitu. Aku yakin 100 persen kalau Salin itu memang mati. Terus kalau ia mati, mayatnya kemana?"
"Apa jangan-jangan dia ..... "
"Nggak mati," sela ibu Sirlina.
"Syukurlah nggak jadi mati. Dan kita pun nggak akan masuk penjara."
"Ibu benar," sahut Setu. Mereka berdua merasa lega sekarang.
"Berarti ia melarikan diri lewat pintu belakang tadi, Bu."
"Melarikan diri? Mampus kita, nak "
"Mampus kenapa, Bu?"
"Kita akan dilaporkan ke polisi, nak. Dengan tuduhan penyiksaan dan perencanaan pembunuhan. Kita akan tetap dihukum, nak. Bagaimana ini?"
"Ibu tenang saja. Salin nggak mungkin ngaduin kita ke polisi, Bu. Aku yakin itu. Secara dia kan cinta banget sama aku. Mana mungkin ia tega menjebloskan aku ke dalam penjara. Ibu tau kan dia cinta mati ke aku?" ujar Setu dengan percaya diri.
"Kenapa kamu bisa se yakin itu?"
"Ya yakinlah, Bu. Buktinya nih ya, sudah sekian lama kita menyiksa dia secara lahir maupun batin. Tetapi ada nggak ibu lihat atau dengar kalau ia mengadu ke polisi? Jangankan ke polisi, ke orang tuanya saja ia tak pernah mengadu. Benarkan Bu?"
"Iya juga, ya." Ibu Sirlina setuju dengan kalimat panjang lebar dari sang putra.
"Ah, ibu lega. Salin nggak jadi mati dan kita pun nggak jadi masuk penjara," ucap ibu Sirlina lagi sambil tersenyum bahagia. Bagai seseorang yang baru saja memenangkan lotre.
"Se-senang itu ibu? Berarti sayang dong sama Salin?" tukas Setu.
"Apaan sih kamu? Ya jelas nggak lah. Ibu sayang sama diri ibu sendiri dan sama kamu. Coba kalau semisal kamu atau ibu yang dipenjara? Kasihan kan?"
Sementara di tempat lain. .
"Ini kak rumahnya. Kecilkan? Nantha takut kakak nggak suka," ucap Nantha hati-hati.
Nantha telah membuka pintu itu lebar-lebar hingga Salin dapat melihat sampai ke dalam.
"Boleh masuk?"
"Ya boleh dong, kak. Gimana sih? Kan kita mau survei."
Meski dalam hati Salin bertanya-tanya, kenapa Nantha langsung membawanya masuk ke dalam? Dan... mana pemilik rumah? Lalu, kenapa kunci rumah itu bisa ada di tangan Nantha? Tetapi Salin tetap melangkah kan kakinya, memasuki rumah itu.
Kelak, di waktu yang tepat ia akan bertanya kepada Nantha, pertanyaan yang mengganjal di dalam benaknya.
"Gimana? Suka?" tanya Nantha antusias. Ia mengedip-ngedipkan kedua kelopak matanya.
"Ini terlalu mewah, Tha. Dan juga terlalu besar. Takut nggak sanggup bayar nanti."
Kenapa ya sikap Nantha seperti berharap Salin memilih rumah ini? Ada apa sebenarnya? Apakah Nantha mengenal yang punya rumah ini?
"Suka sih, tapi ..."
"Ya udah. Kita telpon yang punya rumah. Bentar ya kak. Aku yang telpon, tapi kakak yang ngomong," tawar Nantha.
Meski ragu, tapi Salin menunduk lemah. Kenapa pula harus dia yang ngomong. Kalau Nantha kenal ya dia saja yang harusnya bicara. Kan sudah kenal.
Semakin Salin merasa ada yang janggal di sini. Sebenarnya, ada hubungan apa Nantha dengan yang punya rumah? Lagi dan lagi Salin hanya bisa menyimpan dulu untuk sementara pertanyaannya di dalam hatinya.
"Ha-hallo, pak."
"Iya, dengan siapa? Ada yang bisa saya bantu?"
"Sa-saya Salin, pak. Saya ingin bertanya mengenai rumah sewa bapak yang ada di Melati Residence nomor 17, pak. Saya ingin....."
"Oh, kamu mau nyewa disana? Boleh boleh. Dengan senang hati. Kapan rencana?"
Tuh kan, belum juga Salin bilang mau sewa, tapi sudah bisa ditebak oleh si pemilik suara di balik telpon itu yahh katanya si pemilik rumah itu.
"I-iya, pak. Kalau bisa secepatnya saya tempati."
"Boleh dong. Dengan senang hati "
"Mengenai harganya, pak?"
"Itu sih gampang. Sesuai kemampuan kamu," celetuk si pemilik rumah.
Sejak kapan rumah sewa dibayar sesuai kemampuan si penyewa? Ini kali pertama Salin tau ada aturan seperti itu. Karena setahunya, meski ia tidak pernah sewa rumah, si pemilik rumah sudah mematik harga. Tergantung teknis pembayarannya bagaimana.
"Baik kalau begitu, pak. Trimakasih."
Buru-buru Salin mengakhiri obrolannya. Ia memberi kode kepada Nantha untuk mematikan sambungan telponnya.
Tut
"Kenapa, kak? Jadi?" tanya Nantha antusias.
"Pengen sih, tapi agak aneh, Tha."
"Aneh gimana maksudnya kak?" Si Agnesrani Anantha Pradina mengerutkan dahinya.
"Kenapa pembayarannya sesuai dengan kemampuan si penyewa?"
"Oh, mengenai itu. Memang begitu di sini, kak. Kan semua rumah yang ada di sini dia yang punya. Dan patokan harganya pun tak ada. Mereka yang sewa di sini membayar sesuai yang mereka mampu," terang Nantha.
"Oh gitu."
Ya, setelah penyiksaan yang berkepanjangan terhadapnya, baik dari ibu mertuanya terlebih suaminya sendiri dan juga perselingkuhan bejat yang dilakukan oleh Setu, Salin memutuskan untuk mengakhiri segalanya. Termasuk keluar dari mansion itu segera.
Untungnya dia mengenal Agnesrani Anantha Pradina, yang tak sengaja mendengar kalau ia sedang mencari rumah sewa. Dan disinilah mereka sekarang. Salin merasa rumah itulah yang pas untuknya sekarang.
Selain karena jauh dari jangkauan Setu, lingkungan di rumah itu juga tidak terlalu ramai.
Berharap, setelah keluar dari mansion yang penuh dengan derita itu, ia akan memulai semuanya dari nol termasuk statusnya yang sebentar lagi akan menjadi janda. Ya, Salin akan menata hatinya, menata hidupnya agar lebih membahagiakan diri sendiri terlebih dahulu baru membahagiakan kerang lain, seperti kata Alister.
Untuk urusan mama, papa dan keluarganya, saat ini ia lebih memilih diam dulu. Kalau semisal ketahuan, nantilah ia pikirkan. Dan ia percaya bahwa kebohongan, perceraiannya suatu saat akan terkuak. Keluarganya akan tau. Namun ia memikirkan jawaban untuk itu nanti saja.
Saat ini yang paling utama adalah keluar dari mansion itu tanpa sepengetahuan Setu, suaminya dan ibu Sirlina selaku ibu mertuanya.
Pada awalnya Alister memberi ide pendapat, pandangan. Yang seharusnya keluar dari mansion itu adalah Setu dan ibunya. Bukan Salin si empunya mansion itu sendiri.
Salin pikir ulang. Kalau ia melakukan ide Alister, maka kondisi pernikahannya akan dengan cepat tercium oleh mama dan papanya.
"Salin, kamu harus kuat. Kamu harus tegar. Karena mulai saat ini, mulai detik ini, kamu memulainya sendiri. Hidup di rumah sendiri, menghidupi diri sendiri tanpa bergantung pada orang lain. Semangat!"
Salin menguatkan dirinya sendiri. Menyemangati dirinya sendiri. Berharap semua baik-baik saja. Berharap ada pelangi setelah badai derita yang ia terima selama ini.