
"Papa, papa kenapa menangis?" tanya putri bungsunya yang baru saja membuka mata. Isakan halus dari mulut sang papa ternyata mampu membangunkan ia dari tidur lelapnya.
Buru-buru papa Sande menghapus air matanya karena telah ketahuan oleh putri bungsunya ia menangis. Berpura-pura kuat, berpura-pura keras selama ini di hadapan putrinya dan hari ini terbongkar lah kalau itu hanya untuk menutupi kalau ia adalah ayah yang rapuh, ayah yang telah gagal menjadi seorang ayah bagi semua anaknya dan seorang suami bagi istrinya.
"Pa-pa-pa ti-tidak me-na-ngis." Sungguh ia berusaha untuk menjelaskan kepada putrinya kalau ia tidak menangis. Tetapi air mata itu sudah cukup menjadi bukti bahwa ia memang menangis. Dan Stephania bukanlah gadis kecil yang polos yang akan percaya begitu saja saat sang papa berbohong padanya.
"Papa, Nia udah dewasa. Papa nggak usah pura-pura lagi. Nia tau kalau papa menangis. Sekarang papa bisa cerita ke Nia, kenapa papa menangis."
"Papa tidak menangis, papa hanya kelilipan. Di ruangan ini banyak debu jadi papa...."
"Pa, ruangan ini bersih dari debu atau apapun. Papa lupa ini rumah sakit? Mana ada rumah sakit jorok, kalau ada pasti udah tutup. Mereka yang menganjurkan kita menjaga kebersihan masa mereka malah yang menjaga kejorokan. Bisa runtuh dunia, pa pa. Sudah Nia bilang, Nia itu bukan anak kecil yang gampang papa kibulin."
"Nah, sekarang papa cerita. Kenapa papa menangis. Bentar bentar, aku ambilkan minum untuk papa."
Gadis itu sangat bersemangat mengambil air minum untuk papanya. Setalah ia yuang air minum itu ke dalam gelas, tak lupa ia masukkan juga sedotan baru ke dalam gelas itu. Lalu ia naikkan sedikit ranjang agar papa Sande bisa minum dengan leluasa.
"Ayo, pa di minum. Ini harus habis," ucapnya bawel melebihi emak-emak yang mengomeli anaknya karena tidak mau makan.
Papa Sande pun menurut saja bak anak kecil yang menuruti ibunya. Ia teguk minuman itu perlahan hingga habis tak bersisa.
"Kamu, saja saja dengan mamamu. Suka mengomel," ujar papa Sande dengan patah-patah akibat ia mengalami stroke ringan.
"Ya iyalah, pa. Buah itu nggak pernah jauh jatuh dari pohonnya. Kalau dia jatuh jauh berarti ada membawanya dan menjualnya ke pasar."
Mendengar celotehan putrinya, papa Sande tertawa lepas dan riang. Tawa yang nyaris hilang akhir-akhir ini. Meski ia stroke, mulutnya sedikit miring, tapi dari raut wajahnya sungguh bisa dibaca dengan jelas bila ia memang bahagia sekarang. Berdamai dengan putri bungsunya.
Sementara di balik pintu, mama Sefarina dan Salin memperhatikan semua apa yang terjadi di dalam sana. Mereka berdua sampai meneteskan air mata karena terharu.
Mereka berdua saling menatap dan tak lama kemudian, masuk ke dalam kamar itu. Tentunya setelah mereka menghapus air mata mereka.
"Papa udah bangun?" tanya Salin tiba-tiba. Sontak, Stephania dan papa Sande menoleh menatap dua wanita cantik beda generasi itu.
"Nia, kamu mandi dulu gih! Udah bau kamu, berhari-hari nggak mandi," ujar mama Sefarina, menggoda putri bungsunya.
"Mama kenapa buka kartu?" ucapnya, cemberut.
Semuanya tertawa dengan tingkah lucu Stephania. Juga papa Sande.
"Kok malu sih? Kan nggak ada siapa-siapa di sini. Hanya ada papa, kakak kamu dan mama."
"Iya, nih. Dennis kan nggak ada." Salin menimpali ucapan mama Sefarina.
"Ih, mama sama kakak jahat. Pa, lihat mereka. Kerjasama ejekin Nia," adunya pada papa Sande dengan bibir yang sudah mengerucut sembari kakinya menghentak di lantai.
"Ma, Salin, maafin papa ya," ucap papa Sande, mengakhiri keceriaan mereka seketika.
Gara-gara papa keluarga kita jadi tercerai berai." Menetes sudah bening yang sudah menumpuk sedari tadi di dalam kelopak mata papa Sande.
Tak mau suaminya semakin memburuk, mama Sefarina langsung menyela. Lebih baik ia fokus sekarang pada kesehatan papa Sande dari pada ingin mendengar permintaan maaf suaminya itu. Nanti bisa dibicarakan bila papa Sande telah sembuh. Begitu pikirnya.
"Sudahlah, pa. Tak usah dibahas. Sekarang yang paling penting adalah papa sehat, ikuti terus apa kata dokter agar papa segera pulang. Dan keluarga kita berkumpul kembali," ucapnya sambil tersenyum. Senyum getir yang tak bisa ia ungkapkan.
Kehilangan anak laki-lakinya, Ardan yang meski bukan lahir dari rahimnya sendiri, cukup membuat ia terpuruk, sesak di dada tak mampu ia ukirkan dengan kata-kata. Berat memang ia mengucapakan kalimat itu, tapi ia harus sanggup. Demi kebaikan papa Sande.
Ya, sekarang, Salin sudah kembali ke kediaman papa Sande. Ia sudah mengemas barangnya dan juga barang mama Sefarina dan Stephania. Niatnya untuk berkumpul kembali dengan keluarganya sudah bulat. Sebagai seorang putri, yang sangat mencintai orang tuanya, ia juga ingin merawat papanya. Untuk kebahagiaannya nanti saja ia pikirkan. Toh masih panjang waktu.
.
Di tengah keharuan itu, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu dari luar. Tak berapa lama kemudian muncullah seroang pria dengan pakaian kasualnya. Berjalan mendekat pada keluarga itu.
"Apa kabar, om? Sudah lebih sehat kah?" tanya lelaki tampan itu lembut. Tak lupa senyumnya ia mekarkan untuk memberi kesan yang baik menjenguk orang yang sedang sakit.
"Kamu? Kenapa kamu bisa ada di sini?" tanya Salin, menekankan pada kalimatnya tetapi menggigit giginya, agar suaranya tidak didengar oleh papa Sande maupun yang lainnya.
Alister malah main mata dengan Salin. Ia mengedipkan matanya satu kepada wanita itu. Membuat pipi Salin merona merah.
"Ini om saya bawakan oleh-oleh buat om. Semoga om segera sembuh dan keluar dari sini dengan cepat," ucap Alister tulus.
"Ka...."
"Sudahlah, om. Nggak usah dijawab. Cukup om istirahat dengan benar, minum obat yang teratur dan mengikuti perkataan dokter. Maka om akan segera sembuh. Itu sudah cukup membuat saya bahagia," timpal Alister lagi.
"Pandai juga ini kurang bersilat lidah. Tapi... tunggu tunggu, tidak ada kebohongan disana. Dia ikhlas mendoakan papa sembuh. Dia benar-benar jatuh hati dengan kak Salin," ucap Stephania di hati. Sedari tadi ia tak berhenti menatap Alister, calon kakak iparnya itu. Ia telah mendoktrinnya itu di dalam hatinya.
"Lihat tuh kak Salin, digituin aja udah merah pipinya, kayak tomat. Dasar bucin. Pasangan yang unik dan serasi." Stephania juga menatap Salin. Ia menatap kedua sejoli itu dengan bergantian.
"Salah, kalau aku menjenguk calon papa mertuanya?" bisik Alister tepat di telinga Salin.
Semakin memerah pula itu pipi Salin dirayu oleh Alister seperti itu.
"Siapa yang mau menikah denganmu? Kapan aku setuju?" ucap Salin, berusaha menutupi kegugupannya dan rasa groginya.
"Sejak saat ini," timpal Alister dengan berbisik pula.