
Salin tak ingin keluarga kecilnya hancur hanya karena Setu jarang menyentuhnya. Hanya karena Setu jarang mengajaknya bersetubuh. Tidak lucu kan alasan bercerai karena sang suami tidak mau bersetubuh dengan istrinya?
"Kenapa kamu marah?" tanya Setu heran. Ia mengernyitkan dahinya.
"Bukan namaku yang kamu sebutkan, mas."
"Bukan namaku yang racaukan saat kamu menikmati tubuhku, mas. Bukan aku yang kamu pikirkan. Bukan aku yang kamu bayangkan. Orang lain, mas. Orang lain."
"Tubuhku yang kamu tindih, tapi bukan namaku yang terpatri dalam suaramu," ucapnya luruh.
Pecah sudah tangis yang dari tadi ia tahan. Padahal air matanya sedari tadi sudah menganak sungai, menumpuk di dalam sana.
"Siapa dia, mas? Siapa?"
Kini, bukan Setu lagi yang marah tapi Salin. Kini bukan Setu lagi yang suaranya memekik tapi Salin. Bukan Setu lagi yang suaranya menggelegar di tengah malam ini, tapi Salin istrinya.
"Apa maksudmu?" tanya Setu bingung.
"Nama siapa?" tanyanya lagi.
"Aku nggak pernah meracau saat kita bercinta. Lalu kenapa kau tiba-tiba ungkit soal nama?"
Salin diam. Ia memutar ingatannya dulu saat bermesraan dengan Setu. Memadu kasih di malam yang penuh kenangan. Ya, benar. Tak pernah Setu meracau saat mereka sedang bergulat. Hanya *******, lenguhan kenikmatan yang teringat dalam benak Salin. Benar apa kata suaminya.
"Ya, dulu memang tidak pernah. Tapi tidak untuk sekarang." Salin menegaskan sekali lagi.
"Kamu pasti mengarang cerita kan supaya kamu bisa menghindar dari saya?"
"Harusnya kamu yang jadi bahan pertanyaan, kenapa tak mau saya sentuh? Apakah ada laki-laki lain yang sudah menggerayangi tubuhmu?"
Deg
Sembarangan sekali bibir itu mengucap seperti itu pada Salin. Bukankah seharusnya Salin yang mempertanyakan itu? Kenapa malah dia yang mencecar Salin? Edan memang.
"Kenapa kamu memutar balikkan fakta, mas? Kenapa?" cecar Salin. Ia tak terima dituduh yang bukan-bukan. Seperti wanita murahan suaminya itu menyebut dirinya. Istri mana yang terima? Tentu tidak akan ada.
"Alah, pasti bos kamu itu kan yang sudah menjamah tubuh mu? Kenapa? Lebih enak rasanya? Lebih nikmat kalau dia yang menggoyang?"
Begitu entengnya Setu mengucapkan kalimat itu. Seolah istrinya benar-benar wanita gampangan.
Plak
Sudah. Reflek sudah tangan mungil nan halus itu menampar wajah suaminya. Yang sedari tadi ia tahan dengan mengepal tangannya. Hal yang paling ia benci selama ini adalah melawan suaminya. Hal yang paling benci adalah membalas kekerasan suaminya.
Akan tetapi Salin perempuan biasa, manusia biasa. Punya hati dan punya perasaan. Punya amarah, punya tawa. Akan marah bila ia dihina.
Yang membuatnya tak terima adalah bukan orang lain yang menghinanya, tetapi suaminya sendiri. Orang yang sudah dia ikrarkan janji di hadapan sang khalik bahwa dialah selamanya sampai maut memisahkan.
"Kamu menampar saya? Sudah berani kamu ya!" ucap Setu geram. Ia tarik paksa tangan Salin, ia geret ia ke dalam kamar mandi.
"Rasakan ini!" ujarnya.
Dihidupkannya shower yang dingin sekali. Ia guyur tubuh istrinya itu dengan tak berperasaan. Tak sampai disitu, melihat Salin yang melakukan perlawanan, membuat emosinya malah bertambah.
Bahkan serang shower itu ia hantamkan ke tubuh Salin. Rasanya Setu sudah kerasukan setan. Tak hanya mengguyur, menyakiti tubuh Salin, ia pun membenturkan kepala perempuan itu pada tembok dan kloset di kamar mandi itu.
Entahlah. Bahkan tak terukir dengan kata-kata kekejaman yang dilakukan pria itu untuk perempuannya. Tak ia pedulikan wanita itu. Meski ia sudah lemah dan tak berdaya.
Tak puas sampai disitu, Setu malah keluar dari kamar mandi itu dengan meninggalkan sang istri. Tak peduli ia dengan istrinya yang sudah lemah, menggigil kedinginan.
Ia hempaskan pintu itu dengan sekuat tenaga hingga membuat penghuni lain di rumah itu terjaga dari tidur lelap mereka.
Tengah malam memang waktu yang paling lelap dan nikmat saat tidur. Tapi harus terganggu karena suara kuat dari hempasan pintu tadi.
"Duh, suara ribut dari mana sih?" sungut wanita paruh baya itu. Ia kesal karena tidurnya terganggu.
"Tau orang lagi enak-enak tidur malah diganggu. Dasar. Nggak bisa apa melihat orang senang," gerutunya.
Dengan langkah malas ia menyalakan lampu, berjalan keluar dari kamarnya. Hingga ia mendengar suara ribut yang berasal dari kamar Setu dan Salin.
Penasaran, wanita itupun hendak masuk ke dalam kamar anaknya. Kamera itu gelap. Tapi jelas ia bisa mendengar suara itu.
"Setu .." panggilnya dengan suara pelan. Ia hidupkan lampu kamar.
"Setu, ada apa ini? Kenapa ribut di tengah malam begini?" tanyanya pada Setu yang sedang duduk di lantai kamar itu. Ia belum menyadari kalau Setu tak berkain.
"Mana pakaianmu?" pekiknya. Baru jam sadar setelah lampu di kamar itu terang benderang.
Dengan langkah cepat ia mencari sesuatu yang bisa menutupi tubuh anaknya itu. Belum pernah ia melihat Setu seperti ini setalah ia dewasa.
"Ada apa, nak?" tanyanya lembut.
***
"Ihh, mas Setu Sandoro kemana sih? Kenapa nggak angkat telpon ku coba," gerutu seorang gadis di dalam kamarnya.
Sedari tadi ia uring-uringan karena tak mendapat kabar dari sang kekasih.
Padahal mereka sudah janjian, akan makan malam bareng dan Setu akan menginap di apartemennya. Tetapi hingga tengah malam begini, belum ada kelihatan bau tubuhnya sekalipun.
Sambil ngomel-ngomel, ia tetap mencoba menghubungi Setu lewat ponselnya. Tetapi hingga saat ini belum ia dapatkan kabar tentang kekasih hatinya itu.
"Mending telepon Joni aja deh," ucapnya lagi. Mencari sosok lain untuk mengisi kekosongannya, untuk mengobati kekecewaannya.