
"Berapa bulan kata dokter?"
"Jalan empat bulan, mas."
"Kalau gitu sekarang kit ke dokter, yok! Apa pengen banget lihatnya. Udah nggak sabar ingin jadi papa."
"Ihh, nggak usah mas. Aku baru ke dokter semalam. Masa ke dokter terus. Baru juga ke dokter udah ke dokter lagi. Kan anak kita sehat. Dia baik-baik aja kok di dalam sini. Apalagi kalau dekat dengan papanya, dia senang banget."
"Baiklah. Sesuai keinginan mu."
Setu tersentak tiba-tiba dari ingatannya. Terkenang ia saat Weni memberi tahu tentang kandungannya beberapa hari yang lalu. Ada sesuatu yang mengganjal di hati Setu. Mengingat hubungannya dengan Weni baru memasuki bulan ke tiga. Belum genap malah tambah tiga bulan.
"Tunggu tunggu.... aku kan baru ..."
Terbayang ia masa-masa perkenalan dengan Weni. Kala itu usai pernikahannya mendekati tahun ke dua. Ia dipertemukan dengan seorang gadis cantik, seksi dengan body yang menarik perhatiannya.
Bertemu di sebuah club malam saat Setu ada di sana. Sedang dilanda masalah dengan perusahaan, belum lagi tak kunjung dikaruniai anak. Ditambah lagi tekanan dari ibunya untuk segera memberi ia cucu.
Terlalu banyak masalah dan tuntutan ini dan itu, membuat Setu mengalami stres yang berkepanjangan. Puncaknya sampai ia pergi ke club malam, tempat yang pertama kali ia kunjungi seumur hidupnya. Dan dipertemukan oleh gadis cantik, yang tak lain adalah Weni.
Akibat minum yang terlalu banyak, Setu akhirnya mabuk parah. Dan kebetulan kala itu hanya Weni lah perempuan yang menghampiri dirinya. Dalam pandangannya Weni sangat cantik. Bagaikan bidadari yang terlempar ke bumi.
Singkat cerita, mereka pun masuk ke dalam sebuah kamar. Tepatnya Weni yang membawa Setu ke dalam kamar itu. Karena memang Weni tak tau dimana Setu tinggal.
"Jangan tinggalkan aku, kumohon."
Begitulah Setu meracau. Ia bahkan menarik pergelangan tangan Weni yang baru saja membantunya berbaring di kasur empuk itu.
Hingga tubuh Weni terjatuh, tepat berada diatasnya.
Sesama manusia normal, berada di ruangan yang sama. Yang satu sadar dan yang lagi lagi berada di alam bawah sadarnya.
Weni memandang lekat wajah pria itu.
"Ganteng." Satu kata itu yang ia gumamkan.
"Sepertinya dia bukan orang sembarangan," gumamnya lagi.
Dan terjadilah sesuatu yang mungkin seharusnya terjadi atau yang tidak seharusnya terjadi.
Ternyata di alam bawah sadarnya pun, Setu bahkan menginginkan lebih. Ia tak ingin hanya sekedar pemanasan. Bahkan sesuatu yang di bawah sana pun meronta ingin di keluarkan.
Suara ah uh ah eh, menghiasai kamar minimalis itu. Kalah dengan suara televisi yang nyaris tak terdengar. Karena Weni yang mengecilkan volume televisi itu. Ia takut tadi Setu terganggu tidurnya.
"Aku udah nggak tahan. Boleh ya?" pinta Setu dengan suara parau. Pandangannya begitu sayu, memelas meminta dikasihani.
Melihat Weni tak ada reaksi apapun (dalam pemahaman Setu) segera ia menyerang Weni. Menindih tubuh wanita itu bringas. Sampai pada ia mencoba mencari sesuatu yang ia tunggu-tunggu, inti dari permainan ini.
Ia coba masukkan jarinya ke bagian belakang tubuh wanita itu. Ia merasa tangannya susah masuk, karena terlalu banyak pengaman yang menjaga harta itu.
"Apa ini?" batinnya bertanya. Di tengah malam begini, kesadarannya belum juga pilih. Walau ia masih bisa mengendalikan sedikit saja kesadaran yang ia miliki.
"Iya, sayang. Aku lagi mens."
Lemas sudah seketika saat ia mendengar wanita itu berkata lirih bahwa ia sedang kedatangan tamu. Cenat cenut sudah kepalanya karena tak bisa menuntaskan niatnya.
"Arrgh!" pekiknya kesal.
Tok tok tok
Lamunan Setu buyar saat ada yang mengetuk pintu ruangannya.
Dengan teratur si pengeruk pintu pun mundur perlahan. Tak mau ia diakui oleh macan satu itu. Berantakan hidupnya jika ia sampai mencari masalah dengan macan perusahaan itu.
Prang
Prang
Ia melempar gelas yang ada diatas mejanya. Juga mengobrak-abrik isi mejanya. Ia lempar semuanya hingga berserakan di lantai ruangan itu.
"Tidak! Itu bukan anakku. Dia menipuku! Kurang ajar!"
Setu memaki, mengumpat semaunya. Memuntahkan segala amarahnya. Mengutuk kebodohannya, karena terperdaya oleh seorang wanita seperti Weni.
"Tidak. Tidak. Aku menggaulinya belum masih dua bulan yang lalu. Tetapi, ia datang dan mengaku hamil? Dengan bangganya ia mengatakan kalau itu anakku? Kurang ajar! Beraninya dia."
Segala jenis nama binatang tersebutlah oleh Setu. Tak peduli ia apa yang ada di sekitarnya sekarang. Yang ia lakukan, hanyalah melampiaskan kemarahannya sekarang, kepada apa saja yang ia temui yang ada di dalam ruangannya itu.
****
Sementara di tempat lain.
"Aku serius, Lin. Dari awal aku melihatmu aku memang sudah tertarik padamu. Ingin sekali aku mengenalmu lebih dalam. Tapi pada saat itu aku takut."
Alister menghela nafasnya perlahan.
"Pertama sekali aku melihat mu di halte. Entah apa yang sedang kamu pikirkan hingga kamu nyaris saja ditabrak oleh sepeda motor. Cepat-cepat aku menolong mu, Lin. Dari situ aku merasa penasaran denganmu. Hingga aku mengikuti mu."
"Bahkan kekerasan yang dilakukan oleh suamimu aku lihat semuanya, Lin. Dan disitu aku geram, marah sekali. Tetapi kembali aku sadar, aku nggak berhak untuk itu."
Panjang lebar Alister mengungkapkan isi hatinya. Dan Salina, membisu, seolah lidah dan mulutnya kaku untuk berkata-kata.
"Bersedia kah engkau Lin, bila ku persunting? Mari, kita habiskan masa tua kita bersama."
Salin masih diam. Tak semudah itu bila ia langsung menerima ungkapan Alister. Mengingat ia baru saja bercerai dengan mantan suaminya. Ditambah lagi dengan rasa trauma yang ia miliki. Pernikahan yang selalu dihadiahi dengan kekerasan baik jiwa dan raga, membuat ia tak mudah melupakan itu semua.
Tak mudah pula ia membuka hati untuk lelaki lain. Pengalaman buruk mengakibatkan ia lebih menutup diri. Tak ingin membuka hati atau peluang untuk saat ini kepada orang lain.
Mungkin Salin bisa saja tak mau membuka hati. Tetapi dari bahasa tubuhnya, ia butuh sosok yang menerima ia apa adanya. Mencintai nya dengan tulus. Menjadikannya bak ratu. Tetapi, kembali ia tersadar, apakah ada manusia seperti itu?
Apakah ada pria yang mau menerima dia, dibalik statusnya sebagai janda? Apakah semua yang Alister ucapkan itu benar? Tidak kah itu hanya buaian semata?
"Trimakasih, Ter karena kamu sudah memilih aku tapi...."
"Jangan sekarang jawab, Lin. Pikirkan dulu. Nanti bila kamu sudah ada jawaban yang pasti, kabari aku. Aku akan menunggu sampai kapan pun kamu siap "
"Ter."
"Hmmm."
"Sebenarnya nanti atau sekarang nggak ada bedanya bagiku. Karena itu sama aja buatku. Jadi jawabanku nanti dengan sekarang adalah, maaf aku..."
Tak sanggup rasanya Alister menerima jawaban yang mengecewakan.
"Hmmm,maaf Lin. Aku harus pergi. Aku ada janji dengan temanku."
"Tapi, Ter."
"Nggak apa-apa. Pikirkan dulu matang-matang."