Please, Love Me Husband

Please, Love Me Husband
Chapter 67. Saya Ikhlas



"Papa kenapa sih? Selalu sesuka hati terhadap orang lain?" ucap Ardan pagi itu.


Sedari kemarin tadi Ardan sudah menahan. Ia ingin protes terhadap papa Sande. Tetapi ia masih menghargai nama baik sang papa.


Dan sekarang lah waktunya ia menyampaikan argumen, menyampaikan protes kalau ia tidak terima sang papa menjodohkan dia dengan wanita yang ia tidak suka. Bahkan tak ia kenal sama sekali.


"Maksud kamu apa Ardan?"


"Papa nggak usah pura-pura nggak tau. Sebenarnya papa hidup di jaman apa sih? Lahir di jaman purba? Masih jaman yang namanya jodoh menjodohkan? Hah? Papa kira Ardan barang, pa?"


Ardan meluapkan semuanya. Tak kuasa lagi ia menahan perbuatan sang papa. Selama ini, Ardan sudah mencoba menahan. Karena masih menghargai papanya sebagai orang tuanya. Tapi tidak untuk sekarang. Ia ingin membuka pikiran sang papa. Agar lebih terbuka, modern dan menghargai keputusan orang lain.


"Kenapa kamu sekarang jadi melawan papa? Mau jadi anak durhaka kamu?" sergah papa Sande.


Ardan menunduk. Ia terdiam dengan ucapan papa Sande.


"Papa melakukan semua ini demi kebaikan mu, nak. Papa kenal dekat dengan orang tua gadis itu. Orang tuanya sangat baik. Sudah pasti ia mendidik anaknya dengan baik pula. Papa nggak mau kamu nantinya menikah dengan orang yang nggak jelas asal-usulnya!" tegas papa Sande.


Ada nada aneh dalam kalimat papa Sande. Kenapa ia menekankan suaranya pada kata nggak jelas? Apa maksudnya?


"Maksud papa apa? Siapa yang nggak jelas?" tanya Ardan. Ia menatap papa Sande penuh selidik. Satu hal yang ia curigai. Apa papanya juga tau dengan siapa Ardan sekarang dekat?


"Papa yakin kamu tau. Tapi sudahlah, papa nggak mau bahas itu. Yang papa inginkan adalah kamu harus menikah dengan Natasha."


"Kenapa bukan papa saja yang menikahi gadis itu? Kenapa harus Ardan? Kan papa yang lebih tau segalanya. Bukan Ardan."


"Ardan ...!"


Plak


Tamparan keras itu pun melayang dengan sangat sempurna. Tepat mengenai wajah Ardan.


"Ratusan bahkan ribuan kali pun papa menampar Ardan, keputusan Ardan sudah bulat. Ardan tidak akan pernah mau menuruti papa untuk menikah dengan gadis pilihan papa." Ardan menegaskan kata-katanya dengan geram. Giginya gemeletuk menahan amarah.


Jangan sampai ia membalas tamparan yang diberikan papanya kepadanya. Ardan manusia biasa. Yang suatu saat bisa lepas kendali dan mungkin saja bisa menyerang balik papa Sande.


Dengan membawa amarah, ia melangkahkan kakinya meninggalkan papa Sande.


Sementara papa Sande terpaku dengan apa yang baru saja ia lakukan. Seumur hidup Ardan, baru kali ini ia menampar putranya itu. Putra yang selalu ia banggakan. Putra yang selalu ia junjung tinggi, yang akan mewarisi nama besarnya kelak saat ia tua dan sudah tak ada di dunia ini.


Papa Sande menatap tangannya yang baru saja menampar Ardan dengan nanar. Ia menyesal. Sangat menyesal. Bahkan air matanya sampai jatuh tanpa ia sadari. Tak ada rintihan atau isakan yang keluar tapi hanya air mata itu jatuh tanpa disengaja.


Untuk pertama kalinya pula, anak yang ia impikan akan meneruskan namanya melawan terhadap dirinya. Melawan terhadap keputusannya.


****


Sementara di rumah kontrakan Salin.


"Nak Alister, boleh tante bicara sama kamu?" tanya mama Sefarina kepada Alister yang saat itu sedang singgah di rumah Salin saat ia baru saja mengantar Salin pulang.


Terbongkarnya identitas Alister dan naiknya jabatan Salin, membuat mereka kerap kali jalan bersama. Baik mengikuti rapat di dalam kantor, di luar kantor saat bertemu klien. Ya, meski Salin adalah manajer keuangan, tetapi Alister selalu punya cara agar Salin tetap ikut kemana saja ia pergi yang berhubungan dengan perusahaan.


"Boleh, tante," sahut Alister sopan.


"Kita bicara di luar!" titah mama Sefarina.


"Maaf bila tante lancang. Tapi karena Salin adalah putri tante, jadi tante harus bertanya. Tante nggak mau Salin terluka lagi. Jadi tolong, jawab dengan jujur."


"Baik, tante," jawab Alister sembari menundukkan kepalanya. Ia sudah mengerti kemana arah pembicaraan ini.


"Kamu sebenarnya serius ingin menjalin hubungan dengan putri tante? Kalau kamu niatnya hanya ingin main-main, sebaiknya mulai dari sekarang, jauhi dia. Bagi tante dia sangatlah berharga."


"Saya serius tante. Saya tidak main-main. Saya tau ketakutan tante. Saya tau kecemasan yang tante rasakan. Tetapi tante tenang saja. Saya janji, saya akan membuatnya bahagia. Tak akan saya biarkan ia meneteskan air matanya."


"Hiks hiks hiks." Mama Sefarina menangis tergugu.


"Kamu tidak tau seberapa menderitanya dia, nak. Hiks hiks hiks. Ini semua salah tante. Seandainya tante nggak ikut mendukung pernikahan mereka waktu itu, mungkin semua ini tidak akan terjadi."


"Saya tau, tante. Saya tau semuanya."


Mama Sefarina langsung menatap Alister dengan teliti.


"Maksud kamu, nak?"


"Iya, tante. Saya tau semuanya. Saya melihat semua kekejaman yang dilakukan mantan suaminya kepadanya. Dan juga mantan ibu mertuanya. Mereka sudah memperlakukan Salin dengan tidak baik selama ini, tante."


"Da-dari mana kamu tau, nak?"


Tentu mama Sefarina heran dengan ucapan Alister. Yang ia tau, Salin baru saja kenal dengan Alister. Tetapi kenapa Alister bisa tau semua tentang Salin? Ada hubungan apa sebenarnya mereka?


"Begini tante......."


Alister pun menceritakan semuanya. Awal ia bertemu Salin sampai ia akhirnya kenal dengan Salin. Juga Salin yang sudah bekerja di perusahaan keluarganya dan sampai tentang rumah yang mereka huni sekarang. Tak ada satupun yang ditutupi Alister.


"Maaf, tante. Saya sudah lancang. Mengikuti semua perjalanan Salin selama beberapa bulan ini. Bisa dibilang hampir setengah tahun saya selalu ada diantaranya. Memperhatikan dia, menjaganya dalam diam. Bahkan...."


Alister menghentikan ucapannya.


"Bahkan apa, nak?" tanya mama Sefarina penasaran.


"Sekali lagi maaf tante. Saya yang membantu Salin hingga akhirnya bebas dari perbuatan mantan suaminya itu. Awalnya Salin menolak, tante. Dengan alasan ingin mempertahankan rumah tangganya agar tante tidak sampai terluka dengan perceraiannya. Tetapi waktu itu..... kejadian yang tak manusiawi itu pun terjadi."


Alister melanjutkan kembali ceritanya. Perbuatan keji Setu yang memperlakukan Salin bak hewan. Ia ceritakan semuanya. Tetapi sebisa mungkin, Alister menggunakan bahasa yang sangat sederhana agar mama Sefarina tidak shock.


Alister sudah tau riwayat penyakit jantung mama Sefarina. Oleh karena itu ia sangat berhati-hati bicara. Jangan sampai penyakit jantung mama Sefarina kambuh.


"Trimakasih, nak. Hiks hiks hiks."


Lagi dan lagi, mama Sefarina menangis tersedu. Ia menggenggam erat tangan Alister.


"Trimakasih atas kebaikanmu selama ini kepada anak saya. Saya nggak tau, dengan cara apa saya membalas kebaikan kamu, nak."


"Trimakasih sudah mengembalikan Salin ku. Trimakasih sudah mengembalikan tawanya. Dan trimakasih telah menghapus luka di hatinya, nak."


"Tante sebagai mamanya, tak bisa berbuat apa-apa selama ini. Tapi kamu yang bukan siapa-siapa, malah perduli dan mau melepaskan Salin dari belenggu neraka itu."


"Saya ikhlas tante. Meski hingga sekarang ini Salin masih menolak ku."