Please, Love Me Husband

Please, Love Me Husband
Chapter 51. POV Alister



Sore itu, aku memutuskan untuk melihat wanita pujaan hatiku. Aku ingin tahu bagaimana kabarnya bagaimana. Rasanya sudah lama sekali aku tak melihatnya. Meski setiap ada waktu luang, aku selalu berusaha melihatnya tanpa ia tau.


Aku memutuskan untuk pergi menemuinya. Setelah aku selesai beres-beres tentunya. Aku sudah mandi, sudah wangi. Aku menggunakan setelan pakaian yang rapi. Aku ingin memberikan kesan terbaik untuk wanita yang ku puja.


Sesampainya aku di sana, aku melihat ada sebuah mobil warna hitam yang berhenti tepat di depan rumahnya. Mobilnya tepat berada di depan mobilku. Dan ternyata wanita yang aku puja itu ada di dalam mobil itu.


Aku mengamati mereka dari dalam mobilku. Lalu aku melihat seorang laki-laki keluar dari dalam mobil tersebut. Aku melihat dia mengitari mobil itu lalu membuka pintu mobil di samping kemudi. Kemudian keluarlah seorang wanita cantik yang ternyata pujaan hatiku.


Aku melihat mereka begitu mesra. Laki-laki itu merangkulnya dengan sayang. Memperlakukan ia dengan lembut. Sepertinya mereka sudah saling kenal bahkan bukan hanya kenal mereka sudah sangat dekat.


Aku amati mereka yang berjalan memasuki rumah itu. Hatiku merasa teriris. Aku merasa cemburu. Entah kenapa aku merasa cemburu. Apakah aku sudah merasakan cinta kepada Salin? Atau apakah aku yang sudah mulai tergila-gila kepadanya? Tapi sejak kapan aku mulai tergoda lagi kepada wanita?


Apakah benar kalau aku memang cemburu? Lalu Tak lama kemudian, mereka berdua pun keluar kembali dari dalam rumah itu. Dan aku menunggu mereka dengan sendiri dalam mobilku. Kupandangi mereka berdua satu persatu. Mereka sepertinya terlibat obrolan serius dan aku tak tahu apa yang mereka bahas.


Dan betapa bodohnya aku, saat aku hanya menunggu di dalam mobil. Aku tak ingin keluar. Aku tak ingin ketahuan oleh Salin atau lelaki itu Seolah-olah aku sedang memergoki kekasihku yang sedang selingkuh dengan yang pria lain.


Apa? Kekasih? Kenapa aku merasa kalau Salin kekasihku?


Tanpa aba-aba, mataku langsung tertuju pada mereka yang saling berpelukan. Hatiku semakin sakit.


Begini sakit kah rasanya cinta? Sementara orang yang kita cintai tak tau. Baru juga aku merasakan cinta kembali, tetapi kenapa sudah harus sakit lagi. Mungkinkah takdirku hanya sebatas ini? Mencintai tapi tak berhak memiliki.


"Bye, kak."


"Bye, Lin."


Alister mendengar dengan jelas kedua insan itu saling berpamitan. Seolah mereka enggan untuk berpisah. Dengan jelas ia melihat Salin melambai pada pria itu. Dan begitu sebaliknya, pria itu juga melambai padanya.


Sampai Salin mengikuti pria itu ke mobil ia lihat dengan matanya sendiri. Bahkan candaan dari Salin dapat ia tangkap.


Bahkan sampai mobil itu menjauh, Salin baru masuk ke dalam rumahnya. Seolah Salin berat sekali rasanya berpisah dengan pria itu.


Siapa pria itu? Ada hubungan apa mereka? Kenapa mereka begitu intim? Apa pria itu kekasih Salin? Tapi kenapa secepat itu Salin mendapatkan pengganti Setu? Begitulah yang ada dalam benak Alister sekarang.


"Kenapa, Lin. Saat kamu bersama aku, kamu nggak pernah sebahagia ini? Kamu nggak pernah tersenyum semanis itu? Apakah aku tak bisa membuat tersenyum seperti itu? Atau memang aku tak pantas, tak berhak membuatmu tersenyum?"


Alister bermonolog dalam hati.


Dengan marah bercampur sakit hati, Alister meninggalkan lokasi itu. Setelah melihat Salin sudah masuk kembali ke dalam rumah. Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Bersaing dengan mobil yang ada di jalan raya setelah ia melewati lorong tersebut.


****


Sementara di tempat lain.


"Bu, ini masakan apa sih? Kok rasanya kayak gini?"


Dengan percaya dirinya ibu Sirlina memuji masakannya. Masakan pertama setelah ia kehilangan menantunya. Dan juga masakan pertama setelah Setu menikah dengan Salin. Dan sekarang, ia telah kehilangan menantu yang bisa ia andalkan untuk memasak. Yang selalu memanjakan lidah nya dengan berbagai jenis masakan setiap harinya.


"Spaghetti bolognese apaan ini? Warnanya gelap dan hambar. Nggak nyaman di lidah sama sekali. Ahh, ibu gimana sih? Aku udah capek kerja, nyari uang, disambut dengan masakan gosong kayak gini," gerutu Setu.


"Mana ada gosong. Ini namanya kelamaan di masak. Sengaja memang, biar berwarna. Jadi nggak perlu dengan kecap," ucap ibu Sirlina membela diri.


"Bilang aja kamu rindu masakan Salin, iya kan?"


Deg


Merasa tersentil Setu dengan ucapan ibunya. Benar, masakan Salin tak ada tandingannya. Setu mengakui itu di dalam hatinya. Dan sekarang.... Salin sudah tak ada. Otomatis, mereka kewalahan. Jangankan memasak, pekerjaan rumah saja sering gak beres oleh ibu Sirlina.


Tetapi Salin, tanpa mengeluh bisa melakukan itu semua sendirian. Tak pernah protes. Pulang-pulang Setu dari kerjaan, rumah sudah dalam keadaan bersih, harum. Makanan sudah tersaji di meja. Beragam lagi.


"Aaah, sudahlah. Nggak ada guna berdebat dengan ibu. Aku mau makan di luar," ujar Setu. Ia berdiri, menggeser kursinya dengan kasar lalu meninggalkan ibu Sirlina.


"Tapi, nak kalau kamu makan di luar, uang kita akan semakin menipis. Kita harus hemat, nak. Gaji kamu saja...."


Belum selesai ibu Sirlina dengan ocehannya, Setu sudah pergi jauh. Punggungnya sudah kelihatan di pintu.


Brakk


Dengan kasar ia menutup pintu. Suara pintu itu pun terdengar sangat nyaring. Memekakkan telinga.


Sementara ibu Sirlina, ia menatap nanar piring Setu yang masih tersisa banyak makanan.


"Penasaran, gimana sih rasanya?" gumamnya bertanya. Ia pun mengambil garpu lalu mencicipi spaghetti bolognese yang ada di depannya.


Weakk


Weakk


"Kok rasanya gini amat? Kok nggak ada garamnya? Kok nggak ada pedasnya? Tadi kan aku buat cabe dua biji. Garam juga aku taruh sejumput. Ah, ini pasti salah kuali nya. Mungkin di sedotnya semua bumbu yang aku tuang tadi. Besok aku tanya ah sama penjual kuali nya. Aku kasih dia pelajaran, biar tau rasa."


"Enak saja dia ngerjain saya. Tunggu kau. Besok aku akan datangi toko mu," gerutu ibu Sirlina.


"Aku kan udah melakukan sesuai tutorial yang di yuyup. Nggak mungkinlah salah. Dasar kualinya yang nggak bagus. Atau mungkin apinya? Tapi kan ini kompor sudah lama. Apa mungkin karena sudah lama, jadi kekuatan apinya melemah? Mungkin aku bisa meminta Setu nanti supaya beli kompor yang baru."


Asyik sendiri ibu Sirlina bermonolog. Menyalahkan benda atau orang lain atas hal yang ia lakukan sendiri.


Di luaran sana, sering terjadi hal seperti itu. Menyalahkan orang lain, padahal dia sendiri yang berbuat. Sementara kesalahannya sendiri, tidak ia tau. Dan tidak mau tau. Bahkan di protes pun ia tak akan terima.