Please, Love Me Husband

Please, Love Me Husband
Chapter 85. Ulang Tahun Oma



"Kamu cantik banget hari ini," puji Alister pada Salin malam itu.


"Persis seperti bidadari yang dikirimkan Tuhan untukku. Menjadi ibu dari anak-anakku kelak," timpalnya lagi. Tak lupa ia menyematkan senyumnya yang begitu manis di hadapan Salin. Yang sampai saat ini mereka belum terikat hubungan apapun. Baik sebagai kekasih, atau sebagai calon istri dari Alister.


"Ehmmmm Ehmmmm ehmmmm," ucap Nantha menggoda kedua sejoli itu.


"Receh banget gombalan mu, kak?" ejek Nantha kepada kakaknya itu. "Pantes kak Salin nggak mau."


"Hus hus sana. Anak kecil nggak boleh ikut campur urusan orang dewasa," sela Alister.


"Kecil kecil. Jangan panggil aku anak kecil, kak. Kakak belum tau, anak kecil juga bisa membuat anak kecil," sahut Nantha, membalas gurauan sang kakak.


"Hentikan obrolan un-faedah kalian. Lihat tuh siapa yang datang!" sela tuan Aaron tiba-tiba.


Reflek, Salin, Nantha dan Alister melihat ke arah yang ditunjuk oleh tuan Aaron. Sama dengan mereka berempat, yang lainnya juga terpelongo dengan kedatangan seorang wanita berpenampilan cantik dan seksi malam ini.


Seolah memberitahu kepada semua orang, bahwa dialah ratu malam ini. Ratu yang sedang merayakan ulang tahunnya. Beberapa diantara mereka menuju kecantikan wanita itu, terkhusus para lelaki.


"Cih!" Nantha berdecih sebal. "Menjijikkan," umpatnya kemudian.


Bagaimana bisa wanita itu hadir di acara penting keluarga seperti ini. Dan.... siapa yang mengundangnya? Begitulah tanya yang ada di dalam benak Nantha saat ini.


Ya, di acara hari ulang tahun oma, tiba-tiba datang seorang wanita yang mencoba mengusik kemeriahan pesta itu.


"Hai, oma. Apa kabar? Becca kangen banget sama oma. Oma sehatkan? Oh ya, selamat ulang tahun ya oma. Ini, Becca bawakan kado ulang tahun untuk oma. Khusus Becca bawa dari Korea Selatan. Becca yakin oma pasti senang."


Wanita itu, memeluk oma, mencium pipi kiri dan kanan oma anpa rasa kaku, tanpa rasa sungkan. Seolah dirinya ingin membuktikan bahwa ia, adalah anggota keluarga dari oma yang sedang berulang tahun.


"Wah, cucu oma cantik banget ya."


"Iya, mirip Lusinda Luna," sahut yang lainnya.


"Tapi kayaknya itu bukan cucu oma deh. Yang kutau itu, oma hanya ada dua cucu. Tuan Alister dan nona Agnesrani. Apa mungkin itu calon istri dari tuan Alister? Atau tuan Aaron kali ya?"


"Kayaknya nggak mungkin deh itu calon istri dari tuan Aaron."


"Lho, kenapa nggak mungkin? Sok tau kamu."


"Ya iyalah. Kalau dia calon istrinya tuan Aaron, seharusnya dia panggil mama. Bukan oma," ucap undangan yang berjenis kelamin perempuan itu. "Semuanya tadi dengar kan kalau ia memanggil oma. Jadi, sudah pasti wanita itu adalah calon istri dari tuan Alister."


"Kalau itu calon istrinya tuan Alister, lalu bagaimana dengan nona Salina Xavier? Bukankah selama ini mereka begitu akrab?" sela salah seorang wanita yang lainnya. Mereka masih tamu undangan dari keluarga tuan Aaron.


"Oma baik. Trimakasih atas hadiahnya nona Rebecca. Trimakasih juga telah datang jauh-jauh dari Korea Selatan ke sini meski pun tidak saya undang," ucap oma dengan lembut di telinga Rebecca. Saat mereka berpelukan dan cipika cipiki tadi. Tetapi kalimatnya sungguh menusuk bagi orang yang mendengarnya.


Sayangnya oma mengucapkannya dengan pelan, hingga hanya Rebecca yang mendengar. Tentu dalam kalimat itu terdapat juga nada penekanan. Menandakan bahwa oma tidak menginginkan kehadiran Rebecca di sini. Mengusik hari ulang tahunnya, sama seperti ia dulu menghancurkan pesta pernikahan Alister, keluarga besar tuan Aaron. Dan dia sendiri lah calon mempelai wanita itu.


Dan sekarang ia hadir tanpa rasa bersalah sedikitpun. Menganggap mereka semua, keluarga oma memperlakukan dia seperti dulu, sebelum tragedi pesta pernikahan itu terjadi.


"Oma, Becca minta maaf. Becca bisa jelaskan mengapa Becca tidak datang hari itu. Karena saat itu Becca....."


"Saya tidak butuh penjelasan. Yang saya butuhkan sekarang adalah menyingkir dari hadapan saya. Karena saya tidak ingin anda membuat onar dalam pesta saya."


"Serly..." Oma memanggil pelayannya yang selalu setia berada di sampingnya.


"Iya, oma," sahut Serly cepat.


"Lakukan apa yang seharusnya kamu lakukan!"


"Baik, oma."


Serly menjauh dari samping oma, lalu mengambil box hadiah pemberian Rebecca tadi. Ia membawanya keluar dari keramaian pesta. Sementara kado yang lainnya sudah tersusun rapi, berjejer di tengah-tengah kerumunan pesta itu, di tengah ruangan.


"Heh, pelayan!" pekik Rebecca. "Mau kau bawa kemana hadiahku? Itu kan untuk oma, kenapa kamu malah bawa pergi?"


Rebecca kesal dengan tingkah Serly, pelayan oma tersebut.


"Kembalikan!" titahnya dengan kuat. Tetapi si Serly itu, menulikan telinganya. Ia hanya akan tunduk kepada orang yang sudah ia layani selam puluhan tahun itu.


Rebecca mencoba mengejar pelayan tersebut, tapi buru-buru di cegah oleh opa. Ia sampai mencekal pergelangan tangan Rebecca agar tak bisa mengejar Serly.


"Nona, seharusnya anda sudah tau makna dari semua ini," ucap opa. Hanya itu yang ia ucapkan. Tak ada yang lain.


Tak mendapat respon yang baik dari oma dan opa dari Alister, bahkan dari Nantha juga. Yang dengan terang-terangan menolak kerasa kehadiran Rebecca di acara itu Rebecca pun memutar otak. Mencoba cara jitu lainnya. Karena jurus jitunya kali ini sungguh tak mempan kepada orang tua itu.